Oleh: Mhd Saukhani Hasibuan*)
Lingkungan hidup merupakan sistem kompleks yang terdiri atas interaksi antara manusia, makhluk hidup lain, dan komponen fisik seperti air, tanah, dan udara. Selama ribuan tahun, manusia bergantung pada stabilitas lingkungan untuk memenuhi kebutuhan dasar seperti pangan, air bersih, tempat tinggal, serta berbagai sumber daya alam yang menopang kehidupan.
Namun, memasuki era modern, terutama setelah revolusi industri dan perkembangan teknologi yang pesat, tekanan terhadap lingkungan meningkat secara drastis. Perubahan pola produksi, konsumsi, dan gaya hidup global telah mendorong aktivitas manusia berada pada tingkat yang jauh melampaui kapasitas alam untuk memulihkan diri.
Pada skala global, berbagai tanda kerusakan lingkungan semakin terlihat: kenaikan suhu bumi, meningkatnya frekuensi bencana alam, mencairnya es di kutub, hilangnya keanekaragaman hayati, dan pencemaran laut oleh limbah plastik yang mencapai jutaan ton setiap tahun.
Fenomena-fenomena ini tidak hanya berdampak pada kualitas lingkungan, tetapi juga mengancam stabilitas ekonomi dunia, kesehatan masyarakat, hingga keamanan pangan.
Para ilmuwan berpendapat bahwa bumi sedang memasuki “antroposean”, yaitu masa di mana aktivitas manusia menjadi faktor utama yang menentukan kondisi ekosistem planet ini.
Di tingkat nasional, termasuk Indonesia, tantangan lingkungan juga sangat kompleks. Indonesia memiliki kekayaan alam yang melimpah, mulai dari hutan tropis terbesar ketiga di dunia, keanekaragaman hayati yang tinggi, hingga sumber daya laut yang luas.
Namun, berbagai permasalahan seperti deforestasi, kebakaran hutan, pencemaran sungai, degradasi tanah, dan penumpukan sampah kota menunjukkan bahwa pengelolaan lingkungan masih menghadapi banyak hambatan.
Selain itu, pertumbuhan penduduk yang terus meningkat, urbanisasi, dan pembangunan infrastruktur turut memberikan tekanan tambahan terhadap lingkungan.
Di sisi lain, kesadaran masyarakat tentang pentingnya menjaga lingkungan mulai tumbuh, meskipun belum merata. Berbagai gerakan lingkungan, seperti kampanye pengurangan plastik, kegiatan penanaman pohon, hingga program bank sampah, menunjukkan bahwa masyarakat memiliki potensi besar dalam proses pelestarian.
Namun, upaya masyarakat perlu didukung oleh kebijakan pemerintah yang kuat, teknologi yang tepat guna, serta komitmen global untuk menciptakan pembangunan yang berkelanjutan.
Dengan demikian, isu lingkungan tidak dapat dipandang sebagai permasalahan sekelompok orang atau satu negara saja. Masalah lingkungan merupakan persoalan bersama yang membutuhkan kerja sama dari seluruh lapisan masyarakat, pemerintah, dunia industri, hingga komunitas internasional.
Pendekatan yang bersifat menyeluruh, terencana, dan berkelanjutan diperlukan untuk memastikan bahwa bumi tetap menjadi tempat yang layak huni bagi generasi sekarang dan generasi yang akan datang. Oleh karena itu, pembahasan tentang penyebab, dampak, dan solusi pelestarian lingkungan menjadi sangat penting dilakukan agar tercipta ketahanan lingkungan jangka panjang.
1. Pentingnya Peningkatan Kesadaran Pelestarian Lingkungan
Pelestarian lingkungan hidup merupakan suatu keharusan bagi keberlangsungan hidup manusia dan makhluk hidup lainnya. Lingkungan yang sehat dan lestari memberikan berbagai manfaat, mulai dari ketersediaan sumber daya alam, kesehatan manusia, hingga stabilitas iklim global.
Namun, aktivitas manusia yang tidak bertanggung jawab telah menyebabkan penurunan kualitas lingkungan yang signifikan. Oleh karena itu, peningkatan kesadaran masyarakat dalam pelestarian lingkungan sangatlah penting.
Lingkungan yang baik merupakan karunia Tuhan Yang Maha Esa bagi kehidupan manusia. Allah SWT telah menciptakan alam semesta dengan segala isinya untuk memenuhi kebutuhan manusia. Namun, manusia seringkali mengeksploitasi sumber daya alam secara berlebihan tanpa mempertimbangkan dampaknya terhadap lingkungan. Hal ini menyebabkan kerusakan lingkungan yang merugikan manusia sendiri. (Dr.Emil Salim:2021)
Peningkatan kesadaran akan pentingnya pelestarian lingkungan dapat dilakukan melalui berbagai cara, seperti pendidikan lingkungan, sosialisasi, kampanye, dan penegakan hukum. Pendidikan lingkungan sejak dini sangat penting untuk menanamkan nilai-nilai pelestarian lingkungan pada generasi muda.
Sosialisasi dan kampanye dapat meningkatkan pemahaman masyarakat tentang isu lingkungan dan mendorong partisipasi aktif dalam upaya pelestarian lingkungan.
Adapun beberapa implementasi yang dapat diterapkan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat dalam pelestarian lingkungan antara lain:
a. Melakukan Pembinaan Kepada Masyarakat Desa
Masyarakat diberikan pembinaan agar mereka berkembang dan meningkatkan kualitas hidupnya untuk selalu menjaga kelestarian lingkungan. Pembinaan masyarakat desa merupakan proses yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas hidup dan kesejahteraan masyarakat di wilayah pedesaan.
Proses ini melibatkan berbagai pihak, mulai dari pemerintah, lembaga swadaya masyarakat, hingga individu yang peduli terhadap kemajuan desa. Pembinaan dapat dilakukan melalui berbagai metode, seperti pelatihan, penyuluhan, pendampingan, dan pemberian bantuan. Tujuan utama pembinaan adalah untuk memberdayakan masyarakat desa agar mampu mengelola sumber daya alam dan manusia secara optimal, mengembangkan potensi ekonomi dan sosial budaya, serta meningkatkan partisipasi masyarakat dalam pembangunan desa.
Pembinaan yang efektif harus memperhatikan kebutuhan dan karakteristik masyarakat desa, serta melibatkan mereka secara aktif dalam setiap tahap proses. Dengan demikian, pembinaan dapat menjadi katalisator perubahan menuju desa yang maju, mandiri, dan sejahtera.
b. Membuat Jadwal Rutin Pelestarian Lingkungan (Bakti Sosial)
Membuat jadwal rutin pelestarian lingkungan melalui kegiatan bakti sosial bertujuan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya menjaga lingkungan, serta mendorong keterlibatan komunitas dalam upaya tersebut.
Dengan adanya jadwal, kegiatan dapat terorganisir dengan baik, memudahkan pengelolaan sumber daya, dan memungkinkan monitoring serta evaluasi hasil dari kegiatan yang dilakukan. Selain itu, kegiatan rutin ini membantu membangun kebiasaan baik dalam menjaga lingkungan, sehingga berdampak positif bagi kualitas lingkungan dan menciptakan kesadaran kolektif untuk pelestarian alam yang lebih berkelanjutan.
Implementasi yang diterapkan untuk meningkatkan kesadaran dan partisipasi masyarakat desa patowonua dalam pelestarian lingkungan yaitu dengan menyelenggarakan program-program yang dapat menumbuhkan kesadaran akan pentingnya menjaga lingkungan.
Program ini dapat berupa pertemuan rutin, pelatihan, atau kampanye edukasi yang melibatkan seluruh anggota masyarakat, baik pedagang maupun pengelola desa, untuk saling mengingatkan dan mendukung satu sama lain dalam menjaga kelestarian lingkungan dan menjalin silaturahmi.
Tujuannya adalah untuk menciptakan rasa tanggung jawab bersama dalam upaya pelestarian lingkungan di Desa Patowonua.
Dengan menerapkan implementasi tersebut secara terpadu dan berkelanjutan, diharapkan kesadaran masyarakat dalam pelestarian lingkungan dapat meningkat, sehingga tercipta lingkungan yang sehat dan lestari untuk generasi sekarang dan mendatang.
2. Dampak Penurunan Kualitas Lingkungan Pada Kesejahteraan Masyarakat
Penurunan kualitas lingkungan merupakan isu global yang memiliki dampak signifikan terhadap kesejahteraan masyarakat.
Pencemaran udara, air, dan tanah, serta kerusakan ekosistem, mengancam kesehatan manusia, mengganggu mata pencaharian, dan memperburuk kesenjangan sosial ekonomi. (Prof. Dr. Budi Hidayat: 2022) Adapun dampak penurunan kualitas lingkungan pada kesejahteraan masyarakat yaitu:
a. Kesehatan
1) Penyakit pernapasan
Pencemaran udara, terutama dari emisi kendaraan bermotor dan industri, menyebabkan peningkatan kasus penyakit pernapasan seperti asma, bronkitis, dan pneumonia. Partikel halus (PM2.5) yang terdapat di udara tercemar dapat masuk ke dalam aliran darah dan menyebabkan berbagai masalah kesehatan, termasuk penyakit jantung dan stroke.
2) Penyakit diare
Pencemaran air minum dan sumber air lainnya oleh limbah domestik dan industri menyebabkan penyakit diare, terutama pada anak-anak. Air yang tercemar juga dapat menjadi vektor penyakit lain seperti kolera dan tifus.
b. Mata Pencaharian
1) Kerusakan pertanian
Pencemaran tanah dan air dapat mengurangi produktivitas pertanian, menyebabkan gagal panen, dan menurunkan pendapatan petani. Perubahan iklim yang disebabkan oleh kerusakan lingkungan juga dapat mengganggu siklus tanam dan panen.
2) Kerusakan pariwisata
Pencemaran lingkungan dan kerusakan ekosistem dapat mengurangi daya tarik destinasi wisata, menyebabkan penurunan pendapatan sektor pariwisata.
c. Akses terhadap Sumber Daya
1) Kelangkaan air bersih
Pencemaran air dan perubahan iklim dapat menyebabkan kelangkaan air bersih, terutama di daerah kering dan semi kering.
2) Kerusakan infrastruktur
Bencana alam yang disebabkan oleh perubahan iklim, seperti banjir dan kekeringan, dapat merusak infrastruktur dan mengganggu akses terhadap layanan dasar.
Perbandingan hasil penelitian dan penelitian terdahulu peneliti mengambil dua sampel penelitian terdahulu untuk membandingkan penelitian saat ini dan penelitian yang pertama dari Reynaldy Pangestu Susanto dan Nasirudin Al Alhsani (2023) hasil penelitian menyatakan bahwa peningkatan kesadaran masyarakat melalui sosialisasi dan pembangunan infrastruktur pendukung dapat efektif dalam menciptakan lingkungan yang lebih bersih dan sehat.
Sedangkan penelitian yang dilakukan oleh Essy Anesta Asdami, dkk (2024) hasil penelitian menunjukan bahwa Dengan memperkuat etika lingkungan melalui pendidikan dan advokasi, kita dapat meningkatkan kesadaran masyarakat dan mendorong tindakan yang lebih bertanggung jawab terhadap lingkungan
Lingkungan merupakan fondasi utama keberlangsungan hidup di bumi. Kerusakan lingkungan yang semakin meningkat tidak hanya berdampak pada aspek ekologis, tetapi juga sosial, ekonomi, kesehatan, dan politik.
Oleh karena itu, pelestarian lingkungan harus dilakukan secara komprehensif melalui kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, dunia usaha, lembaga internasional, dan komunitas global.
Pendidikan, teknologi, kebijakan berkelanjutan, serta perubahan gaya hidup menjadi faktor kunci untuk menyelamatkan bumi. Dengan upaya bersama, lingkungan dapat dipertahankan dan diwariskan kepada generasi mendatang dalam kondisi yang lebih baik.
Dunia membutuhkan kepedulian kolektif untuk mewujudkan bumi yang sehat, lestari, dan berkelanjutan. []
Mahasiswa STAI PIQ Sumatera Barat*)




