Urgensi Menulis Kreatif di Pesantren Ramadan

Oleh : Muhammad Subhan*)

TRADISI intelektual Islam di Nusantara, khususnya di ranah Minangkabau, tidak pernah lepas dari aktivitas literasi, khususnya tulis-menulis.

Jika kita menengok jauh ke belakang, para ulama besar tidak hanya piawai berorasi di atas mimbar, tetapi juga tajam dalam menggoreskan pena.

Mereka memahami betul bahwa suara akan hilang ditiup angin, namun tulisan akan abadi melampaui usia pemiliknya.

Sebut saja Buya Hamka. Sosok ulama kharismatik ini adalah bukti nyata bagaimana dakwah dan sastra bisa bersenyawa dengan indah.

Melalui kitab tafsir dan buku-buku filsafat Islamnya, ia menyentuh logika umat. Pun, melalui roman-romannya, ia menyentuh relung emosi dan kemanusiaan.

Hamka tidak sendirian. Deretan nama ulama lain seperti Syekh Ahmad Khatib Al-Minangkabawi, Haji Abdul Karim Amrullah (HAKA), Zainuddin Labay, hingga M. Natsir adalah barisan “singa podium” yang juga “pendekar pena”.

Mereka melakukan dakwah bil qalam (dengan pena), sebuah metode yang membuat pemikiran mereka tetap relevan meski zaman telah berganti dari kolonialisme menuju era disrupsi digital.

Namun, ada fenomena yang terputus dalam transmisi keilmuan di generasi sekarang. Saat Ramadan tiba, masjid dan musala dipenuhi pelajar dalam agenda “Pesantren Ramadan”.

Sayangnya, kurikulum yang disajikan terkesan monoton: ceramah cenderung searah terutama tentang Fiqh, Tauhid, dan Tarikh. Jarang—bahkan nyaris tidak ada—ruang yang memberikan porsi lebih bagi “Keterampilan Menulis Kreatif”, khususnya sastra.

Padahal, menulis kreatif bukan sekadar merangkai kata agar terlihat estetis. Bagi seorang santri atau pelajar, menulis sastra (puisi, cerpen, atau esai reflektif) adalah latihan mengolah rasa dan empati. Sastra memungkinkan nilai-nilai agama tidak hanya dipahami sebagai deretan hukum “boleh” dan “tidak boleh”, tetapi dirasakan sebagai ruh yang menghidupkan nilai-nilai kemanusiaan.

Menulis kreatif melatih anak muda untuk berpikir kritis dan sistematis. Saat seorang remaja mencoba menulis cerpen islami, ia dipaksa untuk melakukan riset, membangun karakter, dan memecahkan konflik apa pun dalam narasinya.

Ini adalah simulasi kehidupan.

Tanpa kemampuan menulis kreatif, dakwah generasi muda di masa depan berisiko menjadi kaku, kering, dan kehilangan daya pikat di tengah gempuran konten visual yang serba cepat.

Mengapa sastra begitu penting bagi Generasi Z dan Alpha?

Di tengah kepungan media sosial yang memicu rentang perhatian (attention span) yang pendek, membaca dan menulis sastra adalah “oase” untuk melatih fokus.

Membaca sastra memperkaya kosakata dan memperhalus budi pekerti. Dengan membaca karya-karya maestro, anak muda belajar tentang kompleksitas sosial dan sejarah tanpa merasa digurui. Mereka bisa memahami beratnya perjuangan dakwah masa lampau melalui narasi, bukan sekadar angka tahun di buku sejarah.

Menulis sastra juga dapat dijadikan sebagai terapi kesehatan mental. Di era di mana kecemasan remaja meningkat, menulis menjadi medium katarsis untuk menuangkan kegelisahan menjadi karya yang positif. Sastra memberikan ruang bagi mereka untuk jujur pada diri sendiri.

Membaca dan menulis karya sastra dapat dijadikan bekal kepemimpinan. Pemimpin masa depan adalah mereka yang mampu berartikulasi dengan baik.

Kemampuan menyusun narasi kreatif adalah soft skill tertinggi di era kecerdasan buatan (AI). AI mungkin bisa mengolah data, tapi AI tidak memiliki “pengalaman batin” yang menjadi ruh dari sebuah tulisan sastra yang menyentuh hati.

Memasukkan materi menulis kreatif ke dalam kurikulum Pesantren Ramadan adalah langkah strategis untuk melakukan kaderisasi penulis.

Bayangkan jika panitia Pesantren Ramadan mengundang sastrawan, wartawan, atau penulis sebagai narasumber pendamping. Anak-anak tidak hanya diminta merangkum ceramah, tetapi juga diajak mengonversi isi ceramah tersebut menjadi puisi, cerpen, atau karya kreatif lainnya.

Output-nya pun bisa sangat dahsyat.

Jika satu masjid menghasilkan satu buku antologi karya santri setiap Ramadan, maka akan lahir ribuan literatur baru yang lahir dari rahim rumah ibadah. Masjid kembali menjadi pusat peradaban dan kebudayaan, bukan sekadar tempat ritualitas ibadah mahdah.

Pendampingan ini harus dilakukan secara berkelanjutan. Menulis adalah keterampilan yang ibarat pisau; harus terus diasah agar tidak tumpul.

Pesantren Ramadan harus menjadi momentum awal, yang kemudian dilanjutkan oleh sanggar-sanggar menulis di sekolah atau komunitas baca di masyarakat.

Momentum yang tercipta di Pesantren Ramadan tidak boleh dibiarkan menguap begitu saja seiring berakhirnya bulan suci. Pelatihan menulis di masjid harus dipandang sebagai “pemantik api” yang perlu dijaga nyalanya melalui ekosistem yang lebih permanen.

Keberlanjutan ini krusial karena keterampilan menulis bukanlah bakat alami yang jatuh dari langit, melainkan otot intelektual yang butuh dilatih secara repetitif.

Tanpa wadah pasca-pelatihan, antusiasme remaja untuk berkarya akan luruh tertimbun rutinitas akademik yang seringkali kaku.

Sekolah dan komunitas harus mengambil tongkat estafet ini, menyediakan ruang diskusi yang lebih intens, serta menjadi “rumah kedua” bagi para penulis muda untuk bereksperimen dengan imajinasinya.

Lebih jauh lagi, peran sanggar menulis dan komunitas baca adalah melakukan kurasi dan pendampingan yang lebih personal. Jika di Pesantren Ramadan materi bersifat pengenalan dasar, maka di komunitas inilah proses “penempaan” yang sesungguhnya terjadi.

Di sini, para calon penulis muda belajar tentang proses swasunting (self-editing), teknik narasi yang lebih kompleks, hingga cara mengirimkan karya ke media massa atau penerbit.

Komunitas-komunitas ini berfungsi sebagai laboratorium ide, tempat di mana mereka tidak hanya membaca karya-karya hebat, tetapi juga membedahnya untuk memahami anatomi tulisan yang mampu menggerakkan pembaca.

Adanya pembinaan yang rutin, semangat dakwah bil qalam yang dimulai dari masjid akan bertransformasi menjadi kompetensi profesional yang membekali mereka menghadapi tantangan zaman.

Sinergi antara lembaga keagamaan, sekolah, dan komunitas literasi akan membentuk sebuah sabuk pengaman budaya bagi generasi muda. Di tengah gempuran konten digital yang sering kali nir-makna, keberadaan sanggar menulis menjadi benteng pertahanan bagi akal sehat dan kedalaman rasa.

Ketika seorang remaja telah terbiasa menulis kreatif di lingkungannya, ia tidak akan mudah terombang-ambing oleh arus informasi yang dangkal. Ia akan tumbuh menjadi individu yang reflektif, mampu menyuarakan kegelisahan sosialnya melalui karya (sastra) yang santun dan bernas.

Inilah investasi jangka panjang yang kita harapkan, yaitu sebuah generasi yang tidak hanya mahir membaca zaman, tetapi juga mampu menuliskan sejarahnya sendiri dengan tinta kreativitas.

Kita merindukan lahirnya “Hamka-Hamka Baru” yang mampu membumikan kata-kata lewat karya. Kita menantikan “Natsir-Natsir Muda” yang mampu berdialektika di ruang publik dengan tulisan yang bernas namun tetap santun.

Selamat menjalankan ibadah puasa Ramadan 1477 Hijriah/2026 Masehi. Mari membumikan kalam (literasi), menghidupkan batin dengan tulisan. []

Muhammad Subhan, penulis, pegiat literasi, founder Sekolah Menulis elipsis*)

Exit mobile version