“Langit Ampunan”

Oleh : Nurul Jannah*)

Ramadan hadir seperti cahaya yang merayap pelan di sela-sela jiwa yang lama tertutup.

Tidak ada terompet.
Tidak ada gemuruh langit.
Hanya dada yang tiba-tiba terasa berbeda: lebih peka, seolah ada pintu di dalam diri yang perlahan dibukakan.

Ramadan bukan hanya bulan yang berpindah di kalender.
Ia adalah hamparan ampunan yang Allah bentangkan seluas langit dan bumi.
Ia adalah waktu yang diturunkan untuk jiwa yang mulai berdebu oleh amarah, oleh kecewa atau pun lelah yang dipendam terlalu lama.

Ia mengetuk tanpa menghakimi.
Ia memanggil tanpa memaksa.

Ramadan datang menyapa semua,
Menyapa yang tampak kuat namun rapuh di dalam.
Menyapa yang terlihat tersenyum, namun menyimpan retakan di dada.
Menyapa yang terlalu sibuk mengejar dunia, hingga lupa arah pulang.

Di bulan ini,
Rahmat turun lebih deras.
Ampunan dibuka lebih luas.

Ramadan tidak memilih yang layak.
Ia melayani tanpa pandang bulu
Ia mendekati mereka yang ingin dibersihkan.
Ia memeluk siapapun yang berani melangkah mendekat.

Di sajadah yang lama terlipat, rindu kembali digelar.
Di Alqur’an yang lama berdebu, ayat-ayat indah kembali dilantunkan.

Ramadan tidak datang untuk sekadar menahan lapar.
Ia datang untuk melatih cukup.

Cukup dengan rezeki yang Allah beri.
Cukup dengan keadaan yang belum sempurna.

Di bulan ini, tangan belajar berhenti dari yang berlebihan.
Lisan belajar diam dari yang melukai.
Ego belajar menunduk dari keinginan untuk selalu menang.

Ramadan mengikis perlahan segala kerak kesombongan

Di tengah dunia yang bising, Ramadan menghadirkan jeda.
Ia menegaskan bahwa manusia diciptakan untuk kembali pulang.

Di bulan ini, doa yang dipanjatkan saat berbuka menembus langit dan tidak akan tertolak.

Bulan ini sangat istimewa, di dalamnya ada malam yang lebih baik dari seribu bulan (Lailatul Qadr).

Ramadan mengubah cara kita memandang dunia.

Hati yang mudah tersulut, menjadi lebih sabar.
Dada yang sempit, menjadi lebih lapang.
Langkah yang tergesa, menjadi lebih sadar arah.

Bulan ini singgah sebentar.
Waktunya singkat,
Ia seperti tamu agung yang membawa cahaya.

Maka,
Setiap detiknya adalah kesempatan.
Setiap malamnya adalah pintu.
Setiap sujudnya adalah pelukan.

Ramadan adalah langit ampunan,
Ia memberi ruang jiwa, untuk ditata ulang.
Ia memberi izin hati, untuk dibersihkan.

Selamat datang, Ramadan.
Datanglah dengan cahaya-Mu.

Ajari kami menjadi kecil di hadapan-Mu, ya Allah…agar hidup ini terasa lebih jernih, lebih tenang dan lebih berarti🌹.

Bogor, 15 Februari 2026

Nurul Jannah adalah seorang dosen lingkungan di IPB University, lulusan doktor lingkungan dari Hiroshima University, penulis produktif, dan penggerak literasi*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *