MACET tak selalu identik dengan sumpah serapah, wajah kusut, dan waktu yang terbuang. Di jalan Padang–Solok, tepatnya di jalur legendaris Sitinjau Lauik, kemacetan justru kerap berubah menjadi pintu rezeki.
Di ruas jalan berliku dengan tanjakan tajam ini, mulai dari Lubuk Silasih, Panorama I hingga Panorama II, kemacetan nyaris menjadi “jadwal tetap”.
Truk-truk besar menggeram tertatih menanjak, asap knalpot bercampur debu, suara klakson bersahut-sahutan, sementara deretan mobil mengular, bergerak sedikit lalu berhenti lagi. Kejadian itu berlangsung berjam-jam.
Di tengah kekacauan itu, sepeda motor justru lincah menyelinap.
Rudiansyah (32) sudah hafal betul ritme Sitinjau Lauik. Pria asal Indarung, Kota Padang ini awalnya pengemudi ojek online. Namun ketika macet panjang menjadi pemandangan harian, dia memilih beralih menjadi ojek konvensional dadakan di jalur Padang–Solok.
“Kalau macet panjang, motor itu jadi emas,” katanya kepada fokussumbar.com di sela macet, Selasa (3/2/2025), sambil tersenyum.
Biasanya, penumpang Rudi adalah orang-orang yang dikejar waktu. Calon penumpang pesawat yang tak mau ketinggalan jadwal di Bandara Internasional Minangkabau (BIM), pekerja dengan urusan mendesak, hingga warga yang sudah kelelahan terjebak berjam-jam di dalam mobil.
Tarifnya tentu tak murah, tapi sepadan dengan risiko dan kebutuhan. Dari Lubuk Silasih ke BIM, Rudi mematok Rp300 ribu hingga Rp350 ribu. Jika hanya sampai Indarung, Simpang Lubuk Begalung, atau hingga titik kemacetan berakhir, kisaran Rp150 ribu sampai Rp200 ribu.
“Bisa dinegosiasikan. Tergantung kesepakatan. Tapi biasanya angkanya tak jauh beda,” ujar ayah tiga anak itu.
Kalau sedang mujur, Rudi bisa mengangkut dua hingga tiga penumpang dalam sehari. Cukup untuk membuatnya pulang dengan senyum dan harapan esok hari. Namun nasib ojek di jalanan tak selalu ramah. Ada hari-hari ketika dia pulang tanpa satu pun penumpang.
Saat macet lengang atau order sepi, Rudi bersama pengemudi ojek lainnya biasa mangkal di sekitar Rumah Makan Mintuo, tidak jauh dari perbatasan Solok-Padang. Ngopi, bercanda, menunggu kabar macet sambil berharap suara klakson kembali memanggil rezeki. Tak jarang, malam datang dan mereka pulang dengan tangan kosong.
Cerita serupa juga dirasakan Arman (24). Pemuda ini baru menekuni profesi ojek konvensional sejak banjir bandang menerjang sejumlah wilayah Sumbar pada November 2025 lalu. Saat itu, jalur Malibo Anai terputus, memaksa arus lalu lintas bertumpu ke Sitinjau Lauik.
Akibatnya bisa ditebak. Jalan sempit dengan tanjakan ekstrem membuat truk dan mobil besar kesulitan mendaki. Sekali ada kendaraan mogok, antrean langsung mengular panjang. Berjam-jam.
“Dari situ saya mulai kepikiran jadi tukang ojek,” kata Arman.
Apalagi, tiga bulan sebelumnya ia baru saja di- PHK dari sebuah perusahaan swasta. Kehilangan pekerjaan membuatnya harus memutar otak agar dapur tetap mengepul. Sitinjau Lauik pun menjadi ladang baru.
Tak jarang, pelanggan Arman adalah orang-orang yang sudah putus asa di balik kemudi. Keringat bercucuran, jam terus berjalan, sementara jarum penunjuk waktu seperti melaju terlalu cepat.
“Biasanya mereka buru-buru. Ada yang ke bandara, ada yang urusan pekerjaan dan keluarga,” ujarnya.
Di jalur Sitinjau Lauik, kemacetan adalah ujian kesabaran bagi banyak orang. Namun bagi Rudiansyah, Arman, dan para tukang ojek lainnya, kemacetan adalah denyut nadi penghidupan. Di antara tanjakan curam, tikungan tajam, dan suara klakson yang tak pernah benar-benar berhenti, mereka mengais rezeki. Pelan tapi pasti.
Macet memang menyebalkan. Tapi di Sitinjau Lauik, macet juga mengajarkan satu hal, di jalanan yang tak pernah ramah, selalu ada mereka yang belajar bertahan, mencari peluang, dan tetap pulang dengan harapan. (hendri parjiga)




