Cerpen : Nurul Jannah*)
Di kota ini mereka belajar mencintai, dan belajar bahwa tidak semua cinta harus dimiliki.
Jogjakarta selalu punya cara membuat orang kembali. Bukan hanya tubuh yang pulang, tetapi juga kenangan.
Ada memang kota yang setelah ditinggalkan, perlahan memudar seperti foto lama yang warnanya dimakan waktu. Namun Jogja berbeda. Ia tidak pernah benar-benar pergi dari ingatan. Ia tinggal di dada, seperti lagu lama yang tiba-tiba diputar kembali oleh rindu.
Angin yang berembus di bawah pohon trembesi kampus UGM, suara sepeda yang melintas di jalan sempit, aroma kopi dari warung kecil di sudut gang, semuanya menyimpan cerita yang tidak pernah benar-benar selesai.
Dan bagi sebagian orang, Jogja bukan hanya kota semata. Ia adalah tempat di mana hati pernah belajar mencintai…lalu belajar melepaskan sesuatu yang sebenarnya tidak pernah siap dilepaskan.
Dua puluh lima tahun lalu, dua pemuda datang ke kota itu dengan mimpi yang hampir sama.
Raka datang dari Bandung. Bima datang dari Makassar.
Mereka pertama kali bertemu di halaman kampus Universitas Gadjah Mada pada hari pertama kuliah.
Raka yang memulai percakapan.
“Mahasiswa baru juga?”
Bima mengangguk, lalu tersenyum.
Sejak hari itu mereka berdua tidak pernah benar-benar terpisah.
Mereka belajar bersama di perpustakaan. Makan malam murah di warung burjo sampai larut. Membicarakan masa depan yang terasa begitu luas karena mereka masih sangat muda.
Jogja menjadi saksi persahabatan mereka. Persahabatan yang sederhana, namun begitu kokoh, hingga terasa seperti rumah.
Sampai suatu sore di awal semester dua. Hujan baru saja berhenti. Langit Bulaksumur berwarna kelabu lembut.
Raka dan Bima duduk di teras gedung fakultas ketika seorang perempuan berjalan melewati mereka.
Ia membawa buku-buku tebal. Tas ransel besar menggantung di punggungnya. Kerudungnya berwarna krem.
Langkahnya tenang.
Namanya Aisyah Lestariningrum.
Tidak ada peristiwa dramatis ketika mereka pertama kali bertemu. Namun entah bagaimana, sejak sore itu Jogja terasa sedikit berubah.
Seolah kota ini diam-diam menyimpan satu cerita yang kelak akan melukai mereka selesai.
Aisyah perlahan menjadi bagian dari hari-hari mereka.
Ia sering terlihat di perpustakaan. Di diskusi sastra kecil yang kadang hanya dihadiri lima orang.
Di warung kopi sederhana dekat Selokan Mataram.
Raka mudah akrab dengan siapa saja. Bima lebih banyak mendengarkan. Namun tanpa mereka sadari, sesuatu mulai tumbuh.
Bukan semata rasa suka. Melainkan rasa yang pelan-pelan mengakar dalam hati mereka berdua.
Perasaan yang sama. Dan tidak ada yang berani menyebutnya lebih dulu.
Lagu yang Menjadi Saksi
Suatu malam mereka duduk di angkringan dekat Tugu. Lampu minyak kecil menggantung di atas meja kayu.
Seorang pengamen memainkan gitar tua. Ia menyanyikan lagu dari KLa Project.
“Pulang ke kotamu, ada setangkup haru dalam rindu…”
Raka menatap jalan yang hampir kosong.
“Bi… kayaknya gue jatuh cinta.”
Bima menunduk. Ia sudah tahu siapa yang dimaksud.
Aisyah.
Namun ia hanya berkata,
“Dia perempuan yang baik.”
Raka tersenyum.
“Iya.”
Malam itu lagu itu terus mengalun. Dan tanpa mereka sadari, lagu itu suatu hari akan berubah menjadi luka yang paling menyakitkan dalam hidup mereka.
Beberapa minggu kemudian, Bima akhirnya jujur kepada dirinya sendiri. Ia juga mencintai Aisyah.
Namun ia tahu satu hal yang lebih menakutkan dari patah hati, yaitu kehilangan sahabat.
Jika ia memperjuangkan perasaan itu, persahabatan mereka bisa hancur. Dan Bima tidak sanggup kehilangan rumah yang selama ini ia miliki.
Malam itu di kamar kos kecilnya di Pogung, ia membuat keputusan yang diam-diam menghancurkan dirinya sendiri.
Ia memilih mengalah bahkan sebelum berjuang. Ia akan menyimpan perasaan itu. Sendiri.
Suatu sore Raka mengajak Aisyah berbicara di taman dekat perpustakaan. Ia membawa bunga sederhana. Aisyah mendengarkan penjelasan dengan seksama.
Setelah Raka selesai, Aisyah tersenyum. Namun senyum itu terasa berbeda.
“Maaf, aku tidak bisa, Raka.”
Raka menelan napas.
“Ada orang lain?”
Aisyah mengangguk perlahan.
“Siapa?”
Aisyah menunduk sebelum menjawab.
“Bima.”
Seperti petir tanpa suara, kalimat itu, kalimat itu memecah dada Raka. Dunia Raka terasa runtuh. Seperti kaca yang retak tanpa bunyi.
Namun ia tidak marah. Ia hanya berjalan pergi.
Malam itu Raka berjalan sendirian mengelilingi Bulaksumur. Dari sebuah warung kopi terdengar lagi lagu yang sama.
“Masih seperti dulu…
tiap sudut menyapaku bersahabat…”
Baru kali itu Raka menyadari ada beberapa hal yang selama ini ia abaikan. Cara Aisyah menatap Bima. Cara Bima selalu diam ketika nama Aisyah disebut.
Raka tertawa kecil pada dirinya sendiri.
“Bodoh banget gue.”
Namun di dalam dadanya, ada rasa perih yang mengoyak perlahan.
Bukan saja karena cintanya ditolak, tetapi karena ia baru menyadari bahwa sahabatnya pun mencintai perempuan yang sama.
Keesokan harinya Raka menemui Bima. Mereka duduk di tangga gedung pusat.
“Kenapa kamu nggak pernah bilang?”
Bima pura-pura tidak mengerti.
“Bilang apa?”
“Kalau kamu juga cinta sama dia.”
Bima terdiam lama.
Lalu ia berkata pelan,
“Karena aku tidak pernah ingin menang… dengan cara membuatmu kalah.”
Kalimat itu membuat Raka terdiam.
Untuk pertama kalinya ia mengerti betapa dalam pengorbanan sahabatnya.
Jalan yang Dipilih Aisyah
Beberapa tahun kemudian Aisyah melanjutkan studi lingkungan di Jepang.
Di negeri Matahari Terbit itu, di antara musim gugur yang menggugurkan daun-daun merah, ia sering berjalan sendirian menyusuri taman kampus.
Ia membawa satu rindu yang tidak pernah ia ceritakan kepada siapa pun. Karena untuk pertama kalinya ia menyadari sesuatu yang terlambat. Ia tidak hanya kehilangan satu cinta. Ia kehilangan dua hati yang sama-sama tulus mencintainya.
Setelah menyelesaikan studinya, Aisyah pulang ke Jogja. Ia memilih kembali ke kampus lama mereka. Kini ia menjadi dosen lingkungan di Fakultas Kehutanan UGM.
Mahasiswa mengenalnya sebagai dosen yang tenang dan penuh wibawa.
Ia berbicara tentang hutan, tentang bumi, dan tentang masa depan yang harus dijaga. Suara dan pikirannya jernih, seolah hidupnya tidak pernah diguncang oleh badai apapun. Namun tidak ada yang tahu, jauh di kedalaman hatinya ada satu ruang sunyi yang tidak pernah dimasuki siapa pun.
Di ruang itulah dua nama terus hidup, diam-diam, sepanjang waktu: Raka dan Bima.
Senja yang Mempertemukan Kembali
Dua puluh lima tahun kemudian. Senja turun perlahan di Jogja. Langit Bulaksumur berwarna jingga lembut.
Raka berdiri di gerbang kampus UGM untuk menghadiri reuni.
Seseorang memanggil namanya.
“Raka.”
Ia menoleh.
Bima.
Rambut mereka sudah mulai memutih. Namun senyum mereka masih sama.
Mereka duduk di tangga lama yang dulu sering mereka tempati.
Raka bertanya pelan,
“Kamu akhirnya nikah sama Aisyah?”
Bima menggeleng.
“Tidak.”
“ Lhoh, kenapa?”
Bima menatap langit senja.
“Karena Aisyah tidak memilih kita berdua.”
Beberapa menit kemudian seorang perempuan berjalan mendekat. Kerudung krem. Tas ransel di punggungnya. Langkah yang sama seperti dua puluh lima tahun lalu.
Aisyah.
Ia tersenyum melihat mereka.
“Kalian masih duduk di tempat yang sama.”
Mereka tertawa kecil.
Lalu Aisyah berkata pelan,
“Karena aku tahu… jika aku memilih salah satu dari kalian, aku akan kehilangan yang lain.”
Senja Jogja turun perlahan.
Dan di tangga tua Bulaksumur itu mereka akhirnya memahami satu hal sederhana, namun sangat berharga: Tidak semua cinta ditakdirkan untuk dimiliki. Sebagian hanya datang untuk mengajarkan arti persahabatan.
Memang, ada cinta yang tidak pernah menjadi milik siapa pun. Ia hanya singgah sebentar di antara dua hati yang saling menjaga. Ia tidak menjadi rumah, tidak pula menjadi janji. Ia hanya menjadi kenangan yang diam-diam hidup di setiap kali lagu lama diputar dan senja kembali turun di Jogja.
Karena pada akhirnya, yang paling abadi bukanlah cinta yang dimiliki, melainkan cinta yang dengan sadar kita lepaskan.❤️
Bogor, 14 Maret 2026
Nurul Jannah adalah seorang dosen lingkungan di IPB University, lulusan doktor lingkungan dari Hiroshima University, penulis produktif, dan penggerak literasi*)
