Oleh : Reva Andini*)
Di era yang penuh dengan dinamika dan persaingan ketat ini, anak muda sebagai agen perubahan menghadapi tantangan sekaligus peluang besar dalam membangun masa depan.
Banyak di antara mereka yang memiliki semangat tinggi dan cita-cita besar, namun terkadang merasa bingung untuk menemukan arah yang tepat dalam karir maupun mengoptimalkan potensi yang ada pada diri mereka sendiri.
Fenomena ini tidak hanya berdampak pada perkembangan karir, tetapi juga pada kesejahteraan pribadi, karena ketidakpastian arah bisa menimbulkan rasa khawatir dan kurangnya fokus dalam menjalani hidup.
Tanpa landasan pemahaman diri yang kuat, upaya membangun karir bisa saja hanya mengikuti arus atau memenuhi harapan orang lain, bukan sesuai dengan passion dan kemampuan diri sendiri.
Sebaliknya, ketika anak muda berhasil menemukan jati diri mereka, setiap tantangan yang dihadapi akan menjadi peluang untuk tumbuh, dan setiap pencapaian akan memberikan kepuasan yang mendalam.
Menurut penulis di era digital yang penuh perubahan ini, anak muda menghadapi tantangan ganda: menemukan identitas diri yang otentik sambil merencanakan masa depan karier yang berkelanjutan.
Pencarian jati diri ini tidak hanya tentang mengetahui minat dan bakat, tetapi juga tentang memahami nilai-nilai dan kontribusi yang ingin diberikan kepada masyarakat. Proses ini seringkali terjalin dengan upaya membangun karier, di mana setiap langkah menjadi peluang untuk eksplorasi dan pertumbuhan.
Berikut saya akan memaparkan beberapa contoh anak muda Indonesia yang telah berhasil menggabungkan pencarian jati diri dengan pembangunan karier:
1. Raditya Dika, Penulis dan Pengusaha: Dari penulis blog yang dikenal dengan humor, Raditya menemukan jati dirinya sebagai pendorong kreativitas dan kewirausahaan muda.
Ia mendirikan rumah penerbitan Gagas Media dan produksi film, membuka peluang bagi seniman muda untuk mengekspresikan diri. Kariernya mencerminkan bagaimana pencarian jati diri melalui seni dapat berkembang menjadi ekosistem yang memberdayakan orang lain (sumber: Tempo.co).
2. M. Imam Muddin, Aktivis dan Peneliti: Imam menemukan jati dirinya sebagai pemimpin muda yang menggabungkan nilai-nilai Islam, teknologi, dan kepedulian sosial.
Ia mendirikan komunitas “Duri City Education Ambassador” untuk meningkatkan akses pendidikan di daerahnya dan mengembangkan penelitian tentang integrasi kecerdasan buatan (AI) dalam psikologi Islam. Kariernya meliputi aktivisme sosial, penelitian, dan diplomasi pemuda, yang semuanya terarah pada pembangunan masa depan yang lebih baik bagi generasi muda.
3. Gita Wirjawan, Pengusaha dan Tokoh Muda: Sebagai mantan Menteri BUMN, Gita menemukan jati dirinya sebagai pembangun ekosistem ekonomi kreatif dan penggerak pendidikan.
Ia mendirikan Indonesia Mengglobal untuk mengajak anak muda berpartisipasi dalam persaingan global dan Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) Trisakti untuk meningkatkan kualitas pendidikan ekonomi (sumber: Kompas.com).
4. Nadya Hutagalung, Aktivis dan Pembawa Acara: Nadya menemukan jati dirinya sebagai pelopor kesadaran lingkungan di Indonesia. Selain karier di industri hiburan, ia mendirikan Greenology Indonesia untuk mempromosikan gaya hidup berkelanjutan dan mengajak masyarakat, terutama muda, untuk terlibat dalam konservasi alam (sumber: CNN Indonesia).
Dari beberapa kasus yang saya paparkan di atas dapat kita lihat bahwa dengan menemukan identitas diri yang otentik, mereka dapat membangun karier yang tidak hanya sukses secara materi tetapi juga memberikan dampak positif bagi masyarakat.
Menurut penulis perjalanan mencari jati diri dan membangun karier ini bagi anak muda saling mendukung: identitas yang asli jadi arah, sedangkan upaya kerja jadi dasar untuk mewujudkan nilai dan kontribusi.
Di zaman yang penuh tantangan dan kesempatan, identitas asli membimbing mereka agar lebih terarah, dan mereka akhirnya bisa menyatukan keduanya tidak hanya sukses secara pribadi, tapi juga membawa manfaat bagi orang-orang di sekitar.
Di zaman digital yang selalu berubah ini, anak-anak harus menemukan jati diri mereka yangsesungguhnya dan membangun karier yang bertahan lama, kedua hal ini saling membantu.Mencari jati diri bukan hanya tentang mengetahui minat dan kemampuan, tapi juga memahami nilai-nilai dan keinginan untuk membantu masyarakat.
Setiap langkah dalam karier menjadi kesempatan untuk belajar dan tumbuh.
Contoh Raditya Dika, M. Imam Muddin, Gita Wirjawan, dan Nadya Hutagalung menunjukkan bahwa dengan berakar pada identitas yang asli, mereka sukses secara materi dan memberikan manfaat positif.
Jadi, pencarian jati diri ini menjadi arah hidup, sedangkan upaya dalam karier jadi dasar untuk membangun masa depan, pribadi yang berarti dan berkontribusi bagi orang banyak. []
Mahasiswa Prodi Ilmu Al Qur’an dan Tafsir STAI PIQ Sumatera Barat*)
