Oleh : Nurul Jannah*)
Buku ini menuntun, menyentuh, lalu diam-diam menetap di dada pembacanya.
Antologi Ibu: Di Pangkuannya Dunia Menemukan Rumah menghadirkan tujuh suara perempuan yang menulis bukan untuk memamerkan kepiawaian, melainkan untuk menunaikan rindu yang lama disimpan.
Sejak puisi pembuka hingga epilog, pembaca diajak masuk ke ruang paling pribadi dalam hidup manusia: ruang di mana kata “ibu” tidak pernah menjadi biasa.
Membaca buku ini terasa seperti duduk kembali di pangkuan seseorang yang sangat kita kenal, meski mungkin sudah lama tak lagi kita peluk.
Tujuh Penulis, Satu Denyut yang Sama
Fetty, Maria, Minarni, Munasri, Nurul, Puji, dan Shinta menulis dari kedalaman yang sama, yaitu kedalaman hati seorang anak. Perjalanan hidup mereka berbeda, latar budaya berbeda, pengalaman berbeda, namun semuanya dipertemukan oleh satu sumber cahaya: perempuan yang pernah menimang mereka di awal kehidupan.
Kejujuran emosional menjadi nadi buku ini. Tidak ada yang dibuat-buat. Tidak ada yang dipaksakan.
Kalimat-kalimatnya mengalir seperti orang yang sedang bercerita pelan tentang seseorang yang sangat dicintai, sambil menahan air mata agar tidak jatuh terlalu deras.
Antologi ini tidak banyak dibicarakan, ia dibiarkan berbicara sendiri lewat suara para penulisnya. Dan suaranya… sangat jujur.
Fetty Fajriati: Ikhlas yang Paling Berat
“Mama memilih pergi tanpa membangunkan siapa pun; tanpa membuat panik siapa pun. Seperti Mama yang sepanjang hidupnya tak pernah ingin merepotkan kami… Enam bulan adalah waktu yang Allah berikan agar hati kami perlahan kuat, agar kami tidak patah saat pintu perpisahan benar-benar terbuka.”
Fetty tidak menulis tentang kematian. Ia menulis tentang proses belajar merelakan, setahap demi setahap. Pembaca seolah duduk di sisi ranjang itu, menyaksikan detik-detik sunyi, dan merasakan bagaimana seorang anak mencoba ikhlas… pelan-pelan.
Maria Ulfa: Ibu yang Bekerja Tanpa Pernah Mengeluh
“Dari tangan yang sederhana itu, Allah menitipkan banyak pelajaran yang menuntun perjalanan hidupku hingga hari ini. Semoga setiap peluh, setiap langkah, dan setiap letih ibu menjadi amal jariyah yang tiada putus.”
Maria menghadirkan ibu sebagai perempuan pekerja, perempuan dapur, perempuan subuh. Tidak puitis, tidak dramatik. Justru di situlah kekuatannya: ketangguhan yang sangat nyata.
Minarni Masran: Doa di Ubun-ubun yang Tak Pernah Gagal
“Setiap mau berangkat sekolah kami selalu mencium tangan Amak dan Abak. Amak tidak lupa meraih kepala kami, mencium dan meniup ubun-ubun kami sambil membacakan doa terbaik untuk anak-anaknya. Dan kami yakin, doa-doa itu langsung menembus langit.”
Tulisan Minarni membuat pembaca terdiam. Ritual kecil yang dulu terasa biasa, ternyata menjadi pondasi besar dalam hidup.
Munasri Hadini: Senja, Laut, dan Ibu yang Menua
“Kugenggam jemarinya erat-erat. Getar halus tremor itu merambat mengikuti urat nadi dan menyatu dengan detak jantungku. Betapa banyak beban perjuangan hidup yang pernah ia tanggung…”
Munasri melukis ibu dalam lanskap senja yang sangat visual. Pembaca seperti berdiri di balkon itu, memandang laut itu, merasakan tangan renta itu. Sunyi yang indah, sekaligus menyayat.
Nurul Jannah: Ibu yang Tidak Pernah Benar-benar Pergi
“Ibu tidak pernah benar-benar pergi. Ia hanya berpindah alamat, dari rumah kecil yang dulu penuh suara, ke langit tinggi yang sunyinya tak pernah mampu dijangkau oleh panggilan anak-anaknya.”
Tulisan Nurul terasa reflektif dan spiritual. Ia tidak berbicara tentang kehilangan, melainkan tentang cara baru seorang ibu hadir dalam hidup anaknya.
Puji Setya Wilujeng : Sandaran yang Tak Pernah Disebut
“Ia tidak banyak bicara tentang cinta. Ia hadir dalam diam, dalam teh hangat di senja hari, dalam cara ia duduk menunggu kami pulang.”
Puji menulis selembut bisikan. Dan justru karena kelembutan itu, pembaca merasa sangat dekat. Ibu hadir dalam hal-hal kecil yang sering kita lupa.
Shintalya Azis: Luka, Humor, dan Cinta yang Jujur
“Anak kecil itu tidak mengerti kenapa tanggal bisa salah. Yang ia tahu hanya satu: ia ingin ibunya ada di hari ulang tahunnya.”
Shinta membawa warna berbeda. Ada dialog, ada dinamika keluarga, ada humor yang membuat kisahnya terasa sangat manusiawi. Hangat, nyata, dan menyentuh.
Mengapa Antologi Ini Begitu Pantas Dimiliki?
Karena setiap penulis menulis dari posisi yang sama: posisi seorang anak.
Dan saat membaca, pembaca tanpa sadar berpindah ke posisi itu juga.
Tiba-tiba kita teringat telepon yang belum kita lakukan. Pelukan yang sudah lama tidak kita beri. Doa yang mulai jarang kita kirim.
Tidak ada pembaca yang menutup buku ini dengan dada yang biasa-biasa saja.
Buku ini tidak memaksa pembaca menangis. Namun hampir mustahil membacanya tanpa mata yang berkaca-kaca.
Yang tertinggal adalah keinginan sederhana: ingin pulang, ingin memeluk ibu, atau ingin berdoa panjang untuk ibu yang sudah lebih dulu pulang.
Penutup
Antologi ini bukan hanya menyentuh sisi emosional, tetapi juga menyimpan nilai kultural dan spiritual yang kuat. Ia mengabadikan peran ibu dalam keluarga Indonesia. Ia menyampaikan bakti, doa, kesabaran, dan keikhlasan, hingga menjadi pengingat lintas generasi tentang arti pulang.
Maka, buku ini sangat pantas dijadikan hadiah untuk orang tua, dibaca oleh anak-anak yang telah dewasa, atau dinikmati siapa pun yang pernah merasakan cinta seorang ibu.
Membaca Antologi Ibu: Di Pangkuannya Dunia Menemukan Rumah; terasa seperti pulang ke tempat yang paling aman dalam hidup.
Di dalamnya, pembaca kembali menjadi anak kecil yang ingin bersandar, ingin dipeluk, ingin didoakan.
Setelah halaman terakhir ditutup, satu kesadaran hadir dan terasa mengendap di dada. Kita boleh saja terus tumbuh dewasa, tetapi cinta ibu di dalam diri kita tidak pernah ikut menua. ❤️🌹
Bogor, 11 Februari 2026
Nurul Jannah adalah seorang dosen lingkungan di IPB University, lulusan doktor lingkungan dari Hiroshima University, penulis produktif, dan penggerak literasi*)
