JAKARTA, FOKUSSUMBAR.COM –
Denny JA, seorang penulis dan penyair Indonesia, menerima Penghargaan Sastra Inovasi BRICS atas kontribusinya dalam mengembangkan genre puisi esai di Kairo beberapa waktu lalu. Penghargaan ini diserahkan oleh Pimpinan BRICS Indonesia Sastri Bakry pada 11 Februari 2026, di Hotel Aryaduta.
Hadiah yang diterima Denny JA berupa uang tunai sebesar 200 juta rupiah, plakat BRICS, buku lukisan eksklusif, dan kristal Asphour, asli Mesir dari Menteri Kebudayaan Mesir serta penerjemahan karya- karya ke 10 bahasa anggota BRICS
Turut hadir pada saat penyerahan penghargaan adalah Dikdik Sadikin, juri sastra BRICS Indonesia, Monica Anggi Jr, penulis dan perwakilan DJA Foundation.
Sastri Bakry yang juga ketua SatuPena Sumbar mewakili Denny JA menerima penghargaan tersebut di Kairo dari Vadim Terekhin, Direktur eksekutif Jaringan Sastra BRICS. Denny tidak berkesempatan hadir secara langsung pada acara seremonial penghargaan di Hall Internasional, Cairo International Book Fair tgl 25 Januari lalu.
Dalam pidato kemenangannya yang dibacakan oleh Sastri Bakry, Denny JA menyampaikan beberapa hal penting pada upacara BRICS Literature Award 2025,
“Jika sastra mampu melakukan satu hal, biarkan ia mengingatkan kita bahwa setiap luka adalah pintu, dan setiap cerita adalah jembatan.”
Denny menekankan peran sastra sebagai penghubung antara pengalaman manusia dan harapan untuk masa depan.
Denny juga mengajak penulis muda untuk tidak meremehkan suara dan imajinasi mereka sendiri. Ia mendorong penulis untuk terus berkarya dengan kreatif.
“Inovasi sastra adalah jembatan antara kebenaran yang kita rasakan dan kebenaran yang akhirnya kita berani ucapkan.”
Ia menekankan pentingnya inovasi dalam sastra untuk mengungkapkan kebenaran dan emosi manusia. Keberanian berkarya meski dikritisi banyak orang.
Dalam pidatonya Denny juga mengkritisi kanon sastra global yang selama ini terlalu condong pada satu belahan dunia. Padahal, manusia tidak bernafas dari satu paru-paru saja.
Ia mengkritik terhadap dominasi sastra Barat dan seruan untuk lebih menghargai karya sastra dari dunia Selatan.
Pidato Denny ini mencerminkan visi Denny JA tentang peran sastra dalam membangun empati dan perdamaian global. Ia tidak hanya menulis, tetapi juga melihat Sastra dalam geopolitik dan hubungan antar budaya.
“Kemenangan sastra di ruang internasional adalah kebanggaan tetapi membawa puisi Indonesia ke tengah dunia berarti mengenalkan budaya kita di mata dunia” ujar Denny setelah menerima hadiah tersebut.
Sastri Bakry menyatakan bahwa penghargaan ini merupakan pengakuan atas kontribusi sastra Indonesia di tingkat internasional.
“Penghargaan ini tidak hanya mengapresiasi karya sastra yang luar biasa, tetapi juga mendorong pertukaran budaya dan kerja sama antar negara terutama anggota BRICS, saya lega telah menyelesaikan tugas dengan tuntas,” ujarnya.
Penghargaan Sastra BRICS adalah penghargaan internasional baru yang didirikan pada November 2024 untuk mendukung penulis-penulis kontemporer yang karyanya mencerminkan nilai budaya dan spiritual negara-negara BRICS. (rls)
