Oleh : Nurul Jannah*)
“Tidak semua yang melelahkan hari ini perlu ikut terbangun esok pagi.”
Malam selalu datang dengan cara yang sama.
Pelan.
Tenang.
Seolah tidak ingin mengusik apa pun.
Namun pikiran kita jarang benar-benar ikut terdiam.
Ketika suara dunia mereda, isi kepala justru sering berbicara lebih lantang daripada hiruk siang tadi.
Karena malam adalah waktu yang paling jujur.
Saat kesibukan berhenti, yang tersisa hanyalah kita,
dan hati yang tak lagi mampu menyembunyikan rasa.
Sebelum benar-benar menutup hari ini,
bolehkah kita berhenti sejenak?
Memberi ruang hening untuk berbicara pelan pada diri sendiri.
Hari ini, apakah ada hati yang kita lukai?
Tidak selalu dengan teriakan.
Bisa jadi hanya lewat nada yang sedikit lebih tajam.
Atau pesan yang kita biarkan tanpa jawaban.
Atau wajah yang kita palingkan ketika seseorang ingin bercerita.
Hari ini, sudahkah kita memaafkan?
Atau masih ada satu nama yang membuat dada terasa berat?
Masih ada peristiwa yang kita ulang-ulang dalam pikiran, seolah dengan amarah kita bisa mengubah semuanya?
Padahal sesungguhnya,
memaafkan bukan tentang membenarkan mereka.
Memaafkan adalah cara paling lembut untuk membebaskan diri sendiri, agar kita dapat beristirahat tanpa membawa bara di dalam dada.
Lalu sepanjang hari tadi, sudahkah kita bersyukur?
Tidak perlu syukur yang megah.
Tidak harus pencapaian yang mengundang tepuk tangan.
Cukup tentang napas yang masih setia keluar-masuk tanpa kita minta.
Tentang tubuh yang masih mampu berdiri dan tegak melangkah.
Tentang seseorang yang masih menyebut nama kita dengan hangat.
Tentang kesempatan memperbaiki diri, yang hingga detik ini masih dipercayakan kepada kita.
Sering kali kita menutup hari dengan daftar kekurangan, padahal hari ini telah menghadiahkan begitu banyak kebaikan kecil yang luput kita hitung.
Senyum sederhana.
Pelukan singkat.
Pesan, “Hati-hati di jalan.”
Atau anugerah menikmati langit senja tanpa tergesa.
Malam ini, sebelum benar-benar memejamkan mata, letakkan tangan di dada.
Rasakan detaknya.
Ini bukan hanya denyut tubuh. Ini adalah tanda bahwa kita masih dipercaya menjalani satu hari lagi.
Masih diberi waktu.
Masih diberi kesempatan.
Masih diberi ruang untuk menjadi pribadi yang lebih lembut pada esok hari.
Jika hari ini ada salah, niatkan untuk meminta maaf.
Jika hari ini ada luka, niatkan untuk memperbaiki.
Jika hari ini terasa berat, titipkan segalanya pada Sang Maha Mengatur.
Karena tidak semua beban harus kita bawa sampai esok pagi
Tidak semua persoalan harus selesai malam ini.
Kadang yang perlu diselesaikan hanyalah gengsi dan kerasnya hati.
Sebelum menutup hari, jangan hanya mematikan lampu.
Padamkan juga kesombongan.
Redakan amarah.
Ringankan hati.
Longgarkan tuntutan pada diri sendiri yang terlalu keras.
Karena kita tidak pernah benar-benar tahu, siapa yang masih diberi kesempatan membuka mata esok hari.
Dan jika esok masih datang…
Semoga kita bangun
dengan hati yang lebih lapang,
lebih bersih,
lebih lembut
daripada saat kita terlelap malam ini.
Sebab yang membuat hidup terasa damai, karena kita tidak lagi tertidur dengan dada yang penuh beban🙏👍.
Bogor, 1 Maret 2026
Nurul Jannah adalah seorang dosen lingkungan di IPB University, lulusan doktor lingkungan dari Hiroshima University, penulis produktif, dan penggerak literasi*)




