Malam itu, Jumat (13/3/2026), jarum jam menunjukkan pukul 23.30 WIB saat langkah akhirnya sampai di rumah di Yogyakarta. Perjalanan panjang selama hampir tiga minggu resmi ditutup. Namun bagi Dr. Aqua Dwipayana, ini bukan sekadar perjalanan lintas kota, melainkan perjalanan hati, energi, dan makna.
Sebagai pakar komunikasi dan motivator nasional, Aqua menjalani Safari Ramadan dengan cara yang berbeda. Ia tidak hanya hadir sebagai tamu, tetapi sebagai pembelajar sekaligus penyebar energi positif.
Dari Sumatera, Sulawesi, hingga Jawa, lima provinsi disinggahi. Ribuan orang ditemui. Dan dari setiap pertemuan itu, selalu ada satu hal yang dibawa pulang: inspirasi.
Bagi Aqua, bertemu orang bukan sekadar formalitas. Setiap silaturahmi adalah ruang bertukar energi.
Entah itu dengan pejabat, pengusaha, sahabat lama, atau orang yang baru dikenal, semuanya diperlakukan sama: dihargai, didengarkan, dan dikuatkan.
“Setiap orang punya kelebihan,” menjadi prinsip yang ia pegang.
Tak heran, dalam setiap pertemuan, ia selalu hadir dengan semangat penuh. Memberi motivasi, mengapresiasi, dan mengangkat sisi terbaik dari lawan bicaranya. Dilakukan dengan tulus, tanpa pamrih.
Dan justru dari situ, hubungan terasa hangat dan alami.
Kendari: Singkat, Padat, Penuh Makna
Salah satu potret paling menggambarkan ritme perjalanan Aqua terjadi di Kendari, Sulawesi Tenggara.
Waktunya hanya sekitar 6,5 jam.
Pagi hari terbang dari Makassar, mendarat di Bandara Haluoleo, lalu langsung bergerak dari satu titik ke titik lain. Bertemu pimpinan OJK, bersilaturahmi dengan sahabat lama, berdiskusi dengan jajaran Polda, hingga berkunjung ke Bank Indonesia dan Kejaksaan Tinggi.
Semua dilakukan dengan tempo cepat, tapi tetap hangat.
Tak ada kesan terburu-buru dalam setiap pertemuan. Justru yang terasa adalah kedalaman komunikasi— ciri khas seorang motivator yang tahu bagaimana membangun koneksi dalam waktu singkat.
“Bukan soal lama waktunya, tapi kualitas pertemuannya,” seolah menjadi pesan dari setiap langkahnya di Kendari.
Bagi Aqua, silaturahmi bukan agenda musiman. Ini adalah gaya hidup.
Sejak jauh hari sebelum berangkat, ia sudah menyusun rencana. Menghubungi relasi, menyusun jadwal, memastikan setiap pertemuan punya makna.
Kalau ada waktu, ia memilih bertemu langsung. Duduk, berbincang, tertawa, dan bertukar cerita.
Jika tidak memungkinkan, ia tetap menyapa lewat telepon atau pesan. Menjaga hubungan tetap hangat, meski jarak memisahkan.
Konsistensi inilah yang membuat jaringannya begitu luas dan tetap kuat.
Berbagi Tanpa Batas
Sebagai motivator nasional, Aqua tidak selalu membawa “materi” dalam arti harfiah. Tapi ia selalu membawa sesuatu: energi positif.
Ia percaya, berbagi tidak harus dalam bentuk uang atau barang.
Kadang cukup dengan kalimat yang menguatkan. Kadang hanya dengan kehadiran yang tulus. Kadang dengan mendengarkan tanpa menghakimi.
Dan justru, bentuk-bentuk sederhana itu yang sering paling dibutuhkan.
Setiap kali berbagi, ia meniatkannya sebagai ibadah. Tanpa beban. Tanpa harapan balasan.
“Kalau pun ada yang berterima kasih, arahkan saja kepada Tuhan,” menjadi prinsip yang ia pegang teguh.
Di balik padatnya jadwal dan luasnya perjalanan, ada satu fondasi yang membuat semuanya terasa ringan: niat.
Perjalanan ini dijalani sepenuhnya karena ibadah. Karena ingin memberi manfaat, bukan mencari keuntungan.
Dan dari situlah, kemudahan demi kemudahan datang.
Jadwal yang padat tetap terasa mengalir. Perjalanan jauh tidak terasa melelahkan. Pertemuan demi pertemuan berjalan lancar.
Seolah ada “tangan tak terlihat” yang terus membuka jalan.
Kini perjalanan itu telah usai. Namun bagi Dr. Aqua Dwipayana, yang dibawa pulang bukan hanya kenangan.
Ada pelajaran. Ada energi. Ada rasa syukur yang semakin dalam.
Safari Ramadan ini membuktikan satu hal sederhana: ketika niat baik dijaga, langkah akan dimudahkan.
Dan dari perjalanan lintas pulau itu, satu pesan mengendap kuat, bahwa kebaikan, sekecil apa pun, selalu punya cara untuk kembali dengan cara yang tak terduga.
Alhamdulillah, perjalanan ini bukan hanya tentang sampai di tujuan. Tapi tentang bagaimana setiap langkahnya menjadi berkah. (hendri parjiga)
