Oleh : Nurul Jannah*)
Ramadan datang lagi.
Ia datang seperti tamu yang tidak pernah meninggikan suara,
namun kehadirannya selalu mengubah arah angin di dalam rumah jiwa.
Tidak ada gemuruh.
Tidak ada pengumuman besar.
Hanya langkah yang pelan,
namun getarnya sampai ke relung dada yang paling dalam.
Ramadan tidak menawarkan
target spektakuler yang perlu diumumkan.
Tidak pula menawarkan grafik ibadah yang harus dipamerkan.
Yang ada hanyalah perjuangan kecil diri sendiri,
yang bahkan tidak terlihat oleh siapa pun, kecuali Allah yang Maha Menyaksikan.
Menahan diri untuk tidak membalas dengan nada keras.
Menghapus kalimat tajam sebelum ia melukai.
Memilih diam ketika ego ingin menang.
Memilih tetap bangun sahur meski tubuh terasa berat dan malas.
Semua itu memang tampak kecil.
Bahkan mungkin tidak dianggap penting.
Namun justru di situlah letak hikmahnya.
Karena yang kita hadapi bukan lagi dunia,
bukan juga manusia lain,
melainkan diri sendiri, yang paling sulit ditaklukkan.
Ramadan mengajarkan kejujuran.
Jujur bahwa kita masih sering lalai.
Jujur bahwa iman kita naik turun.
Jujur bahwa kadang kita beribadah karena takut,
belum sepenuhnya karena cinta dan rindu yang tulus kepada-Nya.
Dan di ruang kejujuran itulah,
kita mulai memahami makna “Karim”.
Allah Karim, Allah Maha Pemurah.
Ia tidak menunggu kita menjadi sempurna.
Ia tidak menunggu kita bersih tanpa cela.
Ia tidak menuntut kita tanpa salah.
Ia hanya menunggu kita kembali.
Ramadan bukan lagi tentang berapa kali kita khatam Alquran.
Bukan juga tentang berapa lama kita menangis dalam doa.
Ramadan adalah satu keputusan penting: tidak membiarkan hati semakin keras.
Kemenangan terbesar bukan pada apa yang terlihat, melainkan pada apa yang berhasil kita tahan.
Menahan amarah saat disakiti.
Menahan untuk tidak membalas saat direndahkan.
Menahan untuk pamer saat dipuji.
Menahan ego yang selalu ingin diakui dan dibenarkan.
Dan di situlah Ramadan benar-benar dimulai,
di titik ketika kita menunduk,
mengakui kerapuhan,
dan menyadari betapa kita tak pernah benar-benar mampu tanpa rahmat-Nya.
Ketika takbir menggema di akhir bulan,
yang kita harapkan bukan semata perayaan,
melainkan hati yang lebih lembut,
lisan yang lebih terjaga.
ego yang lebih kecil.
Dan, bisa jadi air mata haru pun jatuh…saat merasakan betapa luas kasih Allah yang Karim, dan betapa dalam kerinduan untuk pulang, pulang dalam dekapan cintaNya.❤️
Bogor, 20 Februari 2026
Nurul Jannah adalah seorang dosen lingkungan di IPB University, lulusan doktor lingkungan dari Hiroshima University, penulis produktif, dan penggerak literasi*)




