Oleh : Ramli Ya’kub S.Pd., M.Pd.Gr *)
DI era di mana teknologi semakin canggih dan maju pesat, dalam hitungan detik mesin pencari menyediakan miliaran informasi dalam satu ketukan, wajah ruang kelas kita telah berubah total.
Papan tulis kayu berganti panel sentuh interaktif, dan buku cetak bertransformasi menjadi tablet. Namun, di balik gemerlap kemajuan ini, muncul sebuah pertanyaan mendasar : Apakah kemajuan teknologi berjalan beriringan dengan kedewasaan adab?
Teknologi dalam pembelajaran adalah akselerator. Ia mempercepat proses transfer informasi, namun ia tidak memiliki “rasa”. Di sinilah letak krusialnya peran sekolah. Pendidikan bukan sekadar proses transfer of knowledge (transfer ilmu), melainkan transfer of values (transfer nilai).
Ilmu tanpa adab seperti mesin canggih tanpa kemudi; ia bisa melesat cepat, namun berisiko menabrak apa saja yang ada di depannya.
Saat siswa lebih mahir mengoperasikan gawai daripada menatap mata gurunya saat berbicara, atau ketika kolom komentar di platform belajar daring dipenuhi dengan bahasa yang tidak pantas, di sanalah kita melihat adanya “celah” yang harus segera ditambal.
Kemudahan teknologi terkadang menciptakan jarak psikologis. Ada kecenderungan siswa merasa bahwa semua jawaban ada di Google, sehingga sosok guru dianggap hanya sebagai “fasilitator teknis” bukan lagi “teladan hidup”.
“Adab adalah seni memanusiakan manusia. Teknologi hanyalah pelayan bagi kemanusiaan tersebut. Kita perlu menanamkan kembali bahwa:
- Kecepatan bukan segalanya: Mendapatkan jawaban instan tidak boleh mengabaikan proses kesabaran dalam belajar.
- Etika Berinternet (Netiquette): Sopan santun di ruang kelas fisik harus selaras dengan perilaku di ruang digital.
- Integritas Akademik: Teknologi memudahkan plagiarisme, namun adab mengajarkan kejujuran dan menghargai karya orang lain.
Menolak teknologi adalah kemunduran, namun mengabaikan adab adalah kehancuran karakter. Sekolah masa depan harus mampu menciptakan ekosistem di mana siswa tidak hanya menjadi Tech-Savvy (mahir teknologi), tetapi juga Soul-Wise (bijak secara batin).
Guru tetap menjadi poros utama. Bukan sebagai pemegang monopoli ilmu, melainkan sebagai penjaga gawang etika. Guru mengajarkan bagaimana menyaring informasi, bagaimana berdebat dengan argumen yang sopan, dan bagaimana menggunakan teknologi untuk kemaslahatan orang banyak, bukan untuk merendahkan sesama.
Kemajuan teknologi adalah niscaya, namun adab adalah pilihan yang harus diperjuangkan. Jangan sampai kita melahirkan generasi yang mampu menciptakan algoritma rumit, namun tidak tahu cara menghormati orang tua atau memperlakukan teman dengan empati.
Mari kita pastikan bahwa di sekolah-sekolah kita, teknologi boleh saja melangit, namun adab harus tetap membumi. Karena pada akhirnya, peradaban tidak diukur dari seberapa canggih gawai yang kita genggam, melainkan dari seberapa luhur budi pekerti yang kita tunjukkan. []
Penulis adalah Sekretaris KKG PAI Kabupaten Padang Pariaman*)
