“Cahaya yang Tak Pernah Padam”

Oleh : Nurul Jannah*)

Lima puluh tahun berlalu, ada cinta yang melekat, tidak pernah selesai ditinggalkan

Pagi itu…, Ahad, 5 April 2026, Condet belum benar-benar bangun. Namun suasana sudah terasa berbeda.

Sejak pukul 07.00 WIB, lantunan sholawat mulai diperdengarkan, mengalun pelan, khidmat, dan memenuhi seluruh ruangan acara dengan ketenangan religius yang sulit dijelaskan.

Orang-orang datang dalam diam. Langkah mereka pelan, tapi pasti. Wajah-wajah mereka terlihat teduh, penuh khikmat dan menenangkan.

Tidak ada hiruk-pikuk.
Tidak ada kegaduhan.

Yang ada… hanya satu rasa, satu tujuan yang sama, yaitu rindu.

Sholawat demi sholawat dilantunkan. Mengalir lembut… seperti gemercik air yang menenangkan jiwa.

Sebagian jamaah menunduk.
Sebagian memejamkan mata.
Sebagian lain…mengangkat tangannya dan kemudian diam-diam menyeka air mata yang jatuh tanpa diminta.

Karena di tempat itu, di kediaman Habib Hasyim Alhamid, hati hati yang jenuh dan terasa lelah, perlahan kembali menemukan arah tujuannya.

Lalu… acara haul dibuka oleh Ustadz Sapari dengan melantunkan Sholawat Mansub, sholawat yang diinisiasi oleh Habib Sholeh Tanggul, sebanyak 101 kali.

Suasana seketika berubah.
Bukan menjadi ramai,
justru menjadi semakin hening dan khusyuk.

Seolah setiap lafal yang diucapkan mengetuk pintu langit…dan memanggil satu per satu jiwa digugah untuk kembali .

“Allahumma Shalli ‘Ala Sayyidina Muhammad…”

Lafal itu tidak hanya terdengar, ia melekat, tersisa. Mengalir ke dalam dada, melembutkan hati yang keras, menenangkan jiwa yang liar dan gelisah.

Pada detik-detik itu, banyak yang tak lagi mampu menahan air mata, karena yang hadir bukan hanya suara, melainkan kerinduan panjang yang akhirnya menemukan muaranya.

Pukul 09.00 WIB, acara inti dimulai.

Shohibul bait, Habib Hasyim bin Muhammad Alhamid, membuka majelis dengan penuh ketegasan, sekaligus menyemangati jamaah untuk terus menjaga kecintaan kepada para wali dan meneladani akhlaknya.

Suara beliau tegas. Setiap kalimatnya… jatuh tepat di hati.

Beliau tidak hanya mengisi acara inti, tetapi juga membuka kesadaran, bahwa haul bukan sekadar mengenang, melainkan melanjutkan jejak amal sholeh dan kebaikan yang telah diwariskan oleh Habib Sholeh.

Kemudian…biografi Habib Sholeh Tanggul dibacakan oleh cicit beliau, Habib Ahmad bin Hasyim Alhamid, putra dari Habib Hasyim.

Satu per satu kisah dibaca untuk dihadirkan kembali.

Tentang perjalanan hidup yang penuh keteladanan. Tentang dakwah yang tidak banyak bicara, tetapi didahului dengan perbuatan, sehingga mengubah banyak hati. Tentang keikhlasan murni yang tidak pernah meminta balasan.

Setiap kalimat yang dibacakan seakan menghidupkan kembali sosok Habib Sholeh, bukan sebagai cerita masa lalu, tetapi sebagai cahaya yang hidup, masih terasa hingga hari ini.

Sebagian jamaah menunduk. Sebagian terdiam lama.

Karena yang diingat bukan hanya kisah cerita, tetapi sentuhan akhlak mulia yang pernah menguatkan kehidupan banyak masyarakat.

Acara kemudian dilanjutkan dengan tausiyah oleh Ustadz Makbul. Dengan bahasa yang sederhana namun menyentuh, beliau mengingatkan bahwa kemuliaan seorang wali terletak pada akhlaknya, yang terus hidup, bahkan setelah beliau wafat.

Setelah itu…majelis semakin mendalam dengan kehadiran para alim ulam dan para habaib yang memberikan tausiyah penuh hikmah.

Habib Muhsin bin Aidrus Alhamid, yang pernah berjumpa langsung dengan Habib Sholeh, menghadirkan kisah nyata yang membuat jamaah seolah ikut menyaksikan keteladanan beliau, Habib Sholeh.

Habib Muhammad bin Ali, yang meneguhkan kembali pentingnya menjaga sanad keilmuan dan akhlak.

Prof. Dr. Ahmad Al-Kaf, yang menyampaikan dengan sudut pandang ilmiah namun tetap menyentuh ruh, dengan semangat yang membara mengajak kita semua lebih dekat pada Allah.

Habib Salim bin Umar Alhamid, yang menutup rangkaian tausiyah dengan pesan mendalam tentang cinta kepada Allah dan para kekasih-Nya.

Setiap tausiyah bukan sekadar ceramah, tetapi seperti potongan cahaya yang telah menyatu, menerangi hati semua yang adir, satu per satu.

Dan akhirnya…sampailah pada penutup acara yang paling dinanti.

Habib Hasyim memberikan ijazah dari Habib Mahdi bin Husein Al Hamid; sebuah sanad yang bersambung langsung dari Habib Sholeh bin Muhsin Al Hamid Tanggul.

Suasana kembali hening.

Semua larut dalam keharuan yang sulit ditahan.

Ijazah itu bukan sekadar bacaan, tetapi amanah. Bukan sekadar doa; tetapi amalan yang harus dijaga.

Hari ini, haul ke-50 Habib Sholeh Tanggul bukan semata peringatan tahunan.

Ia adalah pertemuan.

Antara rindu dan doa.
Antara kenangan dan harapan. Antara manusia… dan cahaya yang tersimpan, yang tak pernah benar-benar padam.

Dan ketika langkah-langkah mulai meninggalkan tempat itu,
setiap hati membawa pulang satu hal yang sama: bahwa seorang wali tidak pernah pergi…selama akhlaknya masih hidup diamalkan di dalam diri orang-orang yang mencintainya.

Jakarta, 5 April 2026❤️

Nurul Jannah adalah seorang dosen lingkungan di IPB University, lulusan doktor lingkungan dari Hiroshima University, penulis produktif, dan penggerak literasi*)

Exit mobile version