Oleh : Nurul Jannah*)
Ruang kecil tempat aku boleh menjadi diri sendiri
Setiap orang punya satu baju yang paling sering dipakai. Tentu saja, bukan selalu yang paling bagus. Bukan juga yang paling mahal. Dan, biasanya bukan pula yang paling berkesan karena banyak memori. Tapi adalah yang paling nyaman.
Saking nyamannya, untuk si baju itu, sampai dikenal istilah khusus nan keramat, yaitu cuci-kering-pakai. Ulang lagi. Begitu terus.
Yang Selalu Dipilih, Tanpa Mikir
Pagi itu, lemari baju dibuka seperti biasa. Tangan bergerak cepat, tanpa ragu, langsung menuju gantungan yang sama.
Nah, baju itu lagi yang terpilih. Padahal ada banyak pilihan. Ada yang lebih baru. Lebih rapi. Lebih menarik dilihat. Lebih “pantas” kalau kebetulan harus difoto. Tapi entah kenapa, tangan ini selalu tahu harus memilih yang mana.
Dari dapur terdengar suara yang sudah sangat akrab, “Baju itu lagi, Mbak?”
“Iya. Karena baju ini yang paling enak dipakai.”
Kalimat sederhana. Tapi maknanya jauh lebih dalam dari yang terdengar.
Baju itu sudah tidak secerah dulu. Lehernya sedikit melar. Bagian kancingnya sudah dua kali dijahit ulang. Bagian Lenganpun ada sedikit celah bekas robek. Tapi bahannya memang begitu bersahabat di kulit. Saat dipakai, terasa enak, terasa pas dan nyaman di body.
Rasanya tidak perlu menyesuaikan apa-apa lagi. Langsung sreg. Langsung merasa jadi diri sendiri.
Teman di Hari-Hari Biasa
Baju itu selalu menemani hari-hari santaiku. Hari tanpa tamu. Hari tanpa agenda penting. Hari ketika aku hanya ingin menjadi diri sendiri tanpa perlu ribet terlihat rapi.
Baju itu biasa dipakai di agenda informalku. Apa pun momennya. Mulai dari menyapu lantai, duduk santai sambil membaca novel, hingga menikmati secangkir teh hangat bersama pisang goreng hangat kesayangan.
Sampai Jihan, anak gadisku, satu hari bertanya dengan nada cukup serius “Kenapa Ibu suka banget pakai baju itu?”
“Karena kalau pakai baju ini, Ibu merasa jadi diri sendiri,” jawabku spontan.
Ia pun tertawa lepas mendengar jawabanku yang barangkali terasa aneh di telinganya.
“Emang kalau pakai baju lain, nggak jadi diri sendiri?”
Aku jadi ikutan tertawa. Ternyata, tanpa disadari, kita semua punya baju kesayangan, ‘baju paling nyaman’, baju yang paling sering dipakai. Bukan hanya nyaman di badan. Tapi juga di hati.
Di situlah kita merasa punya ruang me time. Ruang di mana kita tidak perlu berpura-pura. Tidak perlu terlihat selalu kuat. Tidak perlu terlihat selalu baik-baik saja.
Ruang di mana kita boleh lelah. Boleh diam. Boleh merasa apa adanya.
Baju Bagus untuk Dunia
Namun, saat keluar rumah, kita sering memakai “baju yang lebih bagus.”
Maka, kita pun mendadak berubah. Menjadi versi lain. Versi berbeda. Lebih rapi. Lebih stabil. Lebih tenang. Bahkan, terlihat lebih mampu. Tak peduli hati sedang kusut, pikiran sedang penuh, atau dada sedang berat. Toh, dunia hanya melihat penampilan luarnya saja.
Yang Selalu Ingin Dijaga
“Ibu, kalau baju ternyaman nya rusak, gimana?” Jihan bertanya lagi. Nampaknya, ia masih penasaran.
“Ya beli lagi dong. Yang sama persis.”
Kami pun terbahak bersama.
Tapi di dalam hati, aku tahu, yang ingin dijaga sebenarnya bukan kainnya. Melainkan rasa nyaman itu. Rasa bersahabat itu. Rasa diterima itu.
Dan tetiba aku pun ingin memeluk baju kesayangan itu, sekedar ingin menyampaikan rasa terima kasih dan apresiasiku, karena sudah menerima aku apa adanya.
Karena pada akhirnya, kita semua hanya ingin punya satu ruang istimewa, di mana kita bisa merasa sangat nyaman menjadi diri sendiri. Kapanpun dan di mana pun kita berada.🌹❤️❤🔥
Jakarta, 3 Februari 2026
Nurul Jannah adalah seorang dosen lingkungan di IPB University, lulusan doktor lingkungan dari Hiroshima University, penulis produktif, dan penggerak literasi*)




