PADANG, FOKUSSUMBAR.COM – Pendekatan kebudayaan kembali terbukti menjadi solusi efektif dalam mengatasi kendala kesedian lahan untuk korban banjir bandang di Batu Busuk, Kota Padang.
Kali ini, 7 korban banjir bandang dari kaum Suku Malayu Gaduang, Pangka Jambatan Batu Busuk, RT 03 RW 04, Kelurahan Kapalo Koto, berhasil membangun Hunian Sementara dan Layak (Hunsela) di lahan kaum mereka yang berada di kawasan Lubuk Gajah, Kelurahan Piai.
Pembangunan Hunsela ini diinisiasi oleh Karang Taruna Kelurahan Kapalo Koto bersama PSB Unand, IKA Unand, dan Perempuan Peduli Bencana. Pembiayaan pembangunan digalang oleh keempat lembaga tersebut dari berbagai sumber. Proses pembangunan sudah dimulai sejak tanggal 18 Maret 2026.
Masing-masing penyintas diberikan lahan seluas 8×12 meter oleh kaum, dan dibangun hunian rumah berukuran 3,6 meter x 7,2 meter.
Menurut Dasrul SS., MSI, pemerhati budaya di Sumbar kepada media ini, Senin (6/4/2026), pendekatan kebudayaan ini sangat tepat dalam mengatasi ketersedian lahan untuk membangun hunian layak bagi penyintas banjir di Kota Padang dan Sumbar.
“Dengan metode ini, penyintas banjir bersama ninik mamak bahu membahu dengan menetapkan lahan untuk keluarga mereka menjadi korban banjir. Lahan tersebut dapat dipergunakan untuk hunian namun tidak dapat diperjualbelikan. Dengan status milik kaum dan hak guna pakai bagi kaum,” kata Dasrul.
Sebelumnya, konsep ini sudah diterapkan oleh kaum Suku Tanjung Pangka Jembatan Batu Busuk, di mana 11 penyintas banjir sudah dibangun Hunsela dan Hunian Tetap dari para donatur.
Dasrul berharap, contoh ini dapat diikuti oleh pemerintah untuk korban banjir lain yang masih memiliki lahan kaum atau pusako tinggi kaumnya sebagai lahan relokasi korban banjir bandang di Kota Padang dan daerah lainnya di Sumbar. (bima)
“Pendekatan kebudayaan ini dapat menjadi solusi jangka panjang dalam mengatasi masalah ketersedian lahan untuk korban banjir. Kami berharap, pemerintah dapat memperhatikan dan mendukung upaya ini,” tambah Dasrul.
