Cerpen: Ilda Peliana*
Matahari berdiri tepat di atas kepala ketika Nayla Syarifah mematikan mesin motornya di tepi jalan raya Kota Sagara. Siang itu lalu lintas padat, orang-orang berjalan tergesa membawa belanjaan dan urusan masing-masing. Namun di tengah riuh itu, Nayla merasa sendirian.
Tangannya dingin saat menggenggam ponsel.
“Sudah selesai mediasi?” suara Alya terdengar dari seberang, cemas namun berusaha tenang.
“Sudah, Kak,” jawab Nayla pendek.
“Kamu baik-baik saja?”
Pertanyaan itu menggantung. Nayla ingin menjawab iya. Tetapi sebelum kata itu keluar, sebuah mobil hijau kusam melambat di depannya.
Warna mobil itu tidak mencolok, justru seperti warna kendaraan latihan lapangan—hijau yang terlalu akrab dengan disiplin dan barisan. Mobil itu berhenti tepat di depan Nayla. Pintu terbuka. Dua lelaki turun.
Tinggi. Gempal. Langkahnya berat dan rapi.
Mereka tidak terlihat seperti orang yang tersesat. Mereka terlihat seperti orang yang sudah tahu siapa yang dicari.
Salah satu berdiri beberapa langkah di depan motor Nayla. Yang lain tetap di samping pintu, seperti penjaga. Tak ada kata-kata. Hanya tatapan tajam yang mengunci.
“Nayla? Kamu di mana sekarang? Jangan pulang sendirian,” suara Alya masih terdengar.
Nayla menatap dua lelaki itu, lalu mematikan telepon. Ia bukan sedang mengabaikan kakaknya. Ia hanya tahu, pada detik itu, suara di ponsel tidak akan menolongnya.
Ia menyalakan motor. Pelan.
Mobil hijau itu tak mengejar. Tak membunyikan klakson. Ia bergerak perlahan di belakang Nayla, menjaga jarak.
Seperti bayangan.
Beberapa jam sebelumnya, Nayla duduk di lantai dua Balai Rinjani. Undangan mediasi tertulis jelas: pukul 11.00. Ia datang tepat waktu.
Gedung itu berdiri megah, berdinding krem dan berjendela besar. Dari luar tampak seperti pusat administrasi yang rapi dan bersih. Namun bagi Nayla, gedung semacam itu sering menjadi tempat persoalan dikubur rapi.
Pukul 11.00 berlalu tanpa tanda. 11.30. 11.45. Ia masih menunggu. Di tangannya, ponsel yang layarnya mati berulang kali disentuh, sekadar agar ia tampak sibuk.
Yang sebenarnya menyala adalah pikirannya.
Ia teringat laporan-laporan tertulis yang ia kirim. Ia teringat kewenangannya sebagai pengawas yang dipangkas tanpa pemberitahuan. Ia teringat sertifikasi guru yang tetap cair meski tanda tangan pengawas dihilangkan.
Jika pengawas tidak lagi menjadi kontrol, apa yang tersisa dari sistem?
Pukul 12.00, langkah kaki terdengar di tangga. Raka Pranata muncul. Kepala madrasah besar itu biasanya datang dengan mobil mewah. Hari itu ia datang dengan motor, jaket hitam, helm di tangan.
Tatapannya bertemu Nayla.
Tak ada salam.
Tak ada sapaan.
Hanya tatapan panjang yang terasa seperti penghakiman.
Beberapa menit kemudian, seorang pria lain naik ke lantai dua. Berkacamata, rapi, langkahnya tenang. Depi Darmawan, pengawas senior bergelar doktor.
Ia melewati Nayla tanpa menoleh.
Anehnya, Raka yang tadi dingin mendadak hangat. “Pak Doktor… sehat?”
Senyum dan tawa kecil mengisi sudut ruangan. Nayla memperhatikan, diam. Di tangan Depi ada selembar berkas. Ia tak tahu isinya, tetapi ia tahu di ruang-ruang seperti ini, kertas bisa bernilai lebih mahal daripada kejujuran.
Mediasi akhirnya dimulai.
Pak Hadi Sasmita, pimpinan tertinggi kantor itu, membuka pertemuan dengan suara tenang, “Saya sudah mendengar keterangan kedua belah pihak secara terpisah. Hari ini tidak ada yang perlu dibicarakan lagi.”
Nayla terdiam sesaat.
“Pak, ini mediasi. Bagaimana bisa tidak dibicarakan?”
Pak Hadi menghela napas. “Tidak ada yang salah. Tidak ada yang benar.”
Kalimat itu terdengar netral. Namun bagi Nayla, itu lebih terdengar seperti jalan aman.
Ia berbicara panjang. Tentang kewenangan SKMT yang dialihkan.
Tentang pengawasan yang dipersempit.
Tentang sistem yang seolah dirancang agar pencairan dana tetap berjalan meski kontrol tak berfungsi.
Ia menyebut dana BOS.
Ia menyebut dugaan kegiatan fiktif.
Ia menyebut angka-angka.
Raka menyela dengan suara tinggi. “Semua yang saya jalankan sesuai aturan! Dan berdasarkan arahan pimpinan!”
“Kalau saya salah dan tidak berdasarkan data, silakan laporkan saya ke jalur hukum,” Nayla menjawab tanpa menurunkan pandangan.
Ruangan mendadak sunyi.
“Saya tidak akan melaporkan,” ujar Raka kemudian, nada suaranya lebih lembut.
Kalimat itu terdengar seperti damai. Namun justru di situlah Nayla merasa dingin menjalar di punggungnya. Orang yang yakin pada jalurnya biasanya tidak takut menggunakan hukum. Orang yang berkata tak akan melapor—kadang memilih cara lain.
Mediasi ditutup tanpa keputusan berarti.
Sebelum bubar, Pak Hadi berkata, “Kalau Ibu Nayla tidak nyaman, silakan buat surat pengunduran diri dari madrasah itu.”
Kalimat itu seperti pintu buangan yang dibuka pelan-pelan.
“Ini masih pertengahan tahun, Pak. Jika saya mundur sekarang, masyarakat akan bertanya,” jawab Nayla tenang. “Biarlah saya tetap bertugas sampai akhir tahun.”
Tak ada bantahan.
Tak ada jaminan perlindungan.
Kembali ke jalan raya, mobil hijau itu masih mengikuti.
Nayla membelok ke gang besar dan melihat papan neon menyala: Cafe Lumina 24 Jam. Ia masuk, memesan teh hangat, lalu duduk di area terbuka yang ramai.
Ia menunggu.
Lima menit kemudian, mobil hijau itu melintas perlahan di depan kafe. Seolah memastikan ia memang berhenti di sana.
Jantung Nayla berdetak cepat.
Ini bukan kebetulan.
Raka setiap tahun mengadakan pelatihan disiplin dengan instruktur berseragam lapangan. Dua lelaki tadi—terlalu mirip.
Terlalu rapi.
Dua jam kemudian, Nayla pulang. Mengunci pintu dan jendela. Malam turun perlahan.
“Kamu tidak berlebihan,” kata Alya di telepon ketika Nayla menceritakan semuanya. “Kadang mereka tidak ingin menyakitimu. Mereka hanya ingin kamu takut. Supaya kamu berhenti.”
“Aku sudah pernah dihancurkan mentalnya dulu… oleh orang yang sama,” bisik Nayla.
“Aku tahu,” jawab Alya.
“Kok tahu?”
“Karena pola seperti itu pernah kualami juga.”
Nayla terdiam lama.
Di ruang tamu yang gelap, ia membuka kembali map laporannya. Angka-angka dan nama vendor berderet rapi. Kegiatan tahunan. Biaya konsumsi. Pelatihan.
Ia mengambil buku catatan dan menulis:
MOBIL HIJAU. DUA LELAKI. TATAPAN DINGIN.
Lalu ia menambahkan kalimat lain:
Mereka tidak menyerang tubuh. Mereka menyerang jiwa.
Di luar, hujan sudah berhenti. Jalanan sunyi.
Sunyi bukan berarti aman, pikir Nayla. Kadang sunyi adalah ruang bagi sesuatu untuk menunggu.
Namun ia juga tahu satu hal: jika ia berhenti, laporan itu akan mati bersama rasa takutnya. Dan bila itu terjadi, kebohongan akan hidup lebih lama daripada keberaniannya.
Nayla menutup map perlahan.
“Kalau kalian ingin aku diam,” bisiknya, “kalian harus memadamkan nurani dulu.”
Di kejauhan, suara mesin mobil terdengar sesaat. Lalu hilang.
Seperti bayangan.
Seperti pesan bahwa pertarungan belum selesai. []
Biodata Singkat Penulis
Ilda Peliana lahir 18 Maret 1970. Putri Matur, Agam, ini dibesarkan di Teluk Kabung, Padang. Ia merupakan lulusan Pendidikan Bahasa Inggris Universitas Bung Hatta (1994).
Berprofesi sebagai guru sekaligus Pengawas di Kementerian Agama Kota Padang sejak 2018, Ilda aktif menulis artikel dan cerpen bertema pendidikan serta kritik konstruktif terhadap kebijakan dan manajemen lembaga pendidikan.
Ketertarikannya pada dunia literasi tumbuh setelah menikah dengan penulis Yunardi Sikumbang. Tahun 2022, ia dipercaya sebagai Instruktur Nasional Kementerian Agama Sumatera Barat dan kerap menjadi narasumber di berbagai sekolah dan madrasah. Ibu lima anak ini dikenal memiliki komitmen kuat terhadap peningkatan mutu pendidikan dan pengembangan literasi. *
