“Lampu Musala Padam”

Cerpen : Nurul Jannah*)

“Keikhlasan sering bekerja dalam sunyi. Tanpa tepuk tangan, tanpa nama. Namun justru dari kesunyian itulah cahaya paling lama bertahan.”

Lampu musala kampus itu biasanya menyala lebih awal daripada seluruh gedung di sekitarnya. Bahkan sebelum ruang kelas dibuka. Sebelum mahasiswa berdatangan dengan ransel dan wajah mengantuk. Sebelum dosen menyalakan proyektor di ruang kuliah.

Di setiap subuh, ketika kabut masih menggantung tipis di taman kampus, seorang lelaki sepuh sudah berdiri di sana.

Namanya Pak Rahman.

Petugas kebersihan kampus yang hampir tak pernah disebut dalam rapat mana pun, namun setiap hari tangannya menjaga kesucian tempat ibadah itu.

Setiap pagi ia menyapu halaman musala. Daun-daun kering yang jatuh semalam disingkirkan satu per satu.

Setelah itu ia mengelap lantai, menata sandal yang berserakan, lalu menyalakan lampu kecil di serambi.

Lampu itu sederhana. Tidak terlalu terang. Namun cukup untuk menerangi orang yang datang shalat subuh.

Suatu hari seorang mahasiswa pernah bertanya kepadanya.

“Pak, kenapa Bapak selalu menyalakan lampu sepagi ini?”

Pak Rahman tersenyum.

“Supaya orang yang datang shalat tidak perlu melangkah dalam gelap.”

Jawabannya sederhana.

Dan seperti banyak kebaikan kecil lainnya, hampir tidak ada yang benar-benar memperhatikannya. Orang hanya melihat cahaya. Jarang yang bertanya siapa yang menyalakannya.

Sampai suatu hari…

lampu itu padam.

Musala yang Mendadak Gelap

Kabar itu menyebar cepat di kampus. Musala kecil di sudut taman kampus akan ditutup sementara.

Alasannya: renovasi. Atap bocor. Keramik mulai retak. Dinding lembap.

Namun, ada satu hal yang membuat suasana terasa ganjil.

Konon, dana renovasi sudah diumumkan beberapa bulan lalu. Sudah ada penggalangan donasi. Sudah ada poster. Sudah ada kotak sumbangan.

Tetapi tidak ada bahan bangunan. Tidak ada tukang. Tidak ada satu pun perbaikan.

Yang muncul hanya sebuah pengumuman singkat di papan kampus: “Musala ditutup sementara karena keterbatasan dana renovasi.”

Mahasiswa mulai bertanya-tanya.

“Bukannya sudah ada donasi?”

“Iya, waktu itu ramai.”

“Terus uangnya ke mana?”

Pertanyaan berubah menjadi bisik-bisik. Bisik-bisik berubah menjadi kecurigaan. Dan seperti api kecil yang menemukan angin, kecurigaan itu mulai membesar.

Tuduhan yang Membakar

Di kantin kampus suara mulai meninggi.

“Ini pasti pengurus organisasi mahasiswa.”

“Panitia penggalangan dana.”

“Dana segitu besar kok bisa hilang?”

Di grup WhatsApp kelas, pesan saling bersahutan. Nama-nama mulai disebut. Wajah-wajah mulai dicurigai.

Beberapa mahasiswa bahkan berkata dengan nada sinis, “Untuk apa punya musala kalau pengurusnya tidak amanah?”

Kalimat itu terasa seperti pisau. Musala itu bahkan belum ditutup. Namun suasananya sudah seperti tempat yang ditinggalkan.

Lampu serambi tidak lagi dinyalakan. Dan untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, serambi musala itu gelap saat subuh.

*

Namun ada satu orang yang tetap datang. Pak Rahman. Ia tetap menyapu halaman. Tetap membersihkan lantai. Walau pintu musala hampir tidak pernah dibuka lagi.

Suatu pagi seorang mahasiswa bernama Fajar melihatnya.

“Pak… musalanya katanya mau ditutup. Kenapa Bapak masih membersihkan?”

Pak Rahman berhenti menyapu. Ia menatap halaman musala yang kosong.

Lalu berkata pelan,

“Tempat ibadah jangan dibiarkan kotor, walau orang sedang marah satu sama lain.”

Fajar terdiam. Ia tidak tahu harus menjawab apa. Matanya kemudian tertuju pada lampu serambi yang mati. Lampu yang dulu selalu menyala sebelum matahari terbit. Kini hanya tergantung sunyi.

Pak Rahman menatap lampu itu lama. Tatapannya dalam, seperti seseorang yang sedang kehilangan sesuatu yang sulit dijelaskan dengan kata-kata. Sesuatu yang mungkin kecil bagi orang lain, tetapi terasa sangat berarti baginya.

Pertengkaran di Halaman Musala

Beberapa hari kemudian suasana kampus semakin panas. Pengurus organisasi mahasiswa dipanggil oleh pihak kampus. Mahasiswa saling menuduh. Beberapa bahkan hampir berkelahi di depan musala.

“Siapa yang pegang uang donasi?”

“Mana laporan keuangannya?”

“Jangan main-main dengan dana ibadah!”

Suara-suara meninggi. Tempat yang dulu menjadi ruang menenangkan hati, kini justru menjadi pusat pertengkaran.

Di tengah keributan itu, Pak Rahman berdiri di sudut halaman. Tangannya memegang sebuah buku kecil yang sudah tampak kusam di sudut-sudutnya.

Ia melangkah perlahan mendekati kerumunan mahasiswa.

“Maaf… boleh saya bicara sebentar?”

Suaranya tidak keras. Namun entah mengapa, kata-kata sederhana itu seperti memotong riuhnya suasana.

Satu per satu orang berhenti berbicara. Dan tiba-tiba, halaman musala itu menjadi sangat sunyi.

Buku Kecil yang Tidak Pernah Diminta

Pak Rahman membuka buku kecil itu. Halaman-halamannya penuh tulisan tangan.

Tanggal.

Jumlah uang.

Nama orang.

Ia berkata pelan: “Saya tidak mengerti soal organisasi mahasiswa.”

Semua orang mendengarkan.

“Tapi setiap kali ada orang memasukkan uang ke kotak donasi musala, saya selalu mencatatnya.”

Mahasiswa saling berpandangan.

Pak Rahman melanjutkan.

“Kalau suatu hari ada yang bertanya, setidaknya ada yang tahu bahwa semua itu ada catatannya.”

Ia membalik halaman.

Nama-nama tertulis rapi.

Nominal kecil.

Dua ribu.

Lima ribu.

Sepuluh ribu.

Ia membuka halaman terakhir.

“Totalnya ada di sini.”

Semua orang menunduk melihat angka itu. Jumlahnya kecil, jauh lebih kecil dari yang mereka bayangkan.

“Ini bahkan untuk mengganti lampu musala saja tidak cukup, apalagi renovasi.” tandas Fajar, setengah berbisik.

Pak Rahman mengangguk.

“Karena uang dalam jumlah besar memang belum pernah masuk.”

“Masih janji.”

Sunyi.

Tuduhan yang selama ini beterbangan tiba-tiba terasa seperti batu yang dilempar tanpa melihat siapa yang terkena.

Fajar menelan ludah.

“Jadi… tidak ada uang yang hilang?”

Pak Rahman menggeleng.

“Tidak ada.”

“Yang hilang adalah kepercayaan kita satu sama lain.” katanya pelan.

*

Hari itu segalanya nampak berubah. Mahasiswa mulai melihat satu hal sederhana.

Selama berhari-hari mereka berdebat tentang dana besar yang tidak jelas keberadaannya. Namun mereka lupa melihat kenyataan yang jauh lebih sederhana.

Musala itu sebenarnya hidup dari hal-hal kecil yang dilakukan dengan hati.

Sajadah yang dibawa mahasiswa. Air galon yang disumbangkan diam-diam tanpa nama. Dan tangan seorang petugas kebersihan yang setiap subuh menyalakan lampu serambi.

Kesadaran itu membuat suasana halaman musala berubah. Tidak ada lagi suara yang meninggi. Tidak ada lagi tuduhan.

Yang ada hanya keheningan. Keheningan yang membuat banyak orang tiba-tiba merasa malu pada diri sendiri.

Fajar berdiri.

Ia membuka dompetnya.

“Kita mulai lagi dari awal.”

Ia memasukkan uang ke kotak donasi.

“Ini seratus ribu.”

Temannya ikut berdiri.

“Ini lima puluh ribu.”

Seorang mahasiswa lain berkata,

“Kalau tiap mahasiswa menyumbang sedikit saja, musala ini bisa hidup lagi.”

Kotak donasi dibuka kembali. Tidak ada janji besar. Tidak ada poster. Tidak ada pidato.

Hanya uang kecil. Namun datang dari banyak hati.

*

Dua minggu kemudian tukang mulai berdatangan.

Atap diperbaiki.

Keramik diganti.

Dinding dicat ulang.

Musala kecil itu kembali hidup. Lampu serambi menyala lagi saat subuh.

Fajar datang pagi itu.

Ia melihat Pak Rahman berdiri di depan sakelar.

“Pak… Bapak yang menyalakan lagi?”

Pak Rahman tersenyum.

“Seperti biasa.”

Fajar menatap cahaya lampu itu.

Lalu bertanya pelan,

“Pak… selama ini Bapak yang menjaga musala ini ya?”

Pak Rahman menggeleng.

“Saya hanya membersihkan.”

Ia menatap cahaya lampu itu beberapa detik.

Lalu berkata, “Yang menjaga musala ini sebenarnya adalah mereka, yang tulus memberi walau sedikit.”

*

Malam itu Fajar duduk sendirian di serambi musala.

Lampu kecil menyala lembut di atas pintu.

Mahasiswa datang dan pergi.

Shalat.

Belajar.

Berdoa.

Perlahan Fajar mulai memahami bahwa Musala itu sebenarnya tidak hidup karena renovasi. Musala itu hidup karena keikhlasan-keikhlasan kecil yang sering tidak terlihat dan tidak pernah diumumkan.

Sebelum pulang, Fajar melihat Pak Rahman mematikan lampu serambi.

Gerakannya pelan dan hati-hati. Seperti seseorang yang sedang menjaga api kecil agar tidak benar-benar padam.

Fajar menatap cahaya yang perlahan hilang itu.

Lalu sebuah kalimat muncul di kepalanya. Kadang yang menjaga cahaya sebuah tempat ibadah bukanlah orang yang namanya tercatat di laporan. Melainkan orang yang bahkan tidak pernah menuliskan namanya di sana.

Dan malam itu, Fajar semakin memahami bahwa cahaya musala itu sebenarnya tidak pernah padam. Ia hanya menunggu hati manusia kembali menyala.❤️

Bogor, 5 Maret 2026

Nurul Jannah adalah seorang dosen lingkungan di IPB University, lulusan doktor lingkungan dari Hiroshima University, penulis produktif, dan penggerak literasi*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *