Puisi : Suci Dwi Hikmah*)
Di pesantren ini
namamu disebut dengan suara yang pelan,
seolah setiap orang menjaga
agar kenangan tentangmu tidaklah pecah.
Aku datang setelah semuanya menjadi cerita
setelah langkahmu berhenti di dunia,
setelah tanganmu tak lagi membuka kitab
di hadapan para santri.
Kyai,
aku tak pernah melihat senyummu
yang konon menenangkan hati,
tak pernah duduk bersimpuh di hadapanmu
menunggu nasihat yang sederhana namun begitu berarti.
Namun kini namamu hidup di sini
di antara halaman kitab yang kami pelajari,
di antara adab yang selalu diingatkan,
dan di antara doa-doa yang diam-diam dipanjatkan.
Dari cerita para guru
aku mengenalmu seperti cahaya
meski jauh dan tak tersentuh,
tetapi tetap menerangi jalan kami.
Aku hanyalah santri
yang datang setelah engkau pergi,
namun dari jejakmu
aku belajar bagaimana mencintai ilmu
dan menghormati kehidupan.
Pada Kyai yang tak sempat aku jumpai,
izinkan seorang santri
mengirimkan doa dari kejauhan
semoga Allah melapangkan tempat istirahatmu,
menjadikan setiap ilmu yang kau ajarkan
sebagai amal yang terus mengalir,
dan menjaga pesantren ini
tetap hidup oleh cahaya yang kau tinggalkan. []
Suci Dwi Hikmah adalah mahasiswa yang memiliki ketertarikan pada dunia literasi, khususnya puisi. Melalui tulisannya, ia berusaha merekam kenangan, nilai-nilai kehidupan, dan sosok-sosok yang memberi makna dalam perjalanannya. Kini ia kuliah di UIN Imam Bonjol Padang *)




