PADANG, FOKUSSUMBAR.COM— Budayawan Sumatera Barat, Pinto Janir, menegaskan bahwa Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Sumbar bukan sekadar ajang kompetisi olahraga, melainkan simbol kebangkitan semangat dan daya juang masyarakat Minangkabau.
Menurut Ketua Umum Lembaga Masyarakat Budaya (LMB) Minangkabau itu, penolakan terhadap Porprov justru bertentangan dengan filosofi hidup orang Minang yang dikenal gigih, kuat, dan pantang menyerah.
Ia menyebut Porprov sebagai wujud mentalitas orang menang yang selalu bangkit dari kegagalan dan keterpurukan.
“Orang Minangkabau berpantang mengibarkan “bendera putih” tanda ketidakmampuan. Orang Minang itu kuat, kuat berpikir, kuat bekerja, dan cepat bangkit setiap kali jatuh,” ujar Pinto Janir dalam keterangannya, Sabtu (24/1/2026).
Pinto menambahkan, Porprov menjadi pesan terbuka kepada bangsa dan dunia bahwa masyarakat Minangkabau memiliki semangat juang tinggi, terlebih di tengah kondisi nagari yang kerap dilanda bencana dan air mata.
“Porprov adalah simbol kebangkitan semangat dan kebangkitan pikiran. Ini bukan semata alek olahraga, tapi pernyataan bahwa kami orang Minangkabau adalah orang kuat,” tegasnya.
Porprov XVI Sumbar sendiri dijadwalkan berlangsung pada Juni–Juli 2026, sekaligus menandai kembalinya ajang olahraga terbesar di Ranah Minang setelah vakum selama delapan tahun. Porprov terakhir digelar pada 2018 dengan tuan rumah Padang Pariaman.
Vakumnya Porprov dalam rentang waktu tersebut dinilai berdampak signifikan terhadap prestasi dan pembinaan atlet daerah. Minimnya kompetisi berjenjang membuat proses talent scouting terhambat, jam tanding atlet berkurang, serta regenerasi atlet di sejumlah cabang olahraga tidak berjalan optimal.
Porprov selama ini menjadi tolok ukur pembinaan atlet kabupaten dan kota, sekaligus panggung lahirnya atlet-atlet potensial menuju level nasional.
Ketiadaan Porprov membuat banyak atlet kehilangan ruang aktualisasi dan motivasi kompetitif yang berkelanjutan.
Karena itu, pelaksanaan Porprov XVI Sumbar 2026 diharapkan menjadi momentum kebangkitan olahraga daerah, memperkuat pembinaan atlet, serta mengembalikan kultur kompetisi yang sehat di Sumatera Barat.
“Orang Minang bukan kumpulan orang kalah. Orang Minang adalah orang menang,” pungkas Pinto Janir. (jiga)




