Oleh: Nurul Jannah*)
Suatu hari, tanpa sengaja, mata berhenti cukup lama di depan cermin. Lalu terdengar suara kecil dari dalam hati.
“Kapan rambut ini mulai memutih?”
Tidak ada jawaban.
Hanya senyum tipis yang muncul.
Waktu memang tidak pernah mengetuk pintu sebelum datang. Ia berjalan jauh lebih cepat dari yang pernah dibayangkan.
Ia selalu meninggalkan jejak. Di wajah. Di langkah. Di kenangan. Dan di hati.
Pernah ada masa ketika hidup terasa sangat panjang. Begitu panjang hingga esok seolah tidak pernah habis.
“Nanti saja…”
“Masih ada waktu.”
“Besok juga bisa…”
Betapa sering kalimat itu diucapkan.
Kini, setelah melewati begitu banyak musim kehidupan, kalimat-kalimat itu terdengar berbeda.
Ternyata waktu tidak pernah benar-benar menunggu siapapun.
Baru kemarin merasa menjadi anak yang menggenggam erat tangan ibu.
Ternyata hari ini sudah menjadi tempat bersandar bagi anak-anak.
Baru kemarin sibuk mengejar mimpi. Ternyata hari ini lebih sering menghitung nikmat yang telah Allah berikan.
Kadang hati bertanya kepada diri sendiri.
“Jika bisa kembali ke masa lalu, apa yang ingin diperbaiki?”
Pertanyaan itu datang begitu saja. Lalu kenangan berjalan satu per satu.
Ada keputusan yang seharusnya lebih bijak. Ada kata-kata yang seharusnya lebih lembut.
Ada kesempatan yang seharusnya tidak disia-siakan. Ada air mata yang seharusnya tidak perlu jatuh.
Namun waktu tidak pernah berjalan mundur. Dan mungkin memang bukan itu tujuannya.
*Karena hidup bukan untuk mengulang. Hidup adalah ruang untuk belajar, bertumbuh dan memahami.
Maka hari ini ingin berkata kepada diri sendiri.
Tidak apa-apa.
Tidak apa-apa jika pernah gagal.
Tidak apa-apa jika pernah salah memilih jalan.
Tidak apa-apa jika pernah terluka.
Tidak apa-apa jika pernah kecewa.
Karena semua itu ikut membentuk siapa diri kita hari ini.
Hari ini juga ingin meminta maaf. Maaf karena pernah terlalu keras kepada diri sendiri. Maaf karena pernah mengejar kesempurnaan yang tidak pernah ada. Maaf karena pernah memikul beban yang seharusnya sudah dilepaskan sejak lama.
Dan maaf karena sering lupa bahwa diri ini juga berhak dipeluk dengan kasih sayang.
Ada satu kalimat yang semakin sering terasa benar, tidak semua hal harus dimenangkan.
Dulu ingin menjelaskan banyak hal. Kini lebih memilih diam.
Dulu ingin dipahami semua orang. Kini cukup dipahami oleh Allah.
Dulu ingin membuktikan banyak hal. Kini lebih ingin memperbaiki diri.
Suatu sore, sahabat lama, Puji, bertanya: “Apa pelajaran terbesar yang diberikan waktu?”
Jawabannya ternyata sederhana. “Bahwa hidup terlalu berharga untuk diisi kebencian.”
Puji tersenyum.
“Lalu apa lagi?”
Saya ikut tersenyum.
“Dan?”
“Dan ternyata memaafkan diri sendiri jauh lebih sulit daripada memaafkan orang lain.”
Kami pun sama-sama terdiam.
Karena kadang kebenaran memang tidak membutuhkan banyak kata.
Hari demi hari akhirnya mengajarkan bahwa yang paling berharga bukanlah apa yang berhasil dikumpulkan. Melainkan orang-orang yang masih Allah hadirkan dalam kehidupan.
Keluarga yang menjadi tempat pulang. Sahabat yang tetap bertahan. Guru yang meninggalkan hikmah. Murid yang membuat kita terus belajar Dan begitu banyak orang baik yang pernah singgah membawa pelajaran berharga.
Kini setiap pagi terasa berbeda. Karena cara memandang kehidupan yang mulai berubah.
Setiap pertemuan terasa lebih berharga. Setiap kesempatan berbuat baik terasa lebih penting.
Setiap doa terasa lebih dalam. Karena semakin disadari bahwa tidak ada yang benar-benar pasti selain perjalanan pulang.
Maka untuk sisa perjalanan yang masih Allah titipkan, semoga langkah menjadi lebih hati-hati.
Lebih lembut dalam berbicara. Lebih ringan dalam memaafkan.
Lebih ikhlas dalam melepaskan. Lebih banyak bersyukur. Lebih banyak memberi manfaat.
Dan lebih sering mengingat bahwa semua yang ada hanyalah titipan.
Sebab pada akhirnya, waktu akan membawa semua kembali kepada pemilikNya.
Dan ketika hari itu tiba, semoga yang tertinggal bukan hanya nama, bukan hanya cerita. Melainkan jejak-jejak kebaikan yang tetap hidup dalam doa, kenangan, dan hati banyak orang.
Karena sesungguhnya, ukuran kehidupan bukanlah berapa lama kita hidup. Melainkan seberapa banyak cinta, manfaat dan kebaikan yang sempat kita tinggalkan sebelum waktu selesai menjalankan tugasnya. 💞💕
Bogor, 15 Juni 2026
