Cerpen: Hendri Parjiga*
BADRUN menatap toples kaca di atas meja ruang tamu. Isinya kue lebaran yang sama: nastar, arai pinang, kacang tojin, kue bawang dan putri salju tersusun rapi. Nyaris tanpa celah, seperti tak pernah disentuh.
Lima Lebaran terakhir, toples itu menjadi saksi tawa, peluk, dan riuh silaturahmi. Tapi hari ini, di Lebaran ketiga, ia hanya benda sunyi yang memantulkan kesepian.
Di sampingnya, gelas-gelas kosong ditelungkupkan rapi di atas nampan. Tak satu pun bergeser.
“Berarti tidak ada yang datang…” gumam Badrun pelan.
“Uda Badrun… sudah lama pulang?”
Suara Siti menyapa dari belakang. Ia datang dengan pangkuan kain yang baru diangkat dari jemuran. Wajahnya tenang, tapi sorot matanya menyimpan banyak hal yang tak terucap.
“Maaf Uda, Siti dari tadi di belakang. Tak nampak Uda pulang.”
Badrun mengangguk singkat. Matanya kembali ke toples.
“Tidak ada tamu kita hari ini, Siti?”
Siti terdiam sesaat. Lalu menjawab lirih,
“Belum ada, Uda.”
Sunyi menggantung.
*
Sejak pagi, Badrun menunggu. Hari pertama dan kedua Lebaran telah lewat tanpa jejak siapa pun dari keluarga besarnya. Hari ketiga ini, ia masih bertahan dengan harapan.
“Mungkin mereka banyak tamu,” katanya siang tadi.
Namun menjelang magrib, harapan itu runtuh perlahan.
“Sudahlah… mungkin mereka sudah tak hafal jalan ke rumah kita,” ucapnya dengan suara hampir hilang.
Siti menatap suaminya, menahan sesuatu di dadanya.
“Jangan begitu, Uda…”
Namun Badrun sudah tahu jawabannya.
Ia membuka ponsel. Grup WhatsApp keluarga penuh dengan foto dan video: tawa, hidangan, pelukan hangat.
Di rumah Rima.
Adiknya.
Jaraknya hanya dua kilometer. Jalan menuju ke sana bahkan melewati rumahnya.
Tapi tak satu pun mampir.
Rima, adik yang paling ia banggakan.
Dulu, beberapa tahun sebelum wafat, ayah mereka, Rajo Kuaso Diateh, berpesan agar anak-anaknya sekolah setinggi mungkin, Badrun adalah orang pertama yang mengorbankan mimpinya. Ia berhenti setamat SMA, bekerja apa saja, demi adik-adiknya.
Rima ia perjuangkan sepenuh jiwa. Ia carikan beasiswa, ia bantu biaya hidup, ia kuatkan setiap kali adiknya hampir menyerah. Hingga akhirnya Rima menjelma menjadi kebanggaan keluarga—
akademisi ternama, cerdas, terpandang. Bersuamikan lelaki mapan pula.
Adik-adik lain pun menjadi sarjana dan berhasil dalam karier mereka.
Badrun hanya tersenyum dari kejauhan. Ia tak pernah merasa rugi.
“Yang penting mereka bahagia,” katanya suatu waktu.
Namun roda hidup berputar.
Empat tahun lalu, Badrun kehilangan pekerjaannya. Badrun memilih pensiun dini karena badai krisis yang memaksa perusahaan tempat dia bekerja mengurangi karyawan, keadaan tak lagi sama. Usaha kecil Siti ikut meredup. Perlahan, kehidupan mereka menyempit.
Dan entah sejak kapan, silaturahmi juga ikut menjauh. Pintu rumah Badrun tak lagi ramai diketuk.
Malam itu, Badrun duduk sendiri di ruang tamu. Lampu temaram. Toples kue masih penuh.
Ia membuka mushaf kecil. Matanya tertumbuk pada ayat yang dulu sering dibacakan ayahnya:
“Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara…”
Badrun menutup mushaf. Dadanya sesak.
“Aku ini menunggu saudara, tapi mungkin lupa menjadi saudara…” bisiknya.
Air matanya jatuh.
Siti datang, meletakkan teh hangat.
“Kita yang datang, Uda,” katanya pelan.
Badrun menoleh.
“Kita yang membuka jalan. Jangan tunggu dibukakan,” sambung Siti.
Pagi hari keempat Lebaran, mereka berangkat. Badrun mengenakan baju terbaiknya yang mulai pudar. Siti membawa rantang berisi kue.
Setiap langkah terasa berat, tapi juga ringan—seperti ada yang dilepas, sekaligus ditemukan.
Saat tiba di rumah Rima, suasana masih ramai. Tawa terdengar dari dalam.
Badrun berdiri di depan pintu sejenak. Tangannya gemetar saat mengetuk.
Pintu terbuka.
Rima berdiri di sana.
Wajahnya kaget. Lalu… pecah.
“Udaaa…”
Tangisnya langsung tumpah. Ia memeluk Badrun erat, seakan takut kehilangan.
“Maafkan Rima, Uda… maaf…”
Suasana berubah. Satu per satu anggota keluarga mendekat. Pelukan bersambung. Tangis menjalar dari satu dada ke dada lain.
Namun di tengah keramaian itu, tiba-tiba seorang kemenakan kecil—anak Rima—menarik baju ibunya.
“Mama… itu siapa?”
Rima terdiam. Ia menatap anaknya, lalu menatap Badrun. Wajahnya berubah.
Tangisnya semakin deras. Dadanya makin bergoncang kencang.
“Ini… ini orang yang membuat Mama bisa seperti sekarang, Nak…” suaranya bergetar.
Semua terdiam.
Badrun menggeleng pelan.
“Sudahlah, Rima… jangan begitu…”
Namun Rima berlutut di hadapan Badrun.
Tangannya menggenggam tangan kakaknya erat.
“Selama ini kami datang ke rumah yang besar, meja yang penuh, hidup yang terlihat… tapi kami lupa datang ke hati yang paling berjasa,” ucapnya sambil terisak.
Tangis pecah di seluruh ruangan.
Salah satu adik laki-lakinya maju, menunduk. Tiga adik lainnya mengekor di belakang. Melakukan hal yang sama.
“Uda… kami terlalu lama sibuk menghitung keberhasilan… sampai lupa menghitung pengorbanan…”
Badrun tak mampu lagi menahan air mata.
Badrun memandang satu per satu wajah keluarga yang dulu ia perjuangkan.
Lalu perlahan, ia mengangkat tangan.
“Kalau memang kalian ingat… jangan ingat aku sebagai orang yang berjasa,” katanya lirih.
“Ingatlah… bahwa kita ini saudara. Dan saudara… tidak pernah selesai hanya karena keadaan berubah.”
Sunyi.
Namun kali ini, sunyi yang penuh makna.
*
Sore itu, sesuatu yang tak pernah terjadi selama empat tahun terakhir akhirnya terjadi.
Rumah kecil Badrun dipenuhi langkah.
Satu mobil. Dua mobil. Tiga mobil.
Anak-anak berlarian. Tawa kembali hidup. Pintu yang lama sepi, kini terbuka lebar.
Toples yang tadi pagi masih penuh, kini kosong—benar-benar kosong.
Bukan karena dimakan semata. Tapi karena setiap orang yang datang mengambilnya dengan tangan gemetar—seolah sedang menebus rindu yang terlalu lama ditunda.
Di sudut ruang, Badrun duduk diam.
Matanya berkaca-kaca.
Ia menatap Siti.
“Ti… ternyata bukan mereka yang lupa jalan pulang…”
Siti tersenyum, air matanya jatuh.
“Tapi kita yang hampir lupa… bahwa pintu hati harus lebih dulu dibuka…”
Di tengah riuh yang kembali hidup, azan magrib berkumandang nyaring.
Badrun berdiri. Suaranya bergetar, tapi teguh.
“Ayo… kita salat berjamaah.”
Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama, rumah itu kembali penuh. Bukan hanya oleh manusia, tetapi oleh ampunan, oleh rindu yang dipertemukan, dan oleh kasih sayang yang akhirnya menemukan jalannya pulang. []
Biodata Singkat Penulis
Hendri Parjiga mulai menulis cerpen, puisi, dan esai sejak duduk di bangku SMA. Karya-karyanya banyak dimuat di media lokal Sumatera Barat seperti Harian Haluan, Singgalang, Semangat, dan Mingguan Canang. Seiring waktu, pria kelahiran Padang, 5 Februari ini terus mengasah kemampuannya hingga beberapa cerpennya menembus media ternama Nasional. Hanya saja, sejak berprofesi sebagai wartawan pada awal ’90-an, kesibukan sempat menjauhkan dirinya dari dunia sastra. Kini, semangat menulis cerpen kembali menyala dalam dirinya. []




