Pemkab Pessel Gandeng Riyadh Group Indonesia, Kawasan Mandeh Disiapkan jadi Pusat Investasi Baru

Bupati Pesisir Selatan, Hendrajoni disaksikan CEO Riyadh Group Indonesia, Belly Saputra, menandatangi kerjasama untuk pengembangan kawasan wisata Mandeh sebagai pusat pertumbuhan ekonomi baru yang berkelanjutan. (foto; ist)

PESISIR SELATAN, FOKUSSUMBAR.COM – Pemerintah Kabupaten Pesisir Selatan menandai momentum Hari Jadi ke-78 dengan langkah strategis melalui penandatanganan kerja sama (MoU) dengan Riyadh Group Indonesia untuk pengembangan kawasan wisata Mandeh sebagai pusat pertumbuhan ekonomi baru yang berkelanjutan.

Bupati Pesisir Selatan, Hendrajoni, menyampaikan bahwa kerja sama ini menjadi bagian dari upaya mendorong lompatan pembangunan daerah di tengah berbagai capaian yang telah diraih.

Hingga tahun 2025, tingkat kemiskinan di Pesisir Selatan berhasil ditekan menjadi 6,52 persen, Indeks Pembangunan Manusia (IPM) meningkat menjadi 73,72, angka harapan hidup mencapai 73,68 tahun, serta rata-rata lama sekolah meningkat menjadi 9,06 tahun. Selain itu, indeks reformasi birokrasi juga mengalami peningkatan signifikan dari 58,82 menjadi 79,48.

“Kerja sama ini menjadi pintu masuk bagi investasi yang akan mempercepat pertumbuhan ekonomi daerah, sekaligus membuka peluang kerja bagi masyarakat,” ujar Bupati Hendrajoni dalam rapat paripurna DPRD, Selasa (15/4/2026).

Ia menegaskan, sebelum MoU dilakukan, pemerintah daerah telah membangun kesepahaman bersama para pemangku adat. Bupati Hendrajoni didampingi Wakil Bupati bersama niniak mamak telah melakukan konsensus terkait rencana investasi yang akan ditanamkan di kawasan Mandeh, dengan prinsip saling menguntungkan serta tetap menjaga nilai adat dan kepentingan masyarakat lokal.

Dukungan terhadap kerja sama ini juga datang dari berbagai pihak. Asisten Perekonomian dan Pembangunan Setda Pessel, Hadi Susilo, menyebutkan bahwa Bupati, Wakil Bupati, serta niniak mamak sangat mendukung konsep yang ditawarkan investor.

Menurutnya, pembangunan destinasi pariwisata tidak hanya berfokus pada pembangunan infrastruktur fisik semata, tetapi juga harus berjalan paralel dengan pengembangan sosial, ekonomi, dan budaya masyarakat setempat.

Hal senada juga disampaikan CEO Riyadh Group Indonesia, Belly Saputra, yang menegaskan bahwa konsep pengembangan kawasan Mandeh akan mengedepankan pendekatan terpadu.

“Kami tidak hanya membangun destinasi, tetapi juga mendorong pertumbuhan ekonomi lokal serta menjaga nilai budaya yang menjadi kekuatan daerah,” ujarnya.

Di tengah capaian tersebut, pemerintah daerah juga menyadari masih adanya tantangan pembangunan, di antaranya pertumbuhan ekonomi yang berada di angka 3,62 persen, ketimpangan wilayah, keterbatasan infrastruktur dan konektivitas, serta rendahnya nilai tambah sektor unggulan. Kondisi geografis yang rawan bencana seperti banjir dan abrasi juga menjadi perhatian serius dalam perencanaan pembangunan.

Untuk itu, pemerintah daerah terus menjalankan sejumlah program strategis pada tahun 2026, seperti pembangunan Pasar Painan senilai Rp25 miliar dan Pasar Surantih Rp6,3 miliar, rehabilitasi 10 daerah irigasi sebesar Rp15,1 miliar, pengelolaan sampah Rp5,1 miliar, perbaikan tanggul sungai Rp3,09 miliar, serta normalisasi delapan sungai melalui Balai Wilayah Sungai dengan nilai sekitar Rp40 miliar.

Pengembangan kawasan Mandeh melalui kerja sama investasi ini diharapkan menjadi katalis pertumbuhan ekonomi baru yang berdampak luas, mulai dari peningkatan sektor pariwisata, tumbuhnya UMKM, hingga terbukanya lapangan kerja bagi masyarakat setempat.

Pemerintah Kabupaten Pesisir Selatan menegaskan komitmennya untuk terus memperkuat sinergi dengan investor, pemerintah provinsi, DPRD, serta seluruh elemen masyarakat guna memastikan pembangunan berjalan optimal dan berkelanjutan.

“Dengan kolaborasi yang kuat, kita optimistis Pesisir Selatan mampu melompat menjadi daerah yang lebih maju, sejahtera, dan berdaya saing,” tutup Bupati. (wen)

Exit mobile version