Oleh : Nurul Jannah*)
“Tidak semua waktu berlalu. Sebagian tinggal, menjadi saksi, menjadi rindu.”
Di jantung Bukittinggi, berdiri sebuah sunyi yang tak pernah benar-benar diam.
Ia bernama Jam Gadang,
menara tua, yang mengajarkan waktu, bagaimana cara bernafas, tanpa pernah berhenti kehilangan.
Seratus tahun…
bukan sekedar hitungan, bukan pula angka yang ringan.
Ia adalah usia yang dipenuhi jejak. Langkah yang datang tanpa pamit, janji yang diucapkan tanpa jaminan, dan perpisahan yang tak sempat diberi kata terakhir.
Kau berdiri,
sementara dunia terus berganti wajah.
Kolonialisme pergi,
kemerdekaan lahir,
generasi silih berganti,
namun dentangmu tetap sama: teguh, tenang, dan entah mengapa…terasa seperti panggilan pulang.
Di bawah bayangmu,
pernah ada cinta yang tumbuh diam-diam, tak berani bersuara,
Dua tangan yang saling menggenggam, seolah waktu bisa ditahan, jika hati cukup kuat untuk percaya.
Namun waktu tidak pernah berhenti.
Ia hanya diam… lalu perlahan mengambil.
Dan kau,
wahai menara tua yang tak pernah lelah,
kau menyimpan segalanya, tanpa pernah memilih mana yang harus dilupakan.
Tangis yang jatuh di sudut malam, tawa yang pecah di siang hari, dan rindu yang disembunyikan di antara detik-detik yang terus berlari tanpa menoleh.
Seratus tahun,
kau tidak hanya berdiri.
Kau menjadi saksi
betapa manusia sering terlambat menyadari,
bahwa yang paling berharga bukan waktu yang berlalu,
tetapi waktu yang tak pernah sempat diulang.
Kini,
orang-orang datang dengan kamera.
Mengabadikan wajahmu, seolah kenangan bisa dikunci,
tanpa harus dirasakan.
Padahal kau tahu,
yang paling lama tinggal
bukan gambar,
bukan cahaya,
melainkan rasa,
yang enggan benar-benar pergi.
Wahai Jam Gadang…,
berapa banyak doa
yang pernah dititipkan di bawahmu?
Berapa banyak hati
yang pernah patah tanpa suara?
Berapa banyak yang pulang dengan dada lebih berat daripada saat ia datang?
Seratus tahun,
kau masih berdiri.
Namun mereka, tidak.
Mereka datang,
mereka pergi,
dan sebagian…hilang tanpa sempat berpamitan.
Dan suatu hari nanti,
mungkin kita juga akan menjadi bagian, dari waktu yang kau simpan.
Bukan lagi sebagai pengunjung, bukan lagi sebagai cerita, tetapi sebagai kenangan yang hanya bisa didengar,
oleh dentangmu,
dalam sunyi yang tak pernah selesai.
*“Karena pada akhirnya, yang abadi bukan kita, melainkan waktu yang tak pernah berhenti menghitung kehilangan.”
Bogor, 27 April 2026🌹
