“Berhenti Sebentar”

Karena yang paling kuat pun tetap membutuhkan jeda

Oleh : Nurul Jannah*)

Kadang kita tidak membutuhkan motivasi baru. Tidak juga target baru. Kita hanya membutuhkan satu hal sederhana: berhenti sebentar.

Belakangan ini, ada satu kalimat kecil yang terus berputar di kepalaku: ingin berhenti sebentar.”

Iya. Hanya berhenti sebentar. Sekedar duduk nyante sejenak, menghela napas, dan mengizinkan untuk rehat sejenak.

Seperti seseorang yang terlalu lama berjalan tanpa pernah benar-benar berhenti. Langkahnya masih ada.
Senyumnya masih terpasang. Namun napasnya sudah mulai pendek. Dadanya mulai terasa penuh. Dan hatinya diam-diam lelah.

Dari luar, semua tampak baik-baik saja. Normal. Terkendali. Tetap hadir. Tetap tersenyum. Tetap menjadi sandaran. Namun di dalam, ada ruang kecil yang mulai kehabisan udara. Dan pada satu titik yang sunyi, suara itu akhirnya terdengar lebih jujur: “Aku lelah.”

Selama ini kita terbiasa kuat. Terbiasa berkata, “Tidak apa-apa.”

Terbiasa menjadi tempat bersandar bagi banyak orang. Terbiasa menguatkan siapa saja yang datang membawa cerita. Hingga tanpa sadar, kita sendiri lupa bagaimana caranya bersandar. Bahkan ketika tubuh sudah terbaring di malam hari pun, pikiran belum benar-benar rehat.

Masih mencoba mengulang percakapan siang tadi, masih mengingat nada suara yang mungkin kurang lembut, masih menghitung kewajiban esok hari, masih memikirkan keputusan yang belum selesai, dan masih memikirkan banyak hal lagi.

Lalu datang pertanyaan beruntun, seperti sidang kecil tanpa jeda.

“Sudah cukupkah?”
“Sudah maksimal kah?”
“Sudah menjadi versi terbaik kah?”

Seolah hidup adalah rapor yang tak pernah selesai dinilai.

Padahal yang diinginkan sebenarnya sederhana: jeda-rehat. Diam sejenak. Tanpa harus menjelaskan apa pun kepada siapa pun.

Kadang yang melelahkan bukan pekerjaannya, melainkan tuntutan bahwa kita harus selalu tampil perfect.

Suatu sore, seorang sahabat bertanya, “Capek ya?”

“Ah, enggak kok. Biasa aja.”

Refleks jawaban itu meluncur begitu saja. Kalimat yang nampaknya sudah otomatis menempel di kepala.

Padahal di dalam hati, ada suara keras yang menohok, “Aku bahkan hampir patah.”

Ada retak kecil yang mulai terasa. Karena terlalu lama kita berdiri tegak, sampai membuat orang lupa bahwa kita bisa juga goyah.

Semua orang melihat kita kokoh. Jarang yang tahu betapa sering kita hampir patah.

Maka, di tengah semua itu, ada satu kalimat yang paling penting disampaikan: “Aku butuh berhenti sebentar.”

Seolah-olah kalimat itu berarti kalah. Seolah-olah itu pengakuan kelemahan.

Padahal tidak.

Berhenti sebentar bukan berarti menyerah. Berhenti sebentar adalah cara menyelamatkan diri sebelum benar-benar patah.

Sebab jika semuanya terus dipaksa, yang patah bukan lagi target, melainkan hati. Dan hati yang patah diam-diam, jauh lebih berbahaya daripada kegagalan yang terlihat terang-terangan.

Hari ini mungkin kita tidak membutuhkan keputusan besar. Tidak juga perlu perubahan dramatis. Cukup satu keberanian kecil, mengakui bahwa kita sedang lelah. Mengakui bahwa kita tidak selalu sanggup. Tidak selalu kuat. Dan, tidak selalu baik-baik saja.

Tidak apa-apa jika hari ini berjalan lebih lambat.

Tidak apa-apa jika tidak semua rencana selesai tepat waktu.

Tidak apa-apa jika sesekali kita tidak menjadi yang paling tangguh.

Karena dari jeda itu kita sering diselamatkan. Berhenti sebentar adalah cara Allah menahan kita, sebelum ambisi kita sendiri melukai jiwa kita.

Barangkali itu cara Allah mengingatkan kita dengan lembut: “Sudah… duduk dulu.”

Maka hari ini, izinkan diri berhenti sebentar. Tarik napas dalam-dalam. Rasakan dada yang selama ini terlalu penuh. Kendurkan bahu yang terlalu lama memikul beban semuanya sendirian.

Lalu katakan pelan pada diri sendiri: “Aku tidak harus selalu kuat. Aku tidak harus selalu sempurna. Dan hari ini, aku memilih berhenti sebentar.”

Karena sering kali, setelah jeda sejenak, kita bisa bangkit kembali, sebagai jiwa yang utuh, dan melangkah dengan kekuatan yang lebih matang, dan jauh lebih tangguh.

Dan, jika hari ini kita merasa lelah, jangan tergesa-gesa menyebut diri kita lemah.

Lelah bukan tanda kita lemah. Mungkin itu salah satu cara Allah SWT mengingatkan bahwa kita ini manusia, bukan mesin.

Dan manusia yang berani mengakui lelahnya bukan sedang kalah, melainkan sedang belajar kembali bersandar kepada-Nya.❤️❤‍🔥🌹

Bogor, 26 Februari 2026

Nurul Jannah adalah seorang dosen lingkungan di IPB University, lulusan doktor lingkungan dari Hiroshima University, penulis produktif, dan penggerak literasi*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *