Cerpen : Nurul Jannah*)
Kadang Allah tidak langsung melembutkan keadaan kita. Ia akan melembutkan hati kita terlebih dahulu
Di minggu kedua Ramadan, notifikasi di grup kelas “Metodologi Riset Lanjut” turun seperti hujan batu.
[Pengumuman: Deadline laporan final tetap Jumat, pukul 23.59. Tidak ada toleransi. Tidak ada pengunduran.]
Dr. Ir. Raya Pradipta, M.Sc.
Nama itu seperti palu yang jatuh di kepala banyak mahasiswa.
Dr. Raya terkenal tegas. Bukan tegas yang sekadar galak. Tegas yang dingin. Tegas yang membuat orang merasa sedang diuji bukan hanya pengetahuan, tetapi juga napas.
Di kampus, orang-orang menyebutnya “dosen angka”, karena ia berbicara dengan data, rubrik, dan standar. Tidak banyak senyum. Tidak banyak basa-basi. Seolah hidup hanya terdiri dari dua pilihan: benar atau salah.
Sore itu, Aisha menatap layar ponselnya lama.
Jumat.
Batas akhir pengumpulan.
Di kepalanya berputar banyak hal. Praktikum, laporan kelompok lain, tugas asistensi, dan rumah yang akhir-akhir ini terasa seperti ruang sempit yang penuh tagihan.
Ayahnya sedang dirumahkan. Ibunya mulai sering batuk tanpa suara. Seolah takut, sekedar batuk pun akan menambah beban.
Di atas semuanya, Ramadan menambah satu lapisan kelelahan yang tidak tampak. Bukan lelah lapar. Tetapi lelah menahan diri agar tidak meledak.
Aisha mengetik pelan di grup.
“Pak, mohon izin. Kalau boleh ada toleransi pengumpulan tugas sampai Sabtu pagi. Banyak yang sedang pulang atau ada urusan keluarga. Ramadan juga….”
Ia buru-buru menghapus kata “Ramadan”. Tapi menulisnya kembali. Lalu menghapusnya lagi. Ia takut terdengar seperti mencari alasan.
Namun yang datang justru balasan singkat yang memotong semua harapan.
“Tidak. Deadline adalah komitmen. Anda semua mahasiswa terdidik. Belajar manajemen waktu.”
Grup seketika riuh.
Ada yang menertawakan.
Ada yang menyindir.
Ada yang mulai memaki halus.
Dan di tengah keributan itu, satu pesan muncul. Pesan yang menyulut api.
“Kalau begini caranya, beliau bukan tegas. Beliau tidak punya hati.”
Pesan itu diikuti puluhan emoji marah. Emoji kecewa juga. Lalu tuduhan-tuduhan lain yang semakin liar.
Aisha membaca semuanya dengan dada berdebar.
Ia tahu, ini salah. Tapi ia juga tahu, banyak orang sedang lelah. Dan ketika manusia lelah, kata-kata bisa menjadi pisau.
Malam itu, di musala kampus, Aisha duduk lebih lama dari biasanya.
Sajadah terasa dingin.
Di kepalanya, wajah Dr. Raya muncul seperti tembok.
Ia mencoba mengusirnya dengan doa, namun justru sebuah pertanyaan datang seperti tamparan.
“Kalau kamu menuntut dosen punya hati, kenapa kamu sendiri membunuh hati dengan kata-kata?”
Aiaha menarik napas panjang.
Pada sepertiga malam.
Waktu sunyi yang sering disebut orang sebagai waktu paling jujur.
*
Pagi berikutnya, kabar itu datang seperti tamparan yang tidak terlihat.
Dr. Raya tidak masuk kelas.
Ada pesan dari bagian akademik. “Kelas hari ini ditunda. Dosen sakit.”
Beberapa mahasiswa mulai berseloroh.
“Ya kali, capek sendiri.”
Namun tiga jam kemudian, kabar yang sebenarnya, menyusul.
Dr. Raya dilarikan ke IGD karena pingsan di ruang kerja. Gula darahnya anjlok.
Grup kelas mendadak sunyi.
Seperti seseorang yang baru sadar. Kata-kata semalam mungkin sedang mengantre menjadi penyesalan.
Aisha menatap layar ponselnya dengan nanar.
Ia ingin mengetik sesuatu. Namun jemarinya keburu gemetar.
*
“Guys….” tulis Fikri, sang ketua kelas.
“Kita jenguk beliau yuk. Minimal minta maaf. Bawa buah. Bawa doa.”
Tak ada yang membantah. Semua setuju.
*
Di rumah sakit, lorong berbau antiseptik. Lampu putih menyala dingin.
Mereka datang bergantian.
Lima orang dulu, lalu lima orang berikutnya. Tidak semua masuk sekaligus, karena ruang rawat hanya muat beberapa orang.
Ketika Aisha masuk, ia melihat Dr. Raya berbaring dengan wajah pucat. Tidak ada aura “dosen angka” di sana. Yang ada hanya seorang manusia biasa yang, untuk pertama kalinya, terlihat rapuh.
Dr. Raya membuka mata.
Matanya menatap Aisha sejenak, seperti sedang mengingat.
“Mahasiswa saya?” suaranya serak.
“Iya, Pak.” Aisha menelan ludah.
“Kami… menjenguk.”
Sunyi beberapa detik.
Lalu Aisha berkata lirih, tanpa memikirkan lagi kalimat yang tepat.
“Pak, maaf….”
Dr. Raya menatap langit-langit.
“Untuk apa?”
“Untuk kata-kata di grup,” jawab Aisha cepat.
“Untuk pikiran buruk. Untuk tuduhan yang tidak adil.”
Dr. Raya tidak langsung menjawab.
Napasnya terdengar berat.
Kemudian ia berkata pelan.
“Di grup, kalian menulis saya tidak punya hati, ya?”
Aisha membeku. Lidahnya terasa kelu.
Dr. Raya tersenyum tipis. Senyum yang tidak sepenuhnya senyum.
“Saya baca.”
Aisha ingin menghilang.
Namun Dr. Raya melanjutkan.
“Saya memang tegas. Kadang kelewat keras. Saya pikir itu cara menyelamatkan kalian dari dunia yang tidak memberi toleransi.”
Ia menelan ludah.
“Tapi kalian juga benar”.
Ia berhenti sejenak
“Saya lupa… kalian bukan mesin.”
Aisha menatapnya, terkejut.
Dr. Raya memejam sebentar, seolah merapikan sesuatu di dalam dirinya.
“Waktu saya dulu kuliah,” katanya, “ibu saya meninggal saat saya ujian akhir”.
Ruang itu terasa makin sunyi.
“Saya tetap datang ujian. Saya pikir itu bukti kuat.”
Ia menarik napas panjang.
“Ternyata, itu hanya bukti bahwa saya tidak membiarkan diri saya punya ruang untuk berduka.”
Aisha seperti dipukul godam. Membuatnya terhenyak.
Dan, tetiba ia mengerti.
Tegas yang dingin kadang bukan karena tidak punya hati, tetapi karena hati itu pernah patah dan memilih membeku agar tidak terasa sakit lagi.
Fikri masuk membawa kurma dan air mineral.
“Pak,” katanya lugas, tanpa basa basi.
“Kami punya usulan”
“Deadline tetap jalan”
“Tapi rubrik penilaian dibuka lebih awal, biar kami fokus dan tahu arah kerja”.
“Dan kalau ada yang terlambat karena alasan yang jelas, tetap ada jalur resmi, bukan jalur kasihan.”
Dr. Raya menatap Fikri. Lama.
Lalu ia mengangguk.
“Baik. Saya buat kebijakan tertulis. Transparan. Tidak ada ruang untuk drama”.
Ia berhenti sejenak.
“Tapi tetap ada ruang untuk manusia.”
*
Sejak hari itu, kelas mereka berubah.
Bukan juga menjadi kelas yang longgar. Namun menjadi kelas yang sehat.
Dr. Raya tetap tegas, tetapi kini ia belajar menatap mata mahasiswa sebagai manusia, bukan sekedar angka.
Mahasiswa pun belajar. Menuntut empati tidak boleh menghilangkan adab.
Ketika hari penilaian tiba,
Dr. Raya memberikan pengumuman yang membuat kelas terdiam.
“Nilai bukan hanya angka,” katanya.
Ia menatap satu per satu mahasiswa.
“Nilai juga adalah cara kalian bertahan”.
Lalu ia berkata pelan.
“Dan Ramadan mengajarkan, ternyata yang paling berat bukan menahan lapar”
Ia berhenti sejenak.
“Tetapi menahan ego.”
*
Sore itu Aisha pulang dengan dada yang terasa lebih ringan.
Di jalan, ia baru paham: kadang Allah tidak langsung menjawab doa kita dengan kelonggaran. Kadang, Allah menjawabnya dengan pelajaran yang membuat kita tumbuh.🌹
Bogor, 6 Maret 2026
Nurul Jannah adalah seorang dosen lingkungan di IPB University, lulusan doktor lingkungan dari Hiroshima University, penulis produktif, dan penggerak literasi*)
