Religius di Sekolah, Curang di Online, Alarm Serius Pendidikan Digital

Oleh : Dr. M. Fikar, S.Ag, MM, M.Pd *)

PERKEMBANGAN teknologi digital telah membawa perubahan besar dalam dunia pendidikan, termasuk dalam pembelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI).

Di satu sisi, teknologi membuka ruang kreativitas dan akses ilmu yang luas.

Namun di sisi lain, ia juga menghadirkan tantangan serius yang tidak bisa lagi diabaikan: krisis kejujuran di ruang digital.

Dalam penelitian yang saya lakukan di SMP Muhammadiyah 7 Padang sebagai bagian dari studi doktoral di Universitas Muhammadiyah Sumatera Barat, ditemukan fakta yang cukup mengkhawatirkan.

Sekitar 40% siswa terindikasi tidak jujur saat mengerjakan kuis online dengan mencari jawaban di internet.

Fenomena ini terjadi di tengah capaian karakter religius yang justru tergolong baik.

Inilah paradoks pendidikan kita hari ini—religius di ruang publik, tetapi rapuh dalam integritas di ruang privat digital.

Selama ini, pendidikan agama cenderung berhasil membentuk aspek ritual dan simbolik, seperti ibadah dan sikap religius yang tampak.

Namun, ketika siswa dihadapkan pada situasi tanpa pengawasan langsung, nilai kejujuran tidak selalu hadir sebagai kesadaran internal.

Teknologi, dalam konteks ini, menjadi “ruang sunyi” yang menguji sejauh mana nilai itu benar-benar hidup dalam diri peserta didik.

Dalam perspektif Islam, kondisi ini menunjukkan belum kuatnya internalisasi konsep murāqabah—kesadaran bahwa setiap perbuatan diawasi oleh Allah, bahkan ketika manusia lain tidak melihat.

Ketika nilai ini belum tertanam kuat, maka kecanggihan teknologi justru berpotensi dimanfaatkan untuk perilaku yang menyimpang.

Persoalan ini semakin kompleks dengan adanya keterbatasan infrastruktur. Tidak semua siswa memiliki perangkat pribadi, koneksi internet terbatas, serta fasilitas sekolah yang belum optimal.

Di sisi lain, kompetensi digital guru juga belum merata. Hal ini menyebabkan perencanaan pembelajaran sering kali tidak berjalan ideal dalam praktiknya.

Namun demikian, bukan berarti tidak ada harapan. Berbagai inovasi telah dilakukan, seperti proyek video dakwah, poster amanah, refleksi karakter dalam setiap pertemuan, hingga program kantin jujur digital.

Upaya ini menunjukkan bahwa pendidikan karakter tetap bisa diperkuat, bahkan di tengah keterbatasan.

Temuan penting lainnya adalah adanya hubungan terbalik antara religiusitas dan kejujuran digital.

Ini menjadi peringatan keras bahwa religiusitas yang bersifat seremonial tidak cukup untuk menjamin integritas.

Pendidikan karakter harus bergerak lebih dalam—menyentuh kesadaran personal, bukan sekadar perilaku yang tampak.

Oleh karena itu, diperlukan pendekatan baru dalam pendidikan PAI berbasis digital.

Saya menawarkan model integrasi tripusat pendidikan karakter Islami, yaitu sinergi antara kebijakan sekolah, pedagogi guru, dan dukungan eksternal seperti orang tua dan lingkungan.

Tanpa kolaborasi ini, pendidikan karakter akan sulit mencapai hasil yang optimal.

Selain itu, strategi pembelajaran juga perlu adaptif. Dalam kondisi keterbatasan infrastruktur, pendekatan blended learning tidak bisa sepenuhnya bergantung pada sistem daring.

Justru, dominasi pembelajaran luring dengan dukungan digital terbatas menjadi solusi realistis yang lebih efektif.

Ke depan, pendidikan tidak hanya dituntut untuk canggih secara teknologi, tetapi juga kuat secara moral.

Pertanyaan mendasar yang harus kita jawab adalah: apakah peserta didik tetap jujur ketika tidak ada yang mengawasi?

Jika jawabannya belum, maka di situlah pekerjaan besar pendidikan kita masih menunggu. []

Kepala Sekolah SMK Muhammadiyah 1 Kota Padang *)

Exit mobile version