Cerpen Hendri Parjiga*
SUTAN Maridun baru saja menyelesaikan salat Zuhur di mushala kantor Polres. Seusai salam, ia duduk lebih lama dari biasanya.
Siang terasa tenang, tetapi dadanya tidak sepenuhnya lapang. Bunyi kipas angin tua yang berputar pelan di sudut ruangan terdengar seperti detak waktu yang berjalan perlahan.
Ia merebahkan punggung, meluruskan kaki di atas karpet hijau. Sejak pagi, tubuh dan pikirannya bekerja tanpa jeda. Surat izin keramaian, koordinasi keamanan, dan urusan teknis pesta mengisi hari-harinya sejak beberapa hari belakangan.
Sepuluh hari lagi, anak perempuan sulungnya, Mila, akan menikah. Baralek digelar di rumah mereka di kota. Separuh badan jalan akan ditutup tenda. Segalanya harus tertib, tanpa cela.
Getaran ponsel memecah keheningan. Nama yang muncul di layar membuatnya terdiam sesaat. Etek Rakena.
“Assalamualaikum, Tek,” ucap Sutan, menahan lelah.
“Waalaikum salam. Kapan Sutan pulang kampung?” suara Etek Rakena terdengar tegas.
Perempuan itu adalah adik perempuan mertuanya. Dalam keluarga besar Maraya, urutan dan peran tak pernah sederhana. Ali Nasrun, mamak yang disegani, adalah poros tempat adat seharusnya berputar. Ia mantan pejabat aparatur negara, terbiasa dihormati dan didengar.
“Apakah ada hal mendesak, Tek?” tanya Sutan hati-hati.
“Baralek Mila sudah dekat. Ninik mamak belum didatangi. Itu kewajiban Sutan,” jawab Etek Rakena, tanpa tedeng aling-aling.
Sutan menarik napas panjang. Dua bulan terakhir terasa sunyi. Sejak prosesi meminang, tak ada kabar dari Ali Nasrun. Tak sepatah tanya. Tak isyarat kepedulian.
“Maaf, Tek,” ucapnya lirih. “Ambo merasa beliau menjauh. Sebagai mamak, seyogianya ada perhatian. Sekadar bertanya pun tidak.”
Di seberang terdengar helaan napas keras. “Walau begitu, beliau tetap ninik mamak. Sutan yang harus datang.”
Percakapan itu berakhir tanpa titik temu. Sutan memandangi langit-langit mushala. Ia tahu adat menjunjung tata cara. Namun dalam diamnya, ia juga tahu, ikhtiar telah ia lakukan sebatas yang ia pahami.
Hari baralek tiba.
Tenda besar berdiri megah. Pelaminan yang ditata apik menambah rancak suasana pesta.
Jalan dipenuhi kendaraan. Puluhan karangan bunga berjejer rapi, menuliskan doa dan harapan. Tamu berdatangan silih berganti. Senyum dan ucapan selamat mengalir tanpa henti.
Sebagian orang berbisik kagum. Pesta itu disebut-sebut seperti hajatan orang berada. Sutan dan Asnita menyambut semua dengan wajah letih yang disembunyikan senyum. Beberapa tamu berbisik, “Pestanya meriah,” Pak.”
Namun ada satu hal yang tak bisa ditutup tenda dan pelaminan megah, tak bisa ditutup meriah, ketidakhadiran Ali Nasrun.
Sejak pagi hingga sore, mamak yang ditunggu itu tak muncul. Padahal, beberapa hari sebelumnya, Asnita dan Mila telah datang bersimpuh, mewakili ayahnya yang super sibuk mengurus semua persiapan baralek.
Mila bahkan nekat menempuh hampir seratus kilometer dengan sepeda motor, meski secara adat ia seharusnya mulai dipingit. Beberapa keluarga sempat menyesalkan aksi nekat Mila itu.
Usaha itu tak berbuah.
Ali Nasrun tersinggung. Baginya, yang pantas datang mengabari adalah Sutan Maridun. Bukan istri. Bukan pula kemenakan perempuan yang sedang menunggu hari ijab kabulnya.
Asnita terdiam lama di balik dapur. Mila, di pelaminan, beberapa kali mengusap sudut matanya. Senyumnya tetap terbit menerima ucapan selamat dari tamu, meski hatinya goyah.
Sutan melihat semua itu. Ia memilih menguatkan diri. Dalam hatinya, ia beristighfar. Ia tahu, tak semua hal dapat diselesaikan dengan kata-kata.
Baginya, hari itu adalah amanah. Ia berdiri di antara ratusan tamu, menyalami dengan ikhlas. Setiap doa yang diucapkan tamu ia aminkan dalam hati.
Menjelang Magrib, musik dihentikan. Cahaya sore meredup. Sutan berdiri di tepi tenda, memandang Mila dan menantunya di pelaminan. Tawa kecil mereka terdengar jujur.
Di dadanya ada ruang yang kosong. Namun ia tak lagi mempersoalkannya.
Ia paham, adat adalah pagar. Tetapi kasih orang tua adalah jalan lurus yang kadang harus ditempuh sendiri.
Tak semua restu hadir dalam bentuk kehadiran. Ada restu yang turun diam-diam, melalui doa yang hanya diketahui Allah.
Ketika azan Magrib berkumandang, Sutan menengadah. Bibirnya bergetar melafalkan syukur.
Dalam sunyi itu, ia berkata pada dirinya sendiri, jika yang berhak hadir memilih tak datang, biarlah. Sebab kebahagiaan anaknya telah Allah cukupkan.
Dan di hari itu, Sutan Maridun belajar, bahwa keikhlasan sering kali lahir dari menerima hal-hal yang tak bisa dipaksa. (*)
Sinopsis Singkat
Cerpen ini mengisahkan Sutan Maridun yang menghadapi kegamangan antara kewajiban adat dan tanggung jawab sebagai ayah saat menyiapkan pernikahan anak sulungnya, Mila. Sikap diam dan ketidakhadiran ninik mamak memunculkan luka batin, namun tidak menggoyahkan tekad Sutan untuk memastikan kebahagiaan anaknya. Melalui konflik sunyi ini, cerpen menegaskan bahwa adat memang dijunjung tinggi, tetapi cinta orang tua dan keikhlasan sering bekerja dalam diam, menghadirkan makna restu yang melampaui kehadiran fisik.
Biodata Penulis*
Hendri Parjiga mulai menulis cerpen, puisi, dan esai sejak duduk di bangku SMA. Karya-karyanya banyak dimuat di media lokal Sumatera Barat seperti Harian Haluan, Singgalang, Semangat, dan Mingguan Canang. Seiring waktu, pria kelahiran Padang, 5 Februari ini terus mengasah kemampuannya hingga beberapa cerpennya menembus media ternama di Ibu Kota. Hanya saja, sejak berprofesi sebagai wartawan pada awal ’90-an, kesibukan sempat menjauhkan dirinya dari dunia sastra. Kini, semangat menulis cerpen kembali menyala dalam dirinya. *




