Oleh: Nurul Jannah
Yang paling kuat sering kali bukan yang paling terlihat, melainkan yang paling setia bekerja dalam diam.
Pagi itu langit Bogor masih malu-malu membuka hari. Kabut tipis menggantung di antara pepohonan, sementara embun bertahan di ujung daun, seolah enggan berpisah dengan malam.
Aku duduk di teras rumah sambil menggenggam secangkir teh hangat. Tak ada suara selain nyanyian burung dan desir angin yang berkelana dari satu dahan ke dahan lain.
Di depanku berdiri pohon rambutan tua. Pohon itu sudah ada jauh sebelum anak-anak tumbuh dewasa. Ia telah menyaksikan musim datang dan pergi, menyaksikan tawa, tangis, perpisahan, dan pertemuan yang silih berganti.
Batangnya kokoh. Daunnya rimbun. Buahnya amat sangat legit, perpaduan rambutan Binjai dan rambutan Rapiah. Banyak orang menyukainya.
Namun pagi itu, entah mengapa, pandanganku justru tertahan pada bagian yang tidak terlihat. Pada akarnya.
,“Hm, aneh memang ya…”
“Apanya yang aneh…?” Cetus Rini, sahabat kecilku yang kebetulan datang berkunjung ke Bogor.
Aku menunjuk ke arah pohon itu.
“Kita selalu memuji pohonnya. Kita kagum pada buahnya. Kita menikmati teduhnya. Tapi hampir tidak pernah ada yang mengingat akarnya.”
Sahabatku Rini tersenyum.
“Ya iyalah, karena akarnya tidak terlihat.”
“Padahal yang paling lelah bekerja justru akar lhoh…”, sergahku cepat.
Kalimat itu meluncur begitu saja. Namun setelah terucap, ia seperti mengetuk pintu-pintu kenangan yang selama ini diam.
Bukankah hidup juga seperti itu?
Kita sering melihat hasil, tetapi lupa pada perjalanan. Kita melihat keberhasilan, tetapi tidak melihat luka yang mendahuluinya.
Kita melihat senyum, tetapi tidak melihat air mata yang lebih dulu jatuh.
Kita melihat seseorang berdiri tegak, tetapi tidak pernah tahu berapa kali ia hampir menyerah.
Di sebuah aula wisuda, misalnya.
Seorang mahasiswa berjalan menuju panggung. Toga hitam. Senyum lebar. Tepuk tangan bergema. Orang tua mengabadikan momen dengan mata yang berkaca-kaca.
Yang terlihat hanyalah kebahagiaan.
Namun tidak banyak yang tahu tentang malam-malam ketika ia tertidur di atas tumpukan buku. Tidak banyak yang tahu tentang data penelitian yang berkali-kali ditolak. Tidak banyak yang tahu tentang doa yang dipanjatkan setelah berkali-kali gagal.
Yang terlihat hanyalah kelulusannya. Yang tidak terlihat adalah perjuangan yang mengantarkannya ke sana.
Pikiranku pun tetiba melayang jauh.
Jauh melintasi waktu. Jauh melintasi lautan. Menuju sebuah laboratorium di Hiroshima University
Dua puluh tahun lebih telah berlalu, tetapi sebagian kenangan masih terasa begitu dekat.
Orang-orang hanya melihat gelar doktor yang akhirnya kusandang. Hanya melihat foto kelulusan. Hanya melihat senyum yang mengembang saat toga dikenakan.
Namun tidak ada yang melihat malam-malam panjang ketika kerinduan datang tanpa mengetuk pintu. Tidak ada yang melihat betapa seringnya aku menatap foto dua anak kecil yang kutinggalkan di Indonesia. Tidak ada yang melihat berapa kali aku harus menguatkan diri ketika hati terasa nyaris runtuh.
Suatu malam, telepon berdering. Dari seberang sana terdengar suara kecil yang sangat kurindukan.
“Ibu kapan pulang?”
Aku terdiam. Beberapa detik terasa begitu panjang.
“Afnan kangen…”
Belum sempat aku menjawab, sudah ada pernyataan kangen dari malaikat kecilku. Dada ini pun seketika terasa sesak.
Aku memandang jendela laboratorium yang dipenuhi kabut musim dingin. Di luar sana, salju mulai turun perlahan. Namun yang membekukan malam itu bukanlah cuaca. Melainkan rindu.
“Insya Allah Ibu pulang kalau tugas Ibu selesai.”
“Ditunggu ya ibuu…”
Hanya percakapan singkat. Tak sampai lima menit. Namun jejaknya tinggal hingga bertahun-tahun. Orang hanya melihat gelar doktornya saja. Yang tidak terlihat adalah harga yang harus dibayar untuk meraihnya.
Begitulah hidup.
Di sekitar kita ada begitu banyak akar-akar sunyi. Ada ibu yang setiap hari tersenyum di depan anak-anaknya. Padahal semalaman ia memikirkan biaya sekolah yang belum tersedia.
Ada ayah yang pulang sambil bercanda. Padahal sepanjang perjalanan ia sedang menghitung tagihan yang belum terbayar.
Ada guru yang mengajar dengan penuh semangat. Padahal malam sebelumnya ia menyusun materi hingga larut.
Ada petugas kebersihan yang mulai bekerja saat sebagian besar orang masih terlelap. Tak banyak yang mengenal namanya. Tak ada yang mengabadikan fotonya. Namun kota menjadi nyaman karena tangannya. Yang terlihat hanyalah hasilnya.
Yang tidak terlihat adalah pengorbanannya.
Kadang kita terlalu cepat menilai. Terlalu mudah menyimpulkan. Terlalu ringan mengucapkan, “Wah, hidupnya enak. Dia beruntung. Dia selalu bahagia.”
Padahal setiap hati sedang memikul beban yang berbeda. Ada yang sedang berjuang melawan kesedihan. Ada yang sedang berusaha berdamai dengan kehilangan. Ada yang sedang bertahan dalam kesendirian.
Ada yang sedang belajar menerima kenyataan yang tidak pernah dipilihnya. Dan sebagian besar perjuangan itu berlangsung tanpa penonton.
Karena tidak semua luka pandai bercerita.
Tidak semua tangis mencari bahu untuk bersandar. Tidak semua hati yang retak mengeluarkan suara.
Angin pagi kembali berembus. Daun-daun pohon rambutan bergoyang pelan.
Aku memandangnya cukup lama. Lalu membayangkan akar-akar yang bekerja jauh di bawah tanah. Tak terlihat. Tak terdengar. Tak dipuji.
Namun tetap setia. Mencari air. Menembus tanah. Menahan pohon agar tidak tumbang.
Tiba-tiba aku merasa sedang melihat banyak wajah di sana. Wajah para ibu. Para ayah. Para guru. Para pejuang kehidupan.
Mereka yang tetap memberi meski tidak disebut. Mereka yang tetap menguatkan meski sedang lelah. Mereka yang tetap menyalakan cahaya meski dirinya sendiri sedang berjuang melawan gelap.
Menjelang siang, sebuah pesan masuk dari Dinda, salah satu mahasiswa bimbingan.
“Bu, kadang saya merasa sangat lelah. Karena usaha saya selama ini tidak dihargai “
Aku membaca pesan itu beberapa kali. Lalu membalas nya hati-hati.
“Coba lihat akar pohon.”
Tak lama kemudian balasan datang.
“Maksud Ibu?”
“Tidak ada yang mengagumi akar ketika melihat pohon yang rindang. Namun saat badai datang, akar itulah yang membuat pohon tetap berdiri. Maka jangan pernah meremehkan arti sebuah perjuangan. Apa yang dilakukan dengan ikhlas tidak akan pernah sia-sia. Oleh karena itu, jangan pernah merasa kecil ketika perjuanganmu tidak terlihat.”
Beberapa menit kemudian muncul pesan baru dari Dinda.
“Saya mengerti sekarang, Bu.”
Aku berharap ia benar-benar mengerti. Karena hidup memang tidak selalu memberikan penghargaan secepat yang kita harapkan.
Tidak semua kerja keras langsung dipuji. Tidak semua ketulusan segera dipahami. Tidak semua pengorbanan langsung dihargai. Namun itu tidak pernah membuatnya kehilangan nilai.
Pagi itu, aku belajar lagi dari pohon. Belajar lagi dari embun. Belajar lagi dari kehidupan.
Bahwa yang paling berharga sering kali tidak terlihat. Doa seorang ibu. Kesabaran seorang ayah. Keikhlasan seorang guru. Keteguhan seorang pejuang. Kerinduan yang disimpan dalam diam. Dan cinta yang terus hidup meski tidak pernah diumumkan.
Mungkin itulah sebabnya kenapa Allah tidak menilai kita dari apa yang tampak di mata manusia. Karena manusia mudah terpikat pada cahaya yang terang.
Sementara Allah mengetahui minyak yang membuat lampu itu tetap menyala. Allah mengetahui air mata yang jatuh ketika dunia tertidur. Allah mengetahui doa yang dipanjatkan terus menerus tanpa suara. Allah mengetahui luka yang tetap memilih bersabar. Allah mengetahui kebaikan yang dilakukan tanpa berharap balasan.
Maka jika hari ini engkau merasa tidak dihargai. Jika engkau merasa dilupakan. Jika perjuanganmu seolah tidak terlihat, Jangan berhenti. Tetaplah menjadi akar. Tetaplah menguatkan. Tetaplah menumbuhkan kehidupan.
Karena ketika pohon itu kelak berdiri kokoh, orang mungkin hanya akan melihat batang dan buahnya. Namun Allah mengetahui siapa yang bekerja dalam gelap agar semuanya tetap hidup. Dan pada akhirnya, bukan tepuk tangan manusia yang membuat sebuah perjuangan menjadi mulia.
Melainkan ketulusan yang tetap bertahan, bahkan ketika tak ada seorang pun yang melihatnya.
Bogor, 3 Juni 2026😍
