Ruang Belajar yang Melatih Sabar Bernama “Penolakan”

Oleh : Muhammad Subhan*)

PENOLAKAN juga saya alami ketika mengirim naskah, sebuah puisi, ke majalah dinding di SMP. Penolakan pertama, redaksi mading yang terdiri dari kakak kelas, mengirimkan sebuah surat disertai lampiran puisi saya. Catatannya pendek: “Terima kasih sudah mengirim naskah. Kirim lagi lebih dari satu judul. Terima kasih. Redaksi Mading.”

Menerima surat itu, bukan main senangnya hati saya. Padahal, naskah saya ditolak. Setidaknya, saya tak bertepuk sebelah tangan.

Beberapa hari kemudian, saya tulis lagi naskah baru. Beberapa judul puisi. Namun, bulan berikutnya, saya kembali menerima surat balasan dari redaksi mading di sekolah saya. Isinya juga pendek: “Jumlah naskah sudah memenuhi persyaratan. Namun, tingkatkan lagi kualitasnya. Kirim lagi. Redaksi Mading.”

Lagi-lagi, naskah saya ditolak. Tapi saya senang menerima penolakan itu.

Meski sekelas mading, ternyata tak mudah menembus media itu. Honor pun tak ada. Tapi antusiasme siswa di sekolah saya yang sangat tinggi mengirim karya mereka membuat tim redaksi melakukan seleksi yang superketat.

Guru-guru juga mendukung kami menulis. Pelajaran karang-mengarang sangat disukai siswa, meski tetap saja banyak yang bercita-cita ingin menjadi dokter.

Setelah mengalami penolakan berkali-kali, pada akhirnya naskah-naskah saya berupa puisi, cerpen, dan esai pendek diterima juga. Diterima entah dengan keterpaksaan, kekurangan naskah, entah memang capaian kualitas karya saya sudah sedikit lebih baik. Sampai suatu hari saya mendapat pesan dari kakak kelas yang mau tamat. Ia mengatakan bahwa tulisan-tulisan saya disukainya dan menganggap saya berbakat.

Tentu, saya gembira sekali dipuji demikian. Semangat menulis saya menjadi-jadi.

Di kelas 1 SMA yang sekolahnya bertetangga dengan SMP saya di Paloh Lada (Palda), Kecamatan Dewantara, Kabupaten Aceh Utara, saya juga suka mengirim tulisan-tulisan saya ke mading sekolah. Berkali-kali juga ditolak. Kakak-kakak kelas saya di SMP rupanya beberapa ada yang melanjutkan sekolah di sana. Mereka kembali aktif menjadi pengurus mading.

Barulah di kelas dua SMA saya mendapat amanah mengelola mading sekaligus menginisiasi majalah sekolah pertama di SMA itu.

Pengalaman ditolak berkali-kali membawa kematangan pada diri saya. Naskah yang masuk dari siswa kami kurasi dengan ketat. Syukurnya, di zaman itu, minat menulis siswa sangat tinggi, sehingga redaksi mading dan majalah sekolah selalu kebanjiran naskah.

Penolakan-penolakan berikutnya saya alami berkali-kali saat guru menyuruh saya mengirim naskah ke surat kabar di Banda Aceh. Sebanyak-banyaknya saya kirim, sebanyak itu pula ditolak. Tapi semakin banyak ditolak, semakin besar pula minat saya menulis dan mengirim naskah-naskah terbaru.

Penolakan-penolakan itu, yang mula-mula terasa seperti dinding tinggi, perlahan berubah menjadi tangga. Saya belajar bahwa media sekecil mading sekolah sekalipun memiliki standar. Penolakan bukan bentuk kebencian, melainkan mekanisme alamiah untuk menjaga mutu.

Dari sanalah saya belajar dan memahami bahwa menulis bukan sekadar menumpahkan perasaan, tetapi juga mengasah kesabaran, disiplin, dan kesanggupan menerima kritik.

Pengalaman itu pula yang kemudian membuat saya yakin, sekolah sangat penting memiliki majalah sekolah, baik versi cetak maupun format digital (PDF). Majalah sekolah bukan sekadar etalase karya siswa, melainkan ruang belajar yang sesungguhnya. Di sanalah siswa berlatih menunggu, memperbaiki, dan menerima kenyataan bahwa tidak semua tulisan bisa langsung dimuat.

Kurasi yang ketat justru mendidik. Siswa belajar bahwa kualitas tidak lahir dari pujian semata, tetapi dari proses revisi dan keberanian mencoba lagi. Penolakan di majalah sekolah adalah latihan awal menghadapi dunia yang lebih luas, dunia yang kelak akan menolak dengan cara yang lebih menyesakkan dada dan dan lebih keras.

Kesabaran menjadi kunci. Tanpa kesabaran, penolakan hanya akan melahirkan kekecewaan. Dengan kesabaran, penolakan berubah menjadi energi.

Saya merasakannya sendiri. Setiap surat redaksi yang berisi penolakan justru membuat saya ingin menulis lebih baik, membaca lebih banyak, dan mengirim ulang dengan keyakinan yang lebih matang.

Hidup pun sejatinya serupa. Kita ditolak dalam banyak hal: ditolak keadaan, ditolak kesempatan, bahkan ditolak oleh mimpi kita sendiri.

Namun, seperti dalam dunia kepenulisan, setiap penolakan sesungguhnya adalah jalan memutar untuk menemukan sesuatu yang lebih tepat. Kadang bukan gagal, melainkan sedang diarahkan.

Karena itu, literasi baca tulis di sekolah perlu terus dikuatkan. Bukan semata untuk mengejar prestasi akademik, tetapi untuk merawat minat dan bakat siswa.

Tidak semua anak akan menjadi dokter atau insinyur, tetapi setiap anak berhak menemukan suaranya sendiri, dan menulis adalah salah satu cara paling jujur untuk menemukannya.

Majalah sekolah, mading, dan ruang-ruang literasi lain adalah laboratorium kehidupan. Di sanalah siswa belajar ditolak dengan bermartabat dan bangkit dengan percaya diri. Dari situlah lahir generasi yang tidak mudah patah, yang tahu bahwa kualitas membutuhkan waktu.

Saya bersyukur pernah ditolak. Tanpa penolakan-penolakan itu, barangkali saya tak pernah belajar bersabar, tak pernah mengerti arti proses, dan tak pernah benar-benar mencintai dunia tulis-menulis.

Penolakan telah mengajari saya satu hal penting: untuk menjadi lebih baik, kita memang harus bersedia tidak diterima terlebih dahulu. []

Muhammad Subhan, Penulis, Pegiat Literasi, Founder Sekolah Menulis elipsis.*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *