“Langit Tak Pernah Jauh”

Oleh : Nurul Jannah*)

Isra Mi’raj: arah pulang jiwa di tengah dunia yang terlalu cepat

Di tengah dunia yang bergerak semakin cepat, manusia sering melangkah jauh tanpa sempat menoleh ke dalam. Target dikejar, teknologi dipeluk, waktu dipadatkan, hingga jiwa kerap tertinggal di belakang tubuhnya sendiri.

Di situlah kelelahan bermula, karena terlalu lama lupa arah pulang. Isra Mi’raj hadir sebagai pengingat lembut bahwa di balik hiruk-pikuk dunia, selalu ada jalan kembali. Jalan untuk menata jiwa, menengadah, dan pulang ke langit yang sesungguhnya tak pernah jauh.

Dari kegelisahan itulah sebuah peristiwa agung menemukan maknanya. Di saat bumi disibukkan oleh rutinitas dan manusia tenggelam dalam urusan duniawinya, seorang Nabi, Rasul Allah, diperjalankan menembus batas ruang dan waktu. Dalam kesadaran penuh, tubuh dan jiwa sekaligus.

Peristiwa itulah yang kemudian dikenal sebagai Isra Mi’raj. Sebuah perjalanan yang bukan hanya melintasi jarak, tetapi juga membuka arah bagi hati manusia.

Isra Mi’raj bukan hanya kisah spiritual masa lalu yang dikenang setahun sekali. Ia adalah pesan keilmuan sekaligus pengingat kemanusiaan yang dalam. Sangat relevan bagi manusia modern, manusia yang hidup dalam kecepatan dan kecanggihan, namun kerap kehilangan arah pulang.

Peristiwa ini mengajak kita berhenti sejenak, menurunkan ritme hidup, dan kembali menanyakan hal paling mendasar: ke mana sebenarnya jiwa ini hendak dibawa?

Tulisan ini berusaha membaca Isra Mi’raj dengan kacamata nurani, disulam dengan pengalaman batin menghadiri peringatan Isra Mi’raj di beberapa majelis. Lalu ditautkan dengan kegelisahan manusia modern hari ini. Manusia yang tahu banyak, bergerak cepat, dan tampak maju, namun sering lupa menata hati sebagai hamba.

Dari titik inilah Isra Mi’raj tidak berhenti sebagai peristiwa sejarah, melainkan menjelma menjadi cermin yang pelan-pelan mengajak kita menengadah.

Apa yang Sebenarnya Terjadi?

Dari titik menengadah itulah, Isra Mi’raj perlu dibaca kembali dengan tenang. Sebagai sebuah kisah yang menyimpan arah. Isra Mi’raj adalah perjalanan Nabi Muhammad SAW dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa, lalu naik menembus lapisan langit hingga Sidratul Muntaha. Sebuah perjalanan yang melampaui jarak, waktu, dan ukuran manusia biasa.

Namun yang sering luput disadari, peristiwa ini bukan semata tentang sejauh apa Rasulullah melangkah, melainkan sejauh apa manusia diajak memahami dirinya sendiri. Isra Mi’raj bukan hanya perpindahan tempat, tetapi perjalanan kesadaran. Perjalanan untuk mengenali kembali hubungan manusia dengan Tuhannya, dengan dirinya, dan dengan dunia yang ia jalani.

Dalam bahasa yang lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari, Isra Mi’raj adalah ajakan untuk naik tingkat sebagai manusia. Dari hidup yang hanya mengejar rutinitas, menuju hidup yang menyadari arah. Dari bergerak tanpa jeda, menuju berjalan dengan makna. Ia mengingatkan bahwa manusia bukan semata tubuh yang bekerja tanpa henti, tetapi jiwa yang perlu dituntun agar tidak tersesat oleh kesibukan.

Dari pemahaman inilah, pertanyaan berikutnya mengalir dengan sendirinya: apabila Isra Mi’raj adalah ajakan untuk bergerak naik, lalu siapa sebenarnya yang diajak bergerak?

Siapa yang Bergerak?

Yang bergerak bukan hanya Nabi Muhammad SAW. Yang diajak bergerak adalah kemanusiaan itu sendiri.

Isra Mi’raj merupakan undangan halus bagi manusia untuk beranjak dari hidup yang reaktif menuju hidup yang reflektif. Dari kesibukan mengatur dunia, menuju kesadaran menata batin. Dari kelelahan yang dipendam, menuju ketundukan yang menenangkan.

Ketika menghadiri peringatan Isra Mi’raj di sebuah majelis yang sederhana, hangat, dan penuh keikhlasan, terasa bahwa yang hadir bukan hanya jamaah. Yang berkumpul adalah manusia-manusia dengan rindu yang sama: rindu disapa kembali oleh langit.

Begitu pula di majelis lain, Isra Mi’raj tidak hadir sebagai seremoni tahunan belaka. Ia menjelma menjadi ruang pertemuan batin. Duduk bersama, mendengar kisah langit, sambil diam-diam menakar: sejauh apa hati ini telah berjalan menjauh dari Allah?

Di era kecerdasan buatan, perjalanan manusia menjadi makin cepat. Data berpindah dalam hitungan milidetik. Pesawat menembus benua. Informasi melampaui batas negara. Namun ironisnya, jiwa manusia sering tertinggal jauh di belakang tubuhnya.

Di titik inilah Isra Mi’raj hadir sebagai pengingat yang lembut namun tegas. Tidak semua yang cepat itu sampai. Tidak semua yang tinggi itu dekat.

Di Mana Langit Itu?

Langit dalam Isra Mi’raj bukan semata tempat yang jauh di atas sana. Langit adalah keadaan batin. Ia hadir ketika manusia hening dari ego, ketika hati berhenti menuntut dan mulai tunduk.

Peringatan Isra Mi’raj di berbagai majelis mengajarkan bahwa langit bisa turun ke mana saja: ke mushala kecil, ruang sederhana, atau majelis sahabat, asal hati manusia bersedia membuka pintu.

Isra Mi’raj juga terjadi setelah fase terberat dalam hidup Nabi: kehilangan, penolakan, luka, dan kesepian. Langit tidak datang saat manusia merasa kuat, melainkan saat manusia paling jujur pada kelemahannya. Di sinilah makna spiritual sering terlewat. Isra Mi’raj menjadi jawaban atas kelelahan manusia.

Di tengah dunia yang memuja performa, target, dan citra, Isra Mi’raj mengingatkan bahwa ibadah paling penting justru lahir dari keberanian mengakui lelah. Maka shalat dihadiahkan sebagai jeda, Jeda kosmik agar manusia tidak pecah oleh dunia.

Dari sisi sains modern, Isra Mi’raj memang melampaui logika klasik. Namun justru di sanalah pesannya. Ilmu pengetahuan mengenal relativitas waktu, dimensi ruang, dan kenyataan bahwa semesta tidak sesederhana yang tampak oleh indera.

Isra Mi’raj mengajarkan bahwa realitas jauh lebih luas daripada yang sanggup dijangkau nalar manusia. Ilmu tidak menafikan iman; ia berjalan perlahan menuju apa yang iman lebih dulu yakini.

Isra Mi’raj dan Kita

Pulang dari majelis Isra Mi’raj, yang tertinggal bukan hanya kisah perjalanan, melainkan pertanyaan sunyi: apakah kita masih menyediakan ruang bagi langit dalam hidup yang terlalu padat ini?

Isra Mi’raj bukan peristiwa untuk dihafal, melainkan untuk dialami ulang setiap hari, yaitu saat kita berhenti sejenak, menegakkan shalat, dan membiarkan jiwa naik, meski tubuh tetap berpijak di bumi.

Maka pulanglah, sebelum hidup ini benar-benar menjauhkan kita dari langit. Isra Mi’raj bukan kisah tentang Nabi yang naik sendirian, tetapi tentang manusia yang dipanggil agar berhenti berlari tanpa arah.

Ketika dunia makin cepat dan dada makin sesak, shalat hadir sebagai pintu pulang. Tempat jiwa yang lelah diizinkan bersujud, tanpa topeng.

Langit tidak pernah jauh; kitalah yang terlalu sibuk untuk menengadah. Dan bila hari ini kita merasa asing di rumah sendiri, mungkin bukan karena Allah menjauh, melainkan karena hati kita terlalu lama menetap di bumi dan lupa arah ke atas❤️.

Jakarta, 17 Januari 2026

Nurul Jannah adalah seorang dosen lingkungan di IPB University, lulusan doktor lingkungan dari Hiroshima University, penulis produktif, dan penggerak literasi*)

Exit mobile version