POC, Inovasi Olahan Pupuk Organik dari Mahasiswa KKN UNAND

Mahasiswa KKN UNAND 2026 mempraktekkan membuatan Pupuk Organik Cair (POC) secara langsung di depan KWT Sungai Dareh. (foto; ist)

Oleh : Najwa Khansa Azzahra *)

Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Andalas (UNAND) Tahun 2026 di Sungai Dareh, Dharmasraya, Sumatera Barat menghadirkan inovasi ramah lingkungan melalui program kerja bertajuk “Organik Asyik!”.

“Organik Asyik!”, adalah sebuah kegiatan edukatif yang berfokus pada pembuatan Pupuk Organik Cair (POC) berbahan dasar limbah organik rumah tangga sebagai upaya mendorong pertanian berkelanjutan dan mengurangi ketergantungan petani terhadap pupuk kimia.

Mahasiswa KKN UNAND 2026 melakukan sesi foto bersama KWT se-Sungai Dareh. (foto; ist)

Hal ini didasarkan oleh beberapa kondisi. Pertama, mengikut pada pertanian yang saat ini masih dihadapkan pada persoalan ketergantungan terhadap pupuk kimia yang digunakan secara masif dan berkelanjutan. Penggunaan pupuk kimia dalam jangka panjang terbukti dapat menurunkan kesuburan tanah, merusak struktur tanah, serta mengganggu keseimbangan mikroorganisme alami yang berperan penting dalam pertumbuhan tanaman.

Selain itu, residu pupuk kimia juga berpotensi mencemari air tanah dan lingkungan sekitar, sehingga tidak hanya berdampak pada produktivitas pertanian, tetapi juga pada kesehatan ekosistem dan masyarakat.

Kedua, mengikut pada pola perilaku masyarakat setempat dalam penangganan limbah rumah tangga. Limbah organik rumah tangga dan limbah pertanian seperti sisa sayuran, daun kering, serta jerami sejatinya menyimpan potensi besar untuk diolah menjadi pupuk organik yang bernilai guna.

Bahan-bahan yang selama ini kerap dianggap sebagai sampah tersebut dapat dimanfaatkan kembali untuk mendukung kesuburan tanah dan pertanian yang lebih ramah lingkungan. Namun, potensi ini belum dimanfaatkan secara optimal karena masih terbatasnya pengetahuan dan keterampilan masyarakat dalam mengolah limbah organik menjadi produk yang bermanfaat.

Dua kondisi inilah yang menarik inisiatif mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Andalas untuk menghadirkan inovasi pengolahan Pupuk Organik Cair (POC) melalui program kerja “Organik Asyik!”.

Program ini menjadi wujud nyata kontribusi mahasiswa dalam menjawab persoalan pertanian dan pengelolaan limbah organik di masyarakat. Melalui pendekatan edukatif dan praktik langsung, mahasiswa KKN UNAND berupaya mendorong pemanfaatan limbah organik rumah tangga menjadi produk bernilai guna, sekaligus menumbuhkan kesadaran masyarakat akan pentingnya pertanian yang lebih mandiri dan ramah lingkungan.

Kamil Mauliddi, selaku penanggung jawab program Organik Asyik!, menjelaskan bahwa program ini dilatarbelakangi oleh kondisi nyata yang ditemui mahasiswa selama pelaksanaan KKN di Nagari Sungai Dareh.

“Program ‘Organik Asyik!’ dilatarbelakangi oleh kondisi nyata yang kami temukan di lapangan selama KKN di Nagari Sungai Dareh. Banyak masyarakat yang memiliki aktivitas pertanian dan perkebunan, namun masih bergantung pada pupuk kimia.

“Di sisi lain, limbah organik rumah tangga seperti sisa sayur, buah, dan limbah dapur belum dikelola dengan baik dan cenderung dibuang begitu saja,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa kondisi tersebut mendorong mahasiswa KKN untuk menghadirkan solusi yang mudah diterapkan oleh masyarakat.

“Melihat kondisi tersebut, kami berinisiatif menghadirkan Pupuk Organik Cair (POC) sebagai solusi yang sederhana, murah, dan mudah diterapkan. POC dipilih karena bahan bakunya tersedia di sekitar masyarakat dan proses pembuatannya tidak rumit. Melalui program ‘Organik Asyik!’, kami ingin menggabungkan dua isu sekaligus, yaitu pengelolaan limbah organik dan peningkatan kualitas pertanian yang lebih ramah lingkungan. Harapannya, masyarakat tidak hanya mendapatkan manfaat secara ekonomi, tetapi juga mulai terbiasa dengan praktik pertanian berkelanjutan,” jelasnya.

Dalam pelaksanaannya, pembuatan Pupuk Organik Cair (POC) pada program Organik Asyik! memanfaatkan bahan-bahan sederhana yang mudah ditemukan di lingkungan sekitar masyarakat. Bahan utama yang digunakan berasal dari limbah organik rumah tangga, seperti sisa sayuran dan buah-buahan, yang dikombinasikan dengan batang pisang sebagai sumber bahan organik.

Untuk mendukung proses penguraian alami, digunakan gula merah sebagai sumber energi bagi mikroorganisme, air cucian beras, serta starter mikroorganisme alami seperti EM4.

Seluruh proses pengolahan dilakukan dengan menggunakan peralatan sederhana yang umum dimiliki masyarakat, seperti ember atau jerigen plastik bertutup rapat sebagai wadah fermentasi, serta botol atau jerigen kecil untuk penyimpanan hasil pupuk.

Pemilihan bahan dan alat ini disesuaikan dengan kondisi masyarakat setempat agar pembuatan POC dapat diterapkan secara mandiri tanpa memerlukan biaya besar atau teknologi khusus.

Secara umum, pengolahan POC dilakukan melalui proses fermentasi alami dalam jangka waktu tertentu hingga menghasilkan pupuk cair yang siap digunakan. Selama proses tersebut, mahasiswa KKN melakukan pendampingan dan pemantauan untuk memastikan kualitas pupuk tetap terjaga.

POC yang dihasilkan memiliki ciri khas berupa warna kecoklatan dan aroma fermentasi yang tidak menyengat, sebagai indikator bahwa pupuk telah siap dimanfaatkan untuk mendukung pertanian ramah lingkungan.

Pemanfaatan Pupuk Organik Cair (POC) melalui program Organik Asyik! memberikan berbagai manfaat bagi masyarakat, khususnya petani di Nagari Sungai Dareh. Berdasarkan TOR kegiatan, POC berperan dalam meningkatkan kesuburan tanah dengan menambah kandungan bahan organik serta mendukung aktivitas mikroorganisme tanah.

Selain itu, penggunaan POC membantu memperbaiki struktur tanah dan meningkatkan daya serap air, sehingga mendukung pertumbuhan tanaman secara lebih alami dan berkelanjutan.

Jika dibandingkan dengan pupuk kimia, POC dinilai lebih ramah lingkungan dan aman dalam jangka panjang. Penggunaan pupuk kimia secara berlebihan diketahui dapat menyebabkan penurunan kualitas tanah, perubahan pH, hingga pencemaran lingkungan.

Sebaliknya, POC tidak meninggalkan residu berbahaya dan justru membantu menjaga keseimbangan ekosistem tanah. Dari sisi ekonomi, POC juga memberikan keuntungan karena dapat diproduksi secara mandiri dari limbah organik rumah tangga, sehingga membantu petani mengurangi biaya produksi pertanian.

Lebih jauh, pemanfaatan POC juga berdampak pada peningkatan kesadaran masyarakat terhadap pengelolaan limbah organik. Limbah dapur yang sebelumnya dibuang kini dapat diolah menjadi produk bernilai guna.

Melalui program Organik Asyik!, mahasiswa KKN Universitas Andalas tidak hanya memperkenalkan alternatif pupuk ramah lingkungan, tetapi juga mendorong terbentuknya praktik pertanian yang lebih mandiri, ekonomis, dan berkelanjutan di tingkat masyarakat.

Keberlanjutan program Organik Asyik! menjadi salah satu aspek yang ditekankan oleh mahasiswa KKN Universitas Andalas. Program ini dinilai memiliki potensi besar untuk terus dikembangkan oleh masyarakat meskipun masa KKN telah berakhir.

Konsep yang sederhana, biaya yang relatif rendah, serta ketersediaan bahan baku di lingkungan sekitar menjadi faktor utama yang mendukung keberlanjutan program tersebut.

Kamil Mauliddi menyampaikan bahwa ‘Organik Asyik!’ dirancang agar mudah diterapkan secara mandiri oleh masyarakat. “Program ‘Organik Asyik!’ memiliki potensi yang cukup besar untuk dikembangkan dan dilanjutkan oleh masyarakat setelah KKN berakhir.

Hal ini karena konsep dan praktik yang ditawarkan relatif sederhana serta tidak membutuhkan biaya besar. Bahan-bahan POC juga mudah ditemukan di lingkungan sekitar, sehingga masyarakat tidak bergantung pada pihak luar.

Ia menambahkan bahwa manfaat program ini dapat dirasakan secara langsung oleh masyarakat.

“Program ini bersifat aplikatif dan manfaatnya bisa langsung dirasakan, baik untuk tanaman pekarangan maupun pertanian skala kecil. Jika masyarakat sudah terbiasa dan melihat hasilnya, program ini bisa berkembang menjadi kebiasaan baru, bahkan berpotensi menjadi kegiatan kelompok atau usaha kecil berbasis pupuk organik. Dengan adanya pendampingan awal selama KKN, saya yakin masyarakat memiliki bekal pengetahuan yang cukup untuk melanjutkannya secara mandiri,” tutupnya.

Secara keseluruhan, program “Organik Asyik!” berkontribusi dalam mendorong perubahan pola pikir masyarakat terhadap pengelolaan limbah rumah tangga, meskipun perubahan tersebut tidak terjadi secara instan.

Melalui kegiatan sosialisasi dan praktik pembuatan Pupuk Organik Cair (POC), masyarakat mulai memahami bahwa limbah organik bukan sekadar sampah, melainkan memiliki nilai guna apabila dikelola dengan baik.

Masyarakat yang sebelumnya terbiasa membuang sisa makanan dan limbah dapur kini mulai melihat adanya alternatif pemanfaatan untuk kebutuhan pertanian, baik di pekarangan maupun skala kecil. Setidaknya, program ini membuka wawasan dan menumbuhkan kesadaran awal bahwa pengelolaan limbah dapat dimulai dari rumah dengan cara yang sederhana.

Perubahan pola pikir tersebut menjadi langkah penting menuju perilaku masyarakat yang lebih peduli lingkungan serta mendukung praktik pertanian yang berkelanjutan. []

Mahasiswi jurusan Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Andalas*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *