IBKS Turunkan Tim Psikososial ke Sekolah Terdampak Banjir Sumbar dan Aceh

Tim Relawan IBKS foto bersama sebelum terjun melakukan kegiatan trauma healing di sejumlah sekolah yang terdampak bencana banjir di Sumbar. Selain di Sumbar, relawan juga melakukan kegiatan serupa di Aceh. (Foto Istimewa)

PADANG, FOKUSSUMBAR.COM— Divisi Ikatan Bimbingan dan Konseling Sekolah (IBKS) menurunkan puluhan konselor dan guru bimbingan konseling ke sejumlah sekolah di Sumatera Barat dan Aceh untuk memberikan dukungan psikososial serta trauma healing bagi siswa dan guru pascabencana banjir.

Kegiatan ini dilaksanakan selama empat hari, Senin hingga Kamis (5–8 Januari 2026), menyasar sekolah tingkat SD, SMP, SMA, MTs, hingga SLB di Kota Padang, Kabupaten Padang Pariaman, dan Kabupaten Pesisir Selatan.

Para relawan melakukan pendampingan melalui permainan edukatif, ice breaking, diskusi kelompok, refleksi nilai keagamaan, serta latihan relaksasi sederhana guna membantu peserta didik mengelola stres dan kecemasan pascabencana.

Ketua Pusat IBKS, Dra. Tuti Sukarni, M.Si., Kons, mengatakan keterlibatan IBKS merupakan bentuk tanggung jawab profesional sekaligus solidaritas kemanusiaan terhadap dunia pendidikan yang terdampak bencana.

“IBKS merasa terpanggil untuk hadir langsung di sekolah-sekolah terdampak. Anak-anak dan guru tidak hanya membutuhkan pemulihan fisik, tetapi juga penguatan mental agar mereka siap kembali menjalani proses belajar dengan rasa aman dan harapan,” ujar Tuti Sukarni.

Berdasarkan hasil pengamatan tim di lapangan, sebagian siswa pada awal kegiatan tampak kurang bersemangat, canggung, dan memilih menyendiri, terutama mereka yang mengalami dampak banjir cukup berat di lingkungan rumah.

Namun, setelah mengikuti sesi pendampingan, banyak siswa mulai berani mengekspresikan perasaan, lebih aktif berinteraksi, dan menunjukkan antusiasme saat kegiatan berbasis permainan dan diskusi kelompok.

Selain siswa, guru juga dilibatkan dalam sesi refleksi dan penguatan psikososial untuk membantu membangun kembali iklim belajar yang suportif di sekolah.

Meski demikian, tim IBKS mencatat masih adanya keterbatasan sarana, seperti ruang kelas yang rusak, fasilitas sanitasi yang belum optimal, serta minimnya ruang konseling khusus di sejumlah sekolah.

Menurut Tuti, temuan tersebut menunjukkan pentingnya pendampingan lanjutan secara berkelanjutan.

“Kami berharap ada kesinambungan program dukungan psikososial, tidak berhenti pada kegiatan darurat saja, agar pemulihan siswa dan satuan pendidikan bisa berlangsung lebih optimal,” katanya.

Kegiatan ini melibatkan puluhan konselor dan guru bimbingan konseling dari berbagai daerah, termasuk Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Sumatera Barat, Jawa Timur, dan Aceh, yang diterjunkan secara resmi melalui surat tugas organisasi IBKS. (jiga)

Exit mobile version