Oleh : Nurul Jannah*)
Pagi itu, kota Bogor sudah berisik bahkan sebelum matahari benar-benar terbit. Jalanan padat, langkah-langkah tergesa, ponsel bergetar tanpa henti. Agenda berbaris rapi di kepala, menuntut diselesaikan satu per satu.
Semua orang tampak sibuk. Dan tanpa sadar, kita ikut berlari, seolah berhenti adalah sebuah dosa.
“Aku harus cepat,” ujar seseorang di depan cermin, menatap wajah sendiri yang mulai kehilangan teduh.
“Tak apa lelah, yang penting produktif,” sahut suara lain, seperti pembenaran yang diulang setiap hari.
Kalimat-kalimat itu terasa akrab. Terlalu akrab. Kita bahkan mengucapkannya terus menerus seperti zikir harian. Mengira sibuk adalah tanda diridai. Mengira penuh aktivitas adalah bukti hidup yang benar. Padahal, tidak semua kesibukan adalah kemajuan.
Ada hari di mana tubuh terus bergerak, tetapi ruh tertinggal jauh di belakang. Tangan bekerja, kaki melangkah, mulut menjawab dari rapat ke rapat. Namun hati terasa kosong. Seperti rumah yang terang lampunya, tetapi tak lagi dihuni. Kita benar-benar menjalani hari, tetapi tidak sungguh-sungguh hidup di dalamnya.
“Capek?” tanya seorang teman suatu sore, sambil meletakkan dua gelas teh hangat.
Pertanyaan itu jatuh pelan, namun menghantam ke dalam. Karena sering kali, yang kita sebut lelah bukan sekadar letih fisik, melainkan jauh dari diri sendiri. Jauh juga dari Allah.
Kesibukan sering menyamar sebagai kemajuan. Ia terlihat rapi, penuh target, dibungkus grafik dan tenggat. Ia dipuji, dipamerkan dan dirayakan. Namun sesungguhnya, kemajuan sejati tidak bising. Ia tidak berisik. Ia tumbuh pelan, dalam sunyi yang jujur. Sunyi yang memaksa kita berhadapan dengan nurani.
“Aku takut berhenti,” bisik kita pada diri sendiri di malam hari.
“Kenapa?”
“Takut ketinggalan.”
“Ketinggalan dari siapa?”
Sunyi kembali menjawab. Karena yang sering kita kejar bukanlah amanah hidup, melainkan bayangan dunia dan penilaian manusia.
Ada keberanian yang jarang dipuji, yaitu berani berhenti dan mengaku lelah di hadapan Allah. Menaruh ponsel. Menunda satu agenda. Mengakui bahwa kita bukan mesin, bahwa kita hamba. Bahwa lelah bukan selalu tanda perjuangan, kadang tanda salah arah.
“Kalau aku melambat, apa aku gagal?”
“Tidak,” jawab hati yang mulai jujur.
“Bisa jadi kamu sedang diselamatkan.”
Kemajuan tidak diukur dari seberapa cepat kita berlari, tetapi dari mana kita menuju. Apakah langkah-langkah itu mendekatkan kita pada nilai yang kita yakini, atau justru perlahan menjauhkan kita dari cahaya yang dulu kita kenal.
Dan pada akhirnya, jika kesibukan hari ini membuat kita lelah tetapi tidak lebih dekat pada Allah, penuh agenda tetapi miskin makna, maka mungkin yang kita sebut kemajuan hanyalah pelarian yang rapi dari kehampaan.
Tidak semua yang bergerak sedang menuju kemajuan, tidak semua yang capek sedang berjuang. Ada lelah yang mematangkan iman, namun ada pula lelah yang mengeringkan jiwa.
Maka berhentilah sejenak, untuk kembali. Karena kemajuan sejati tidak menjauhkan kita dari Allah, tidak mengosongkan hati, dan tidak membuat kita kehilangan diri sendiri. Ia mungkin sunyi dan gelap, tetapi selalu menuntun kita pulang sebagai hamba yang lebih sadar.❤️
Jakarta, 16 Januari 2026
Nurul Jannah adalah seorang dosen lingkungan di IPB University, lulusan doktor lingkungan dari Hiroshima University, penulis produktif, dan penggerak literasi*)




