Oleh : Nurul Jannah*)
Ketika Diam Menjadi Bentuk Tertinggi dari Kekuatan
Pernah ada masa ketika hati terasa begitu penuh. Rasanya ingin sekali bercerita, ingin menumpahkan segala lelah, “Aku sudah sangat letih, sudah berusaha sejauh ini.” Namun kata-kata kerap berhenti di tenggorokan, karena terlalu banyak yang berdesakan ingin keluar sekaligus.
Dulu aku percaya bercerita akan meringankan. Ternyata, tidak setiap cerita melapangkan. Sebagiannya, justru menumbuhkan luka baru.
Pernah suatu waktu keberanian dikumpulkan untuk berbagi. Namun yang datang bukan lagi pemahaman, melainkan tafsir sepihak, bahkan penilaian yang tergesa.
“Kok bisa sampai di titik itu?”
“Seharusnya dari dulu bersikap begitu…”
Atau…
“Ah, itu sih biasa saja, kamu saja yang terlalu perasa…”
Kalimat-kalimat itu mungkin ringan bagi yang mengucap, namun bagi jiwa yang rapuh, ia menjelma seperti garam yang digosokkan ke luka terbuka.
Sejak saat itu, aku tahu, tidak semua orang mampu menampung luka orang lain dengan hati bersih dan utuh.
Ada yang mendengar untuk memahami. Ada yang mendengar untuk menilai. Ada yang mendengar untuk menguatkan. Namun ada pula yang mendengar hanya untuk merasa lebih benar.
“Kok sekarang jarang bercerita?”
“Iya, sedang belajar memilih tempat yang aman untuk menitipkan perasaan.”
Karena hati pun ternyata memiliki batas daya tahan. Jika terlalu sering menjelaskan kepada orang yang keliru, perasaan lelah bisa datang dua kali. Lelah oleh masalah, dan lelah oleh dari respon orang.
Kini, aku memilih diam. Belajar menjadi lebih tenang. Tidak lagi reaktif. Tidak lagi tergesa membela diri. Tidak lagi sibuk mengklarifikasi kepada semua orang. Sebab ketenteraman batin jauh lebih berharga daripada kemenangan dalam perdebatan.
Toh, tidak semua kesalahpahaman harus diluruskan. Toh, tidak semua tudingan juga perlu dijawab. Dan, memang tidak semua cerita pantas diwartakan.
Rasa letih akan lebih aman saat ditumpahkan dalam doa. Rasa kecewa pun akan menjadi lebih ringan ketika dipeluk dalam sujud. Demikian pula luka. Akan lebih cepat pulih, apabila diserahkan seluruhnya kepada Allah. Cukup Allah saja yang mengetahui, dan Itu lebih dari segalanya. Sebab Dia memahami apa pun, sebelum segala jenis air mata jatuh.❤️
Jakarta, 20 Januari 2026
Nurul Jannah adalah seorang dosen lingkungan di IPB University, lulusan doktor lingkungan dari Hiroshima University, penulis produktif, dan penggerak literasi*)




