WA Muhibuddin yang Membuat Aqua Dwipayana Terdiam

Muhibuddin ketika menerima Aqua Dwipayana di ruang kerjanya, Kejati Sumbar (30/3/2026). Kini Muhibuddin menjabat Kejati Sumut. (Foto ist)

SELASA sore (14/4/2026) yang tenang, sebuah pesan WhatsApp masuk ke ponsel Aqua Dwipayana. Pengirimnya adalah Muhibuddin—jaksa senior yang baru saja mengemban amanah besar sebagai Kepala Kejaksaan Tinggi Sumatera Utara.

Pesan itu singkat. Namun isinya dalam, menyentuh, dan jujur.

Inna lillahi wa inna ilaihi rajiun… amanah di Kejati Sumatera Utara ini sangat berat… saya sangat berharap doa dari sahabat-sahabat sekalian…”

Tak berhenti di situ, kalimat-kalimat doa pun mengalir. Memohon kekuatan untuk istiqamah, perlindungan dari fitnah jabatan, hingga harapan agar mampu menuntaskan amanah dengan husnul khatimah.

Bagi Aqua Dwipayana, pesan itu bukan sekadar rangkaian kata. Ia merasakan getaran ketulusan yang jarang ditemui.

“Saya benar-benar terdiam membaca WA beliau. Di tengah jabatan yang tinggi, justru yang muncul adalah kerendahan hati dan rasa takut kepada Allah. Ini yang membuat saya takjub,” ungkapnya.

Kenangan pun bergulir. Dua minggu sebelum pesan itu, tepatnya Senin siang (30/3/2026), keduanya sempat duduk bersama di Kantor Kejati Sumatera Barat, Jalan Raden Saleh No. 4, Padang.

Empat jam pertemuan terasa begitu singkat.

Didampingi Asisten Pembinaan M. Haris Hasbullah, Muhibuddin menyambut dengan hangat. Tak ada jarak, tak ada kesan kaku. Percakapan mengalir ringan, namun sarat makna.

Saat azan zuhur berkumandang, suasana langsung berubah. Tanpa basa-basi, ia mengajak salat berjamaah di Masjid Al Mizan yang berada di lingkungan kantor. Ia sendiri berdiri di depan, menjadi imam.

Bagi Aqua Dwipayana, momen itu sederhana, tapi sangat berkesan.

“Beliau tidak hanya bicara soal nilai-nilai kebaikan, tapi langsung memberi contoh. Itu yang saya rasakan sangat kuat,” katanya.

Usai salat, langkah Muhibuddin tak berhenti. Ia berkeliling ke ruangan-ruangan, menyapa jajarannya, sekaligus mengingatkan dengan cara santun agar setiap azan dihormati dengan menghentikan aktivitas dan menuju masjid.

Tak ada nada memerintah. Yang ada justru keteladanan.

Dalam obrolan santai, satu hal yang paling terasa adalah kedalaman pemahaman agamanya. Bukan sekadar pengetahuan, tapi tampak hidup dalam keseharian.

Empat tahun menimba ilmu di Pondok Modern Darussalam Gontor, Ponorogo, seolah menjadi fondasi kuat yang membentuk karakter itu.

“Saya melihat beliau sangat konsisten. Ilmu agamanya kuat, dan yang lebih penting diamalkan. Ini kombinasi yang langka,” ujar Aqua Dwipayana.

Ia bahkan mengaku, pertemuan itu menjadi ruang belajar yang berharga baginya.

“Empat jam bersama beliau, rasanya seperti diingatkan kembali tentang makna hidup dan amanah. Banyak sekali pelajaran yang saya dapat,” tambahnya.

Kini, Muhibuddin memulai babak baru di Sumatera Utara. Wilayah dengan dinamika tinggi dan tantangan yang tidak ringan. Sejumlah persoalan yang sempat mencuat ke publik pun menunggu sentuhan kepemimpinan yang tepat.

Namun, melihat isi pesan WhatsApp-nya, ada keyakinan yang tumbuh.

Ia tidak berjalan sendiri.

Ia berjalan dengan kesadaran, dengan doa, dan dengan niat untuk tetap lurus.

“Menurut saya, Allah memilih beliau bukan tanpa alasan. Justru di situasi yang tidak mudah, dibutuhkan pemimpin yang hatinya bersih dan niatnya kuat,” kata Aqua Dwipayana.

Ada sisi lain yang membuat penugasan ini terasa istimewa. Sumatera Utara bukan tempat asing bagi Muhibuddin. Di sana ada kampung halaman, dan yang paling utama—ibunda tercinta.

Doa seorang ibu, dalam keyakinan banyak orang, adalah kekuatan yang tak pernah putus.

“Saya meyakini salah satu kekuatan beliau adalah doa ibundanya. Itu luar biasa,” tutur Aqua Dwipayana.

Bagi jajaran kejaksaan di Sumatera Utara, kehadiran Muhibuddin membawa harapan baru. Bukan hanya sebagai pemimpin struktural, tetapi juga sebagai sosok pembimbing.

Arahan, tausiah, hingga keteladanan—semuanya dinantikan.

Sementara itu, bagi Aqua Dwipayana, cerita ini belum selesai.

Ia berencana kembali bersilaturahmi ke Medan. Bukan sekadar bertemu, tetapi melanjutkan proses belajar.

“Saya ingin terus belajar dari beliau. Sosok seperti ini jarang, dan sangat layak diteladani,” ujarnya.

Dari sebuah pesan WhatsApp yang sederhana, tersingkap sesuatu yang lebih besar: tentang kejujuran hati seorang pemimpin.

Di tengah jabatan yang tinggi, yang muncul bukan kebanggaan, melainkan rasa takut—takut tak mampu menjaga amanah.

Dan mungkin, justru di situlah letak kekuatannya.

Sebab ketika seseorang merasa kecil di hadapan Tuhan, di situlah ia menjadi besar dalam menjalankan tanggung jawabnya. (hendri parjiga)

Exit mobile version