Ubah Sampah Organik dan Limbah Pertanian jadi Emas Hitam, Mahasiswa Berdampak HIMAGRI UNES 2026 Latih Petani IV Koto Mudik

Mahasiswa, dosen dan masyarakat berswafoto dalam Program Pengabdian Mahasiswa Berdampak UNES tahun 2026. (foto; ist)

BATANG KAPAS, FOKUSSUMBAR.COM – Dalam upaya mengurangi tumpukan sampah rumah tangga dan limbah pertanian yang selama ini dibakar dan menjadi polusi, mahasiswa berdampak HIMAGRI UNES 2026 menyelenggarakan pelatihan pembuatan pupuk kompos khususnya limbah petanian jagung bagi kepada petani IV Koto Mudik Kecamatan Batang Kapas, kabupaten Pesisir Selatan.

Kegiatan ini dilaksanakan sebagai solusi praktis atas minimnya pengetahuan warga dalam mengelola limbah organik. 

Selain itu juga Solusi untuk mengurangi pengeluaran biaya pembelian pupuk anorganik yang harganya semakin tinggi dan ketersediaanya tidak selalu ada, dengan kata lain petani dapat menggunakan anggaran pupuk untuk keperluan lainnya.

Mahasiswa berdampak HIMAGRI UNES 2026 menyelenggarakan pelatihan pembuatan pupuk kompos khususnya limbah petanian jagung. (foto; ist)

Metode yang dilakukan dengan konsep partisipatif, dimana petani ikut serta dalam pembuatan pupuk organic bersama mahsiswa yang digunakan dalam kegiatan tersebut.

Para petani dilatih menggunakan metode fermentasi dengan bioaktivator (seperti EM-4) untuk mempercepat proses pengomposan.

“Kami ingin petani IV Koto Mudik memanfaatkan kotoran ternak dan limbah pertanian mereka menjadi pupuk organik, sehingga produktivitas lahan meningkat dan pendapatan petani terdongkrak,” jelas Ketua tim Pengabdi Dosen, Ir. Gusriati, M.Si dalam siaran persnya, Rabu (11/3/2026).

Dijelaskannya bahwa kompos dipilih karena tidak berbau dan cocok untuk skala rumah tangga. “Kompos ini sangat mudah dibuat dan bahan baku sangat tersedia di lingkungan petani,” ucapnya.

Ketua mahasiswa HIMAGRI, Yolanda Argumantara menjelaskan bahwa pupuk organic bersifat aman dan tidak meninggal residu yang dapat merusak tanah, tidak seperti pupuk kimia yang meninggalkan residu yang bisa membuat tanah menjadi keras.

Selain praktik, tim juga memberikan edukasi mengenai manfaat pupuk kompos bagi kesuburan tanah dan pengurangan sampah organik pertanian yang selama ini dibakar yang membuat polusi udara.

Anggota tim dosen pendamping Wawan Sumarno, SP, M.Si menjelaskan kegiatan ini diharapkan mampu mendorong kemandirian warga dalam menghasilkan pupuk organik ramah lingkungan dan memberikan pendapatan tambahan bagi keluarga petani. 

Sementara itu Dr. Ir. Murnita, MP, anggota tim menegaskan bahwa pupuk kompos sangat baik untuk berbagai jenis tanaman dan tidak meninggalkan residu pada tanah, sehingga aman dipakai untuk jangka panjang.

Selanjutnya para mahasiswa melakukan demo pemupukan ke lahan jagung pada lokasi kegiatan yang diikuti oleh para petani.

Ubah Sampah Organik jadi Rupiah, Tim Pengabdian Program Mahasiswa Berdampak Ajarkan Petani Budidaya Maggot BSF

Ditempat lain, himpunan mahasiswa agribisnis Tim Universitas Ekaskti (UNES) menggelar penyuluhan dan pelatihan budidaya Maggot Black Soldier Fly (BSF) sebagai solusi pengolahan limbah sampah organik rumah tangga.

Sebagai upaya mengatasi permasalahan sampah organik rumah tangga, tim dosen dan mahasiswa pengabdian mahasiswa berdampak memperkenalkan teknologi budidaya Maggot BSF pada para petani. Petani diajarkan memisahkan sampah organik sisa dapur, mencacahnya, lalu mendiamkannya dalam wadah komposter selama kurang lebih 3-4 minggu.

Mahasiswa Agribisnis UNES berikan penyuluhan dan pelatihan budidya BSF. (foto; ist)

Kegiatan yang berlokasi di IV Koto Mudik Kec.Batang Kapas ini bertujuan untuk memberdayakan masyarakat petani agar mampu mengolah sampah organik—seperti sisa makanan dan sayuran—menjadi larva maggot yang bernilai ekonomis tinggi.

“Tempat Pengelolaan Sampah ini dibuat agar warga dapat memanfaatkan kembali sampah organik, sehingga tidak mencemari lingkungan sekaligus menghasilkan pakan ternak alternatif yang murah,” ujar Dr. Ir. Murnita, MP, Anggota TIM. 

Dalam pelatihan tersebut, tim pengabdian mendemonstrasikan cara pembuatan media biopon (wadah budidaya) dan perawatan maggot hingga panen. Program ini diharapkan dapat menjadi sumber pendapatan tambahan bagi warga sekaligus mengurangi beban tempat pembuangan sampah. 

Ketua tim dosen Ir. Gusriati M.Si, menjelaskan selain mengurangi sampah, larva maggot hasil budidaya dapat pula dijual sebagai pakan lele, itik dan ayam, yang memberikan manfaat ekonomi langsung bagi pengelola pasar dan komunitas warga sekitar. 

Penyerahan Bantuan Alsintan, Tim Program Mahasiswa Berdampak Tegaskan Pemulihan Ekonomi Petani Pasca Bencana

Tim Program Mahasiswa Berdampak turut menyerahkan bantuan dua unit Hand tractor, tiga unit mesin potong rumput, spryer Listrik serta paket budidaya maggot dan pupuk organik dari hibah Program Mahasiswa Berdampak kepada para petani melalui Wali Nagari.

Penyerahan dilakukan langsung oleh ketua tim, Ir. Gusriati, M.Si pada acara Penyerahan alsintan di kampung Lubuk Nyiur Nagari IV Koto Mudik pada Kamis (5/3/2026).

Ketua Tim, Ir. Gusriati, M.Si serahkan alsintan kepada masyarakat di kampung Lubuk Nyiur Nagari IV Koto Mudik. (foto; ist)

Bantuan ini direspon positif oleh para petani, yang merasakan perubahan positif dalam pendekatan pertanian berkelanjutan pasca bencana terhadap pembangunan pertanian secara umum.

Inisiatif mahasiswa berdampak ini juga fokus pada penggunaan teknologi yang mudah diterapkan (teknologi tepat guna) agar dapat dioperasikan secara mandiri oleh warga, sekaligus modernisasi pertanian di nagari.

Inovasi dan bantuan ini diharapkan menjadi langkah awal modernisasi pertanian menuju smart village, di mana mahasiswa berperan langsung dalam memberikan solusi teknis, bukan hanya teori, kepada para petani.

Ketua kelompok mahasiswa berdampak Yolan Argumantara menyatakan, bantuan ini merupakan bagian dari dukungan mahasiswa dalam meningkatkan efisiensi dan keamanan kerja petani.

“Dengan alat ini, petani tidak perlu lagi bekerja dengan posisi membungkuk terlalu lama,” ujarnya

Wawan sumarno, SP, M.Si menegaskan pembangunan pertanian tidak dapat lagi mengandalkan cara-cara tradisional. Kita membutuhkan percepatan, efisiensi, dan produktivitas yang lebih tinggi. Oleh karena itu, dukungan alsintan merupakan langkah strategis untuk mendorong mekanisasi pertanian pasca bencana, mengurangi biaya produksi, mempercepat pengolahan lahan, serta mendukung peningkatan produksi pertanian di IV Koto Mudik.

Lebih lanjut, Dr. Ir. Murnita, MP, meminta para petani dan masyarakat bersama seluruh perangkat nagari untuk memastikan bantuan tersebut dimanfaatkan secara optimal dan tepat sasaran, khususnya bagi wilayah yang selama ini terdampak bencana. (*/yumi)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *