ULANG tahun ke-64 menjadi momen yang tak sekadar bermakna, tetapi juga penuh simbol bagi Sengaja Budi Syukur, SH, Datuak Bandaro Jambak. Betapa tidak, tepat sehari setelah merayakan hari lahirnya pada Sabtu, 8 Februari 2026, Budi menerima Anugerah Tokoh Olahraga Nasional dari PWI Pusat dalam rangkaian Hari Pers Nasional (HPN) 2026 di Serang, Banten, Senin (9/2/2026).
Jika tidak aral melintang, penghargaan prestisius tersebut akan diserahkan langsung oleh Presiden RI Prabowo Subianto, sebuah pengakuan nasional atas pengabdian panjang yang dijalani tanpa hiruk-pikuk sorotan.
Dalam sejarah olahraga dan dinamika organisasi kemasyarakatan Sumatera Barat, tidak banyak tokoh yang pengaruhnya bertahan melampaui masa jabatan. Budi Syukur adalah satu dari sedikit nama yang dikenang bukan karena posisi, melainkan karena jejak pengabdian yang ia tanamkan.
Ia membangun dengan ketulusan, bekerja dalam kesenyapan, dan memberi tanpa pamrih. Di kalangan atlet, pelatih, pengurus, hingga masyarakat olahraga, namanya hidup sebagai simbol ketenangan, konsistensi, dan keteladanan.
Lahir di Padang, 8 Februari 1962, Budi tumbuh dalam nilai-nilai disiplin, kebersamaan, dan komitmen moral. Nilai itu pula yang membentuk gaya kepemimpinannya. Tenang, sistematis, dan berorientasi jangka panjang, baik sebagai pengusaha maupun sebagai pembina olahraga.
Latar Pendidikan dan Profesional
Jejak pendidikannya ditempa sejak SDN 41 Padang, SMPN 3 Padang, hingga SMAN 1 Padang. Ia kemudian menuntaskan Sarjana Hukum di Fakultas Hukum Universitas Andalas (1989).
Semangat belajar yang tak pernah padam membawanya meraih Magister Business Administration (MBA) dari Unimay University Malaysia pada 2025, sekaligus melanjutkan Magister Manajemen di Universitas Sumatera Barat.
Di dunia profesional, ia dipercaya sebagai Direktur Utama PT Bersama Sejahtera Mandiri, sebelum kiprahnya semakin luas di berbagai organisasi sosial, ekonomi, dan olahraga.
Budi Syukur dikenal sebagai figur yang selalu diandalkan dalam posisi strategis. Ia pernah dan masih dipercaya menjabat: Ketua Umum PKPS Sumbar, Ketua Umum ISMI Sumbar, Ketua DPD Organda Sumbar, Ketua Dewan Pertimbangan Kadin Sumbar, Ketua Dewan Penyantun KONI Sumbar, Dewan Kehormatan PMI Sumbar, Dewan Kehormatan Peradi Sumbar, Panghulu Suku Jambak Nagari Air Haji, Pesisir Selatan, dengan gelar Datuak Bandaro Jambak.
Namun, denyut pengabdiannya paling kuat terasa di dunia olahraga, tempat ia menanam pengaruh yang berkelanjutan.
Membangun Atletik Sumbar: Tiga Periode yang Mengubah Arah
Nama Budi Syukur tidak bisa dilepaskan dari kebangkitan atletik Sumatera Barat. Ia dipercaya memimpin Pengprov PASI Sumbar selama tiga periode, sebuah capaian langka yang mencerminkan kepercayaan kolektif pengurus kabupaten/kota.
Sejak bergabung di PASI pada 2010, Budi selalu terpilih secara aklamasi, bahkan ketika ia tidak sedang mencari jabatan. Ia membangun organisasi dengan disiplin, konsistensi, dan kesabaran.
Hasilnya nyata. Atletik Sumbar yang sebelumnya berjalan biasa, berubah menjadi kekuatan nasional yang disegani. Talenta muda bermunculan, sistem pembinaan tertata, dan pelatih bekerja dengan rasa aman.
Puncaknya pada Asian Games 2018, ketika 11 atlet Sumbar masuk pemusatan latihan nasional, sebuah sejarah tersendiri. Regenerasi juga terus berjalan, dibuktikan dengan prestasi atlet-atlet muda Sumbar di SEA Youth Athletics Championship.
Kepercayaan nasional pun datang. Budi ditunjuk sebagai Anggota Komisi Pemberdayaan Daerah PB PASI, dengan tugas membina wilayah Sumatera, dan dipercaya selama dua periode kepengurusan.
Sebelum identik dengan atletik, Budi Syukur lebih dahulu mengabdikan diri di Persatuan Renang Seluruh Indonesia (PRSI) Sumbar. Ia hadir langsung di pinggir kolam, mendengar keluhan atlet, memahami beban pelatih, dan hadir saat dukungan paling dibutuhkan.
Pada 2008, SIWO PWI Sumbar menganugerahkan Pembina Olahraga Terbaik kepadanya. Wartawan senior Firdaus Abie kala itu menyebut:
“Beliau bukan hanya pengurus. Ia adalah pelepas dahaga di tengah kehausan. Tempat pulang atlet ketika kehilangan arah.”
Renang Sumbar pun bangkit, melahirkan prestasi PON dan nama-nama seperti Harizal dan Yosita Hapsari, yang mengharumkan daerah di level nasional.
Ketua Kontingen Sumbar PON XIX/2016
Kepercayaan besar kembali diberikan saat ia ditunjuk sebagai Ketua Kontingen Sumbar PON XIX/2016 di Jawa Barat.
Di bawah kepemimpinannya, Sumbar meraih 14 emas, 10 perak, 20 perunggu
Hasil ini menempatkan Sumbar di peringkat 11 nasional, melampaui capaian PON 2012 di Riau. Banyak pelatih dan ofisial menilai ketenangan serta kehadiran moral Budi menjadi faktor kunci menjaga stabilitas psikologis kontingen.
Bagi Budi Syukur, olahraga bukan semata medali, melainkan proses membangun karakter. Filosofinya sederhana namun dalam.
“Saya menikmati proses tanpa resah. Semangat mereka seperti darah segar yang terus mengaliri tubuh saya.”
Warisan terbesarnya bukan jabatan, melainkan:
Sistem pembinaan berkelanjutan.
*Hubungan emosional kuat antar atlet, pelatih, dan pengurus.
*Organisasi yang tetap berjalan meski ia tak lagi memimpin.
*Generasi atlet dan pelatih yang tumbuh dalam disiplin.
Sedikit tokoh yang tetap dikenang setelah masa jabatan berakhir. S. Budi Syukur adalah salah satunya.
Ia bukan hanya tokoh olahraga, melainkan pembina, pemimpin, dan pelayan masyarakat. Dalam setiap langkah atlet Sumatera Barat. Di lintasan, di kolam, di podium, terselip jejak tangan yang pernah membimbing.
Sebagian tokoh tercatat dalam arsip.
Sedikit yang tercatat dalam hati.
Dan Budi Syukur berada dalam kelompok kecil itu. Mereka yang memberi tanpa meminta dikenang, namun justru dikenang karena ketulusan yang mereka beri. (hendri parjiga)




