Oleh : Dr. Nofi Yendri Sudiar, M.Si.*)
CUACA kini tidak lagi sekadar latar belakang kehidupan sehari-hari. Hujan yang turun terlalu deras, musim yang datang terlambat, atau panas yang berlangsung lebih lama dari biasanya telah berubah menjadi sumber risiko nyata bagi kehidupan dan ekonomi masyarakat.
Bencana hidrometeorologi—banjir, longsor, kekeringan, hingga gagal panen—muncul semakin sering dan semakin sulit diprediksi. Inilah wajah zaman cuaca ekstrem yang kini kita hadapi.
Dalam kondisi seperti ini, pertanyaan penting yang jarang diajukan adalah: bagaimana risiko cuaca ekstrem dikelola?
Selama ini, jawabannya hampir selalu sama—masyarakat menanggung dampaknya sendiri, lalu negara hadir setelah bencana terjadi melalui bantuan darurat. Pola ini mungkin cukup pada masa lalu, ketika cuaca relatif stabil. Namun di zaman cuaca ekstrem, pendekatan tersebut semakin rapuh.
Perubahan iklim telah menggeser cuaca dari sesuatu yang “bisa diantisipasi” menjadi sesuatu yang “harus dikelola risikonya”. Ketika hujan ekstrem dan musim tak menentu menjadi kejadian berulang, kerugian ekonomi tidak lagi bersifat kebetulan, melainkan sistemik.
Petani kehilangan panen, nelayan gagal melaut, pedagang kecil kehilangan penghasilan harian. Setiap kejadian ekstrem menciptakan guncangan ekonomi kecil yang jika terus berulang, perlahan menggerus ketahanan hidup masyarakat.
Sayangnya, sistem perlindungan yang tersedia belum banyak berubah. Bantuan pascabencana tetap menjadi andalan, padahal sifatnya terbatas dan sering datang setelah kerugian terlanjur terjadi. Bantuan juga tidak dirancang untuk mengembalikan kemampuan ekonomi secara cepat.
Dalam konteks inilah asuransi iklim menjadi relevan—bukan sebagai solusi tunggal, tetapi sebagai alat untuk berbagi risiko di tengah ketidakpastian cuaca.
Berbeda dengan asuransi konvensional yang menilai kerusakan fisik, asuransi iklim bekerja dengan cara yang lebih sederhana. Risiko dihitung berdasarkan indikator cuaca, seperti curah hujan atau suhu ekstrem.
Jika indikator tersebut melewati batas yang telah ditentukan, pembayaran dilakukan secara otomatis. Artinya, bantuan tidak perlu menunggu penilaian kerusakan di lapangan yang sering kali rumit dan memakan waktu.
Pendekatan ini penting di zaman cuaca ekstrem karena kecepatan menjadi kunci. Ketika mata pencaharian terganggu, keterlambatan bantuan berarti bertambahnya utang, hilangnya musim tanam, atau runtuhnya usaha kecil. Asuransi iklim dirancang untuk memberi kepastian finansial lebih cepat, sehingga masyarakat bisa segera bangkit tanpa harus menunggu belas kasihan.
Di Indonesia, konsep asuransi iklim sebenarnya sudah mulai diperkenalkan, meski masih terbatas. Beberapa skema asuransi berbasis indeks cuaca telah diuji coba untuk sektor pertanian. Ini menunjukkan bahwa secara teknis, asuransi iklim bisa diterapkan. Namun, tantangan sesungguhnya bukan pada teknologinya, melainkan pada kemauan menjadikannya bagian dari kebijakan publik yang lebih luas.
Banyak orang masih menganggap asuransi sebagai sesuatu yang rumit atau hanya relevan bagi kelompok tertentu. Padahal, di tengah cuaca ekstrem, asuransi justru menjadi jaring pengaman dasar. Tanpa perlindungan semacam ini, risiko iklim akan terus dibebankan kepada individu—terutama mereka yang paling rentan dan paling sedikit memiliki cadangan ekonomi.
Tentu saja, asuransi iklim bukan pengganti upaya mitigasi bencana atau perbaikan tata ruang. Ia tidak akan menghentikan hujan ekstrem atau mencegah sungai meluap. Namun, asuransi iklim dapat mencegah satu hal penting: jatuhnya masyarakat ke jurang kemiskinan setiap kali cuaca ekstrem terjadi. Dengan berbagi risiko, kerugian tidak lagi sepenuhnya ditanggung oleh korban.
Zaman cuaca ekstrem menuntut cara berpikir baru. Risiko tidak bisa lagi diperlakukan sebagai kejadian luar biasa yang datang sesekali. Ia telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Karena itu, kebijakan publik pun harus beralih dari sekadar penanganan darurat menuju pengelolaan risiko jangka panjang.
Asuransi iklim adalah salah satu instrumen yang menawarkan arah baru tersebut. Ia mengajarkan bahwa menghadapi cuaca ekstrem bukan hanya soal bertahan setelah bencana, tetapi soal mempersiapkan diri sebelum bencana datang.
Jika kita mengakui bahwa cuaca ekstrem adalah realitas zaman ini, maka mengelola risikonya—termasuk melalui asuransi iklim—bukan lagi pilihan tambahan, melainkan kebutuhan yang tak terelakkan. []
Penulis adalah Dosen Fisika, Koordinator Penanganan Perubahan Iklim (13) SDGs Center dan Kepala Research Center for Climate Change (RCCC) Universitas Negeri Padang.*)
