Cerpen Hendri Parjiga)*
LANGIT menggantung rendah di atas kampung itu. Awan berarak lamban, seolah ikut menahan napas. Di sebuah rumah sederhana berdinding semen yang catnya mulai kusam, Nurtina berdiri di ambang pintu dengan dada berdebar tak karuan.
Sejak sore, ia tak berhenti mondar-mandir.
Dari ruang tengah ke teras. Dari teras kembali ke ruang tengah. Lalu berdiri lagi di pintu, memandangi jalan selebar satu meter yang belum beraspal di depan rumah.
Batu-batu kerikil berserakan, menyisakan jejak roda yang samar. Setiap kali terdengar deru motor dari kejauhan, jantungnya seperti meletup, namun selalu kandas oleh suara yang menjauh.
Rafif belum pulang.
Ibu sebelas anak itu merapatkan jilbabnya, meski tak ada angin. Telapak tangannya dingin. Keringat tipis menempel di pelipis.
Nurtina bukan perempuan yang mudah panik. Hidup membesarkan sebelas anak dalam keterbatasan telah membuatnya tegar. Tetapi hari itu, keberaniannya seperti runtuh pelan-pelan.
Sore tadi, ketukan di pintu teras terdengar keras. Tidak seperti tamu biasa.
Tiga lelaki bertampang preman berdiri di sana. Tubuh tegap, sorot mata tajam, jaket kulit dan jeans yang tampak usang tetapi mahal. Salah seorang mengulum senyum yang terasa ganjil. Senyum yang tak sampai ke mata.
“Assalamualaikum. Ini rumah orang tua Rafif, wartawan Harian Berita Total? Apakah Rafif ada di rumah, Bu?” Nada suaranya santun. Terlalu santun.
Naluri Nurtina langsung memberi peringatan.
“Iya benar. Saya ibunya Rafif. Tapi Rafif belum pulang,” jawabnya hati-hati.
Ketiga preman itu saling berpandangan. Ada bisik-bisik pendek yang tak bisa ditangkapnya.
“Kami cuma titip pesan,” kata lelaki berwajah paling keras. Sorot matanya berubah. “Suruh Rafif hentikan berita soal jembatan itu. Kalau tidak… kami tak segan menghabisinya.”
Kalimat itu seperti petasan yang meledak tepat di depan wajahnya.
Tak cukup sampai di situ. Tangan lelaki itu menghantam meja kayu di teras. Cangkir bergetar, sendok beradu piring, suara nyaringnya memecah sore yang sunyi.
“Awas, Bu. Jangan sampai pesan ini tak disampaikan.”
Mereka pergi begitu saja, menyisakan debu dan ketakutan yang belum selesai.
Sejak itu, setiap menit serasa satu jam bagi Nurtina. Setiap bayangan di jalan seperti ancaman. Setiap suara motor seperti kemungkinan terburuk.
Nurtina teringat kembali berita-berita Rafif beberapa hari terakhir. Tulisan anaknya itu membuat kampung gempar.
Jembatan yang dibangun untuk menghubungkan dua kecamatan ternyata diduga tak sesuai bestek. Material tak sesuai spesifikasi. Campuran beton diragukan. Besi tulangan diduga dikurangi.
Dalam berita terbarunya, Rafif bahkan menyebut nama kontraktor pelaksana: PT Sinar Bumi Sunyi Konstruksi, yang dipimpin seorang pemborong ternama, Hendra Sasukoati.
Ia juga menulis dugaan keterlibatan Kepala Bidang Bina Marga di dinas terkait, serta seorang pejabat pembuat komitmen yang menandatangani pencairan dana meski laporan pengawasan belum lengkap.
Ada pula dugaan aliran dana kepada oknum anggota dewan sebagai “pengaman proyek”.
Jembatan itu adalah nadi kehidupan.
Anak-anak sekolah melintas di atasnya saban pagi. Petani membawa hasil panen melewati jalur itu. Ambulans dari puskesmas pun mengandalkannya.
Jika jembatan itu roboh, yang retak bukan sekadar beton, tetapi masa depan banyak orang.
“Kenapa kau harus terlalu dalam, Nak…” gumam Nurtina lirih.
Deru vespa akhirnya memecah malam. Cahaya lampunya menyinari dinding rumah-rumah yang penerangannya redup.
“Assalamualaikum, Bu,” sapa Rafif usai memarkir motornya di teras. Wajahnya ceria, seperti tak ada beban.
Namun wajah ibunya tak biasa.
Begitu mencium tangan Nurtina, Rafif merasakan telapak tangan itu basah oleh air mata.
“Ibu kenapa?”
Air mata yang sejak sore ditahan Nurtina akhirnya runtuh. Cerita tentang tiga lelaki itu mengalir deras. Ancaman demi ancaman ia ulang tanpa terlewat satu pun.
“Berhenti saja jadi wartawan, Nak. Ibu mohon.”
Rafif terdiam lama.
“Ibu,” akhirnya ia berucap pelan, “kalau saya berhenti sekarang karena takut, berarti mereka menang. Besok mereka akan ancam orang lain lagi.”
“Ibu tidak mau kehilangan kamu!”
Sunyi menggantung.
“Ibu,” lanjut Rafif, “lebih baik saya mati membela kebenaran daripada hidup dalam ketakutan. Ibu mau saya jadi apa? Diam melihat jembatan itu roboh dan mungkin menelan korban?”
“Terserah kamu saja lah lagi,” kata Nurtina akhirnya, sebelum masuk ke kamar.
Malam itu Rafif tak langsung tidur.
Laptop dibuka. Dokumen demi dokumen ia telusuri kembali. Foto retakan beton. Hasil uji laboratorium sampel semen. Rekaman wawancara dengan pekerja proyek yang mengaku diperintahkan mengurangi besi tulangan. Tabel perbandingan RAB dengan realisasi lapangan.
Rafif bahkan memperoleh salinan kontrak yang menunjukkan nilai proyek mencapai puluhan miliar rupiah. Angka yang tak sebanding dengan kualitas yang tampak.
Tiba-tiba ponselnya berdering. Nomornya tidak dikenal.
“Ini terakhir kali kami ingatkan,” suara di ujung sana berbisik kasar begitu Rafif membuka ponselnya. “Berita berikutnya terbit, jangan salahkan kami.”
Klik.
Sambungan telepon terputus.
Rafif menatap layar ponsel itu. Dadanya memang bergetar. Ia manusia biasa. Tak mungkin tanpa takut. Tetapi rasa takutnya kalah oleh amarah melihat ketidakadilan.
Ia kembali menekan tombol keyboard. Ketikannya terdengar seperti letupan-letupan kecil. Keras, cepat, mantap.
Berita lanjutan itu terbit tiga hari kemudian.
Judulnya lebih tajam. Lebih terbuka. Disertai data dan dokumen lengkap. Nama-nama disebut terang. Dugaan kongkalikong dipaparkan rinci, berikut skema pencairan dana dan indikasi manipulasi laporan pengawasan.
Reaksi publik meledak.
Media sosial dipenuhi sorotan. Warga berdatangan meninjau lokasi jembatan. Lembaga pengawas internal turun tangan. Aparat penegak hukum mulai mengumpulkan bukti.
Seminggu kemudian, penyelidikan resmi diumumkan.
Sebulan berlalu.
Suatu pagi, deru mobil bukan lagi milik orang tak dikenal, melainkan kendaraan aparat. Kantor PT Sinar Bumi Sunyi Konstruksi digeledah. Dokumen disita. Beberapa pejabat dinas dipanggil untuk dimintai keterangan.
Nama Hendra Sasukoati muncul di berita nasional sebagai tersangka. Kepala Bidang Bina Marga dinonaktifkan. Pejabat pembuat komitmen diperiksa intensif. Seorang oknum anggota dewan ikut terseret dalam pusaran perkara.
Rantai yang tadinya tersembunyi mulai terbuka satu demi satu.
Berbulan-bulan kemudian, proses itu berujung di ruang sidang.
Hendra Sasukoati duduk di kursi terdakwa. Jaksa membacakan dakwaan soal pengurangan spesifikasi material dan pembagian keuntungan ilegal. Beberapa pejabat pemerintah didakwa menerima suap dan menyalahgunakan kewenangan.
Putusan akhirnya dijatuhkan.
Hakim menyatakan para terdakwa bersalah melakukan tindak pidana korupsi. Vonis penjara dijatuhkan. Uang pengganti diperintahkan untuk dikembalikan ke negara.
Di kampung kecil itu, kabar putusan menyebar cepat.
Jembatan diperbaiki total. Beton lama dihancurkan. Besi baru dipasang sesuai standar. Pengawasan dilakukan terbuka, melibatkan masyarakat.
Tekanan memang belum sepenuhnya hilang.
Namun kali ini, setiap deru motor di malam hari tak lagi selalu berarti ancaman.
Lebih banyak orang datang untuk bersalaman, mengucapkan terima kasih.
Suatu malam, ketika Rafif pulang dengan wajah letih tetapi mata berbinar, Nurtina tak lagi memintanya berhenti.
Ia menatap anak bungsunya itu lama-lama.
“Kalau kamu memilih jalan ini,” katanya pelan, “jalanilah dengan lurus. Jangan sampai kamu seperti mereka.”
Rafif tersenyum, menggenggam tangan ibunya.
Di luar rumah, jalan selebar satu meter itu masih sama. Berdebu, sunyi, sederhana.
Namun di ujung sana, jembatan itu kini berdiri kokoh.
Dan di atasnya, orang-orang melintas dengan lebih tenang.
Di negeri yang kadang gelap oleh ketakutan, selalu ada cahaya kecil yang menyala dari keberanian. Kadang cahaya itu lahir dari seorang wartawan yang menolak diam.
Dan hampir selalu, cahaya itu dijaga oleh doa seorang ibu yang belajar bahwa di ujung jembatan, di ujung nyawa sekalipun, kebenaran tetap layak diperjuangkan. []
Biodata Penulis*
Hendri Parjiga mulai menulis cerpen, puisi, dan esai sejak duduk di bangku SMA. Karya-karyanya banyak dimuat di media lokal Sumatera Barat seperti Harian Haluan, Singgalang, Semangat, dan Mingguan Canang. Seiring waktu, pria kelahiran Padang, 5 Februari ini terus mengasah kemampuannya hingga beberapa cerpennya menembus media ternama Nasional. Hanya saja, sejak berprofesi sebagai wartawan pada awal ’90-an, kesibukan sempat menjauhkan dirinya dari dunia sastra. Kini, semangat menulis cerpen kembali menyala dalam dirinya. *
