FPS-PTBI Hadir di Tengah Lumpur, Dosen Tata Boga Salurkan Bantuan untuk Korban Banjir Bandang

Dosen Tata Boga FPP Universitas Negeri Padang, Prof. Dr. Elida, M.Pd. meyalurkan bantuan Forum Program Studi Pendidikan Tata Boga Indonesia (FPS-PTBI) di untuk wilayah Sumbar, Tabiang Banda Gadang, Kecamatan Nanggalo, Padang. (Foto istimewa)

LUMPUR masih melekat di lantai-lantai rumah warga Tabiang Banda Gadang, Kecamatan Nanggalo, Padang. Warnanya kecokelatan, baunya belum sepenuhnya pergi. Di sudut-sudut rumah, jejak banjir bandang yang terjadi akhir November 2025 lalu masih tampak jelas, seolah mengingatkan bahwa bencana itu belum sepenuhnya berlalu.

Bahkan, sebagian rumah belum bisa dihuni. Lumpur terlalu tebal untuk sekadar dibersihkan dengan sapu dan air. Bahkan rumah berlantai dua pun tak luput. Lantai bawah tertimbun lumpur cukup tinggi, memaksa penghuninya bertahan di lantai dua, hidup dalam keterbatasan ruang dan rasa waswas.

Bagi warga yang rumahnya sama sekali tak memungkinkan untuk ditempati, pilihan pahit harus diambil, pindah sementara ke Rusunawa Lubuk Buaya, meninggalkan rumah yang dulu menjadi pusat kehidupan keluarga.

Di tengah kondisi itu, pada Senin (12/1/2026), hadir seberkas empati dari dunia yang mungkin tak pernah dibayangkan sebagian warga sebelumnya, dari para dosen Tata Boga se-Indonesia.

Forum Program Studi Pendidikan Tata Boga Indonesia (FPS-PTBI), yang beranggotakan para akademisi Tata Boga dari berbagai perguruan tinggi di Tanah Air, menyalurkan bantuan peduli bencana kepada para korban banjir.

Forum ini diketuai oleh Prof. Dr. Lutfiah Baskoro, M.Pd., dosen Universitas Negeri Surabaya (UNESA), yang percaya bahwa keilmuan bukan hanya untuk ruang kelas, tetapi juga untuk kemanusiaan.

Bantuan diserahkan langsung kepada keluarga terdampak di Kelurahan Tabiang Banda Gadang. Tak sekadar paket bantuan, kehadiran mereka membawa pesan sederhana namun mendalam, para korban tidak sendiri.

“Ketika dapur masyarakat lumpuh oleh bencana, maka dapur akademik harus hadir,” ujar salah seorang relawan dengan senyum lirih, sembari membantu menurunkan paket bantuan.

FPS-PTBI menyalurkan bantuan untuk tiga provinsi yang terdampak bencana, yakni Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Untuk wilayah Sumbar, penyaluran diwakili oleh salah satu pengurus FPS-PTBI, dosen Tata Boga FPP Universitas Negeri Padang, Prof. Dr. Elida, M.Pd.

Bagi Prof. Elida, bantuan ini bukan semata soal logistik, tetapi soal rasa. “Kami datang membawa kepedulian. Kami ingin para warga tahu, dari Aceh sampai Sumatera Barat, ada doa dan empati yang mengalir untuk mereka,” tuturnya.

Di wajah para ibu yang menerima bantuan, terselip haru yang tak sepenuhnya terucap. Ada yang bercerita tentang dapur yang tak bisa lagi digunakan, tentang peralatan masak yang terendam lumpur, tentang rutinitas keluarga yang porak-poranda. Namun siang itu, mereka kembali tersenyum—meski kecil, senyum itu nyata.

Seorang warga, sambil mengelus paket bantuan di pangkuannya, berbisik pelan, “Setidaknya hari ini kami merasa diperhatikan.”

Banjir bandang mungkin telah pergi, tapi jejaknya masih tinggal. Lumpur belum sepenuhnya bersih, trauma belum sepenuhnya sembuh. Namun lewat langkah kecil seperti ini, dari forum dosen Tata Boga se-Indonesia, warga Tabiang Banda Gadang kembali diingatkan bahwa kepedulian bisa datang dari mana saja.

Dan di antara lumpur, pengungsian, serta rumah yang belum layak huni, harapan itu perlahan kembali dimasak, dengan resep paling sederhana; kemanusiaan. (hendri parjiga)

Exit mobile version