Oleh : Rolando Aufa Dzakhwan*)
Perkembangan teknologi digital dan media sosial telah membawa perubahan besar dalam cara manusia berinteraksi dan memaknai kehidupan. Generasi digital kini hidup dalam arus informasi yang cepat dan tanpa henti, di mana berbagai aktivitas, pencapaian, dan gaya hidup orang lain dapat diakses hanya melalui layar gawai.
Kondisi ini melahirkan fenomena Fear of Missing Out (FOMO), yaitu perasaan takut tertinggal dari pengalaman, tren, atau momen yang dianggap penting oleh lingkungan sosial.
FOMO tidak hanya memengaruhi perilaku individu dalam menggunakan media sosial, tetapi juga berdampak signifikan terhadap kesehatan mental. Dorongan untuk terus terhubung, membandingkan diri dengan orang lain, serta keinginan mendapatkan validasi sosial sering kali memicu kecemasan, stres, hingga menurunnya rasa percaya diri.
Bagi generasi digital, yang sebagian besar kehidupannya terintegrasi dengan dunia maya, FOMO menjadi tantangan psikologis yang semakin sulit dihindari. Oleh karena itu, penting untuk memahami bagaimana FOMO berkembang dan sejauh mana pengaruhnya terhadap kesehatan mentalgenerasi digital.
Dengan pemahaman yang tepat, individu diharapkan mampu lebih bijak dalam menyikapi tekanan sosial di era digital serta menjaga keseimbangan antara kehidupan daring dan kesejahteraan psikologis.
Selain itu, FOMO sering kali membuat individu mengabaikan kebutuhan diri sendiri demi mengikuti standar sosial yang terbentuk di dunia digital. Ketergantungan berlebihan pada media sosial dapat mengganggu pola tidur, menurunkan konsentrasi, serta mengurangi kualitas interaksi sosial secara langsung.
Jika dibiarkan, kondisi ini berpotensi memperburuk kesehatan mental dan membentuk pola perilaku yang tidak sehat. Oleh sebab itu, kesadaran akan bahaya FOMO serta upaya pencegahan dan pengelolaannya menjadi hal yang sangat penting bagi generasi digital di tengah derasnya arus teknologi dan informasi.
Fenomena FOMO berkembang seiring dengan meningkatnya penggunaan media sosial yang menampilkan kehidupan orang lain secara instan dan terus-menerus. Platform digital memungkinkan individu melihat berbagai aktivitas menarik, pencapaian akademik maupun karier, hingga gaya hidup yang tampak ideal.
Paparan ini sering kali menciptakan persepsi bahwa orang lain selalu menjalani kehidupan yang lebih baik, lebih bahagia, dan lebih sukses. Akibatnya, individu merasa tertinggal dan terdorong untuk terus mengikuti apa yang sedang tren, meskipun tidak selalu sesuai dengan kebutuhan atau kemampuannya.
Media sosial menjadi pemicu utama FOMO karena sistem algoritma yang dirancang untuk mempertahankan perhatian pengguna. Fitur notifikasi, unggahan waktu nyata, dan konten yang dipersonalisasi membuat individu sulit melepaskan diri dari dunia digital.
Ketika seseorang tidak aktif atau tertinggal informasi, muncul perasaan cemas dan khawatir kehilangan momen penting. Kondisi ini secara perlahan membentuk ketergantungan psikologis terhadap media sosial.
Dampak FOMO terhadap kesehatan mental cukup beragam. Salah satu dampak paling nyata adalah meningkatnya kecemasan. Individu merasa harus selalu terhubung agar tetap relevan dengan lingkungannya.
Selain itu, kebiasaan membandingkan diri dengan orang lain dapat menurunkan rasa percaya diri dan memicu perasaan tidak puas terhadap diri sendiri.
Dalam jangka panjang, tekanan ini dapat berkembang menjadi stres berkepanjangan bahkan depresi. FOMO juga berpengaruh terhadap kualitas hidup sehari-hari. Banyak individu yang mengorbankan waktu istirahat demi mengikuti aktivitas di dunia
digital. Pola tidur menjadi tidak teratur, konsentrasi menurun, dan emosi menjadi lebih mudah tidak stabil. Di sisi lain, hubungan sosial secara langsung sering kali terabaikan karena fokus lebih tertuju pada
interaksi virtual daripada interaksi nyata yang lebih bermakna.
Selain dampak psikologis, FOMO turut memengaruhi perilaku konsumtif generasi digital. Keinginan untuk mengikuti tren mendorong individu membeli barang atau menjalani gaya hidup tertentu hanya demi
pengakuan sosial.
Hal ini dapat menimbulkan tekanan finansial dan kelelahan emosional,karena individu terus berusaha memenuhi ekspektasi sosial yang sebenarnya bersifat semu.
Meski demikian, FOMO bukanlah fenomena yang tidak dapat dikendalikan. Kesadaran diri menjadi kunci utama dalam mengelola dampaknya. Memahami bahwa media sosial hanya menampilkan sebagian kecil dari realitas kehidupan dapat membantu individu mengurangi kebiasaan membandingkan diri secara berlebihan.
Selain itu, membatasi waktu penggunaan media sosial dan meluangkan waktu untuk aktivitas di dunia nyata dapatmeningkatkan kesejahteraan mental.
Penguatan nilai diri, rasa syukur, serta dukungan dari lingkungan sekitar juga berperan penting dalam menghadapi tekanan FOMO. Dengan membangun hubungan yang sehat dengan teknologi, generasi digital dapat memanfaatkan media sosial secara bijak tanpa mengorbankan kesehatan mental.
FOMO merupakan fenomena yang tidak terpisahkan dari kehidupan generasi digital di era teknologi modern. Keberadaan media sosial dan kemajuan teknologi informasi telah mengubah cara individu berinteraksi, membangun identitas diri, serta memaknai keberhasilan dan kebahagiaan.
Dalam konteks ini, FOMO muncul sebagai respons psikologis terhadap derasnya arus informasi dan tekanan sosial yang terbentuk di ruang digital. Apabila tidak disadari dan dikelola dengan baik, FOMO dapat memberikan dampak yang serius terhadap kesehatan mental, seperti meningkatnya kecemasan, stres, menurunnya kepercayaan diri, hingga gangguan kualitas hidup secara keseluruhan.
Meskipun demikian, FOMO bukanlah kondisi yang sepenuhnya tidak dapat dikendalikan. Kesadaran individu terhadap batasan diri, kemampuan untuk memilah informasi, serta pemahaman bahwa realitas di media sosial tidak selalu mencerminkan kehidupan yang sebenarnya menjadi langkah awal dalam mengurangi dampak negatif FOMO.
Generasi digital perlu membangun sikap bijak dalam menggunakan teknologi, termasuk membatasi waktu penggunaan media sosial dan tidak menjadikan validasi digital sebagai tolok ukur utama nilai diri. Selain peran individu, dukungan dari lingkungan sekitar juga sangat penting.
Keluarga, institusi pendidikan, dan masyarakat memiliki tanggung jawab dalam menanamkan literasi digital dan kesadaran akan kesehatan mental sejak dini. Dengan adanya edukasi yang tepat, generasi digital diharapkan mampu menciptakan hubungan yang lebih sehat dengan teknologi serta menjaga keseimbangan antara kehidupan daring dan kehidupan nyata.
Dengan pengelolaan yang tepat, kemajuan teknologi seharusnya dapat menjadi sarana pendukung kualitas hidup, bukan sumber tekanan psikologis. Generasi digital perlu menjadikan teknologi sebagai alat untuk berkembang, berkreasi, dan terhubung secara positif, tanpa harus terjebak dalam rasa takut tertinggal yang justru merugikan kesejahteraan mental mereka. []
Mahasiswa Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir (IQT) STAI-PIQ Sumatera Barat*)
