“Pesan Tak Terkirim”

Oleh: Nurul Jannah*)

Yang tertahan di layar, sering kali justru menyelamatkan hati.

Hampir semua dari kita pernah berada di titik itu. Mengetik pesan panjang, lalu menghapusnya sebelum terkirim.

Kata-kata sudah tersusun rapi. Perasaan sudah disampaikan dengan jujur. Namun di detik terakhir, mendadak jempol berhenti. Layar ditatap lebih lama dari biasanya.

“Sudahlah… tak usah dikirim.”

Dan kita malah memilih mode hapus.

Maka, malam pun kembali sunyi. Tapi dada tetap ramai.

Dari situ kita sadar, kejujuran kadang terasa terlalu berisiko untuk disampaikan secara terbuka.

“Aku sebenarnya lelah…”
“Aku sebenarnya kecewa…”
“Aku sebenarnya ingin dimengerti…”

Kalimat itu jujur. Terlalu jujur. Kursor kecil berkedip di ujung pesan, seolah ikut menunggu keputusan.

Kirim?

Atau hapus?

Dan entah kenapa, yang lebih sering dipilih adalah mode hapus.

“Kenapa nggak jadi dikirim?” tanya Fetty, sahabatku, suatu hari.

“Takut bikin suasana jadi tidak enak,” jawabku pelan.

“Padahal itu perasaanmu sendiri, kan?”

Aku mengangguk, membenarkan.

“Lalu kenapa perasaanmu terasa seperti gangguan?”, Fetty masih mengejar.

Dan, pertanyaan itu menggantung lama. Tanpa ada jawaban jelas.

Karena mungkin tanpa sadar, sejak dulu kita belajar untuk tidak merepotkan orang lain dengan perasaan kita.

Semua Berakhir di Draft

Akhirnya, banyak kejujuran menguap begitu saja.

Ada pesan yang tak jadi dikirim ke orang tua, tentang lelah menjadi anak yang selalu terlihat kuat. Ada pesan yang tak jadi dikirim ke pasangan, tentang jarak yang mulai terasa, tapi sulit dijelaskan. Ada pesan yang tak jadi dikirim ke teman, tentang kecewa yang dipendam diam-diam.

Dan ada pesan yang tak jadi dikirim ke diri sendiri, tentang luka yang tak pernah benar-benar diakui. Semua berakhir di tempat yang sama: tidak terkirim.

Hati yang Hanya Ingin Bicara

“Kalau tidak dikirim, kenapa tetap diketik?” tanya Puji, mentor menulisku.

“Karena hati butuh bicara.”

“Meski tidak ada yang membaca?”

“Iya. Meski tidak ada yang membaca.”

Puji tersenyum kecil.
“Berarti sebenarnya kamu saat ini sedang belajar jujur pada dirimu sendiri.”

Nah, kalimat itu terasa sangat pas.

Tidak Semua Kejujuran Harus Disampaikan

Pesan yang diketik lalu dihapus bukan tanda kelemahan. Justru itu tanda bahwa hati masih hidup.

Hanya saja, kita belum siap membagikannya. Dan itu tidak apa-apa.

Karena, sebagian kejujuran memang cukup diakui dulu di dalam diri sendiri.

Saat Pesan Disimpan, Bukan Dihapus

Satu malam, aku mencoba tidak menghapusnya.

Aku sengaja menulis panjang. Sangat panjang. Semua unek-unek yang terasa membebani, aku keluarkan.

Jempolku sempat melayang di tombol kirim. Tapi tidak menekannya. Cukup menahannya.

Kali ini, aku biarkan pesan itu tersimpan aman. Dan yang kurasakan kemudian adalah dada yang jauh lebih ringan.

“Lalu apa gunanya menulis panjang kalau bukan untuk dikirim?” tanya Maria, mentor menulisku yang lain.

“Untuk menyelamatkan hati yang mulai terasa sesak.”

Maka, jika malam ini kamu melakukannya lagi, mengetik pesan panjang, lalu menghapusnya, biasa saja, cool saja, jangan lagi pernah merasa galau. Apalagi merasa gagal. Itu jelas bukan kegagalan komunikasi. Itu adalah proses pelan hati yang sedang belajar jujur.

Karena kadang, yang paling kita butuhkan bukanlah orang lain membaca pesan kita, melainkan diri kita sendiri akhirnya mau mendengarnya. Sebab pada akhirnya, pesan yang tak pernah terkirim itu bukanlah tentang orang lain, melainkan tentang hati kita yang akhirnya berani pulang, didengar, dan dipahami oleh diri sendiri.❤️❤‍🔥🌹

Bogor, 4 Februari 2026

Nurul Jannah adalah seorang dosen lingkungan di IPB University, lulusan doktor lingkungan dari Hiroshima University, penulis produktif, dan penggerak literasi*)

Exit mobile version