Oleh Prof Asasriwarni*
DALAM banyak kajian keislaman, surga kerap digambarkan sebagai puncak kenikmatan yang tak terbayangkan. Sungai mengalir, istana megah, kenikmatan tanpa batas.
Namun sebuah sabda Nabi Muhammad SAW yang diriwayatkan dalam Nashaaihul ‘Ibad mengajak kita untuk berpikir lebih dalam dan lebih tinggi dari sekadar gambaran fisik surga itu sendiri.
Rasulullah SAW menyebutkan bahwa di surga terdapat empat perkara yang nilainya bahkan lebih baik daripada surga itu sendiri. Ini bukan pernyataan biasa. Tapi adalah ajakan untuk menggeser cara pandang: bahwa tujuan akhir seorang mukmin bukan semata-mata tempat, melainkan makna, keadaan, dan relasi spiritual dengan Allah SWT.
Pertama, kekalnya kehidupan di surga. Surga bukan hanya indah, tetapi abadi. Dalam kehidupan dunia, kebahagiaan apa pun selalu dibayangi ketakutan akan kehilangan.
Kekekalan di surga menghapus kecemasan eksistensial itu. Kenikmatan yang tidak terputus itulah yang menjadikannya lebih bernilai daripada keindahan surga itu sendiri.
Kedua, pelayanan para malaikat kepada ahli surga. Ini menunjukkan kemuliaan luar biasa bagi manusia yang beriman dan bertakwa. Malaikat adalah makhluk yang tidak pernah bermaksiat, selalu taat, dan mulia di sisi Allah.
Ketika mereka diperintahkan melayani ahli surga, di situ tersirat pesan penting: derajat manusia bisa melampaui sebagian malaikat, bukan karena asal penciptaan, tetapi karena iman, amal, dan ketakwaan.
Ketiga, bertetangga dengan para nabi. Ini bukan sekadar kedekatan fisik, tetapi kedekatan nilai dan perjuangan. Para nabi adalah figur yang hidupnya penuh pengorbanan, kejujuran, dan keteguhan iman. Bertetangga dengan mereka adalah simbol keberhasilan seseorang meneladani akhlak dan jalan hidup para utusan Allah.
Keempat—dan inilah puncaknya—keridaan Allah Ta’ala. Inilah kenikmatan tertinggi yang melampaui seluruh gambaran surga. Ketika Allah ridha, tidak ada lagi kegelisahan, ketakutan, atau penyesalan. Keridaan Allah adalah tujuan hakiki dari seluruh ibadah, doa, dan perjuangan seorang mukmin.
Sebaliknya, Rasulullah SAW juga menggambarkan bahwa di neraka terdapat empat hal yang lebih buruk daripada neraka itu sendiri: kekekalan di dalamnya, kerasnya peringatan malaikat, bertetangga dengan setan, dan yang paling mengerikan kebencian Allah SWT. Ini mempertegas bahwa penderitaan terbesar bukan sekadar api, tetapi terputusnya hubungan rahmat antara hamba dan Rabb-nya.
Dari sini kita belajar bahwa iman tidak boleh berhenti pada ambisi masuk surga atau takut neraka semata, tetapi harus tumbuh menjadi kerinduan akan keridaan Allah. Ibadah bukan hanya transaksi pahala, melainkan perjalanan cinta dan ketundukan.
Maka pertanyaannya bagi kita hari ini bukan hanya: apakah aku ingin masuk surga? Tetapi lebih dalam dari itu, apakah aku hidup dengan cara yang diridhai Allah?
Semoga Allah senantiasa membimbing kita untuk meningkatkan ketakwaan, memperbaiki niat, dan menjadikan keridaan-Nya sebagai tujuan tertinggi dalam setiap langkah kehidupan. Aamiin. []
Prof Asasriwarni adalah Guru Besar UIN Imam Bonjol Padang, Ketua Dewan Pertimbangan MUI Sumbar, Anggota Wantim MUI Pusat, A’wan PB NU Pusat*)




