Hari Pendidikan Nasional: Menguatkan Literasi di Tengah Derasnya Arus Digital

Oleh : Yumi Ariyati, S.Sos., M.I.Kom.*)

SETIAP tanggal 2 Mei, bangsa Indonesia memperingati Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) sebagai momentum reflektif terhadap perjalanan dan arah pendidikan nasional.

Lebih dari sekadar seremoni, peringatan ini menjadi ruang kontemplasi untuk meninjau kembali sejauh mana sistem pendidikan mampu menjawab tantangan zaman. Di tengah arus transformasi digital yang begitu cepat, satu isu krusial yang tidak dapat diabaikan adalah literasi.

Hari Pendidikan Nasional diperingati oleh bangsa Indonesia sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Hajar Dewantara, tokoh pelopor pendidikan nasional yang menanamkan nilai bahwa pendidikan adalah fondasi peradaban.

Dalam konteks kekinian, peringatan ini tidak hanya menjadi seremoni, melainkan momentum refleksi terhadap kualitas literasi bangsa di era digital.

Di tengah pesatnya perkembangan teknologi, literasi menjadi kompetensi kunci abad ke-21. UNESCO menegaskan bahwa literasi mencakup kemampuan memahami, mengolah, dan menggunakan informasi secara kritis. Namun, realitas menunjukkan bahwa Indonesia masih menghadapi tantangan serius.

Berdasarkan hasil Programme for International Student Assessment (PISA) 2022 yang dirilis oleh The Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD), skor literasi membaca siswa Indonesia berada di angka 359 poin, jauh di bawah rata-rata negara OECD. Bahkan, Indonesia berada di sekitar peringkat 71 dari 81 negara dalam kemampuan membaca.

Lebih mengkhawatirkan lagi, sekitar 75% siswa Indonesia usia 15 tahun belum mencapai standar minimum literasi membaca (level 2 PISA), yang berarti mereka kesulitan memahami informasi dasar dalam teks. Fakta ini menunjukkan bahwa persoalan literasi bukan sekadar kemampuan membaca teknis, tetapi juga pemahaman mendalam terhadap isi bacaan.

Di sisi lain, data terbaru dari Badan Pusat Statistik menunjukkan bahwa tingkat kegemaran membaca masyarakat Indonesia pada tahun 2025 berada di angka 54,8 poin, yang masih tergolong dalam kategori rendah. Artinya, budaya membaca belum sepenuhnya menjadi kebiasaan yang kuat di masyarakat.

Selain itu, indeks pembangunan literasi masyarakat tahun 2024 menunjukkan adanya ketimpangan antar wilayah, di mana beberapa provinsi memiliki tingkat literasi yang jauh lebih tinggi dibandingkan daerah lain. Hal ini menandakan bahwa akses terhadap sumber belajar dan fasilitas literasi masih belum merata.

Kondisi ini semakin kompleks dengan tingginya arus informasi digital. Masyarakat tidak hanya dituntut mampu membaca, tetapi juga harus memiliki kemampuan literasi digital—yakni kemampuan untuk memverifikasi informasi, memahami konteks, serta menghindari hoaks dan disinformasi. Tanpa kemampuan ini, masyarakat rentan menjadi korban manipulasi informasi.

Literasi telah berevolusi menjadi literasi digital—yakni kemampuan untuk mengakses, memahami, mengevaluasi, dan memanfaatkan informasi secara bijak melalui berbagai platform digital. Perubahan ini membawa implikasi besar terhadap dunia pendidikan, baik dalam aspek kurikulum, metode pembelajaran, maupun kompetensi yang harus dimiliki oleh peserta didik.

Sebagai seorang pendidik, penting untuk menegaskan bahwa literasi digital bukan sekadar keterampilan teknis menggunakan perangkat teknologi. Lebih dari itu, literasi digital menuntut kemampuan berpikir kritis, etika dalam berkomunikasi, serta kecakapan dalam memilah informasi yang valid di tengah maraknya hoaks dan disinformasi.

Tanpa kemampuan ini, generasi muda berpotensi menjadi konsumen pasif informasi, bukan produsen pengetahuan yang berkualitas. Sebagai seorang akademisi, saya memandang bahwa perguruan tinggi memiliki tanggung jawab besar dalam menjawab tantangan ini.

Mahasiswa harus didorong untuk tidak hanya menjadi pengguna informasi, tetapi juga produsen pengetahuan. Pemanfaatan media digital, jurnal ilmiah, e-book, serta layanan perpustakaan digital menjadi indikator penting dalam membangun budaya literasi yang kuat.

Fenomena banjir informasi di era digital telah mengubah lanskap produksi dan konsumsi berita. Masyarakat kini dihadapkan pada berbagai sumber informasi yang tidak semuanya kredibel. Oleh karena itu, literasi menjadi benteng utama dalam menjaga kualitas demokrasi dan kehidupan sosial.

Individu yang memiliki tingkat literasi tinggi akan lebih mampu membedakan fakta dan opini, serta tidak mudah terprovokasi oleh informasi yang menyesatkan.

Di lingkungan pendidikan tinggi, literasi digital menjadi fondasi penting dalam pengembangan riset dan inovasi. Mahasiswa dituntut untuk mampu mengakses jurnal ilmiah, memahami metodologi penelitian, serta menghasilkan karya akademik yang berbasis data dan referensi yang valid.

Perpustakaan, sebagai jantung perguruan tinggi, memiliki peran strategis dalam menyediakan akses terhadap sumber informasi yang berkualitas, baik dalam bentuk buku fisik maupun digital.

Namun demikian, tantangan literasi di Indonesia masih cukup kompleks. Kesenjangan akses teknologi, rendahnya minat baca, serta kurangnya edukasi terkait penggunaan media digital menjadi faktor penghambat yang perlu mendapat perhatian serius.

Oleh karena itu, sinergi antara pemerintah, institusi pendidikan, dan masyarakat menjadi kunci dalam membangun budaya literasi yang kuat.

Hari Pendidikan Nasional hendaknya menjadi titik tolak untuk memperkuat komitmen bersama dalam meningkatkan literasi di segala lini. Investasi dalam pendidikan tidak hanya sebatas pembangunan infrastruktur, tetapi juga pada penguatan kapasitas manusia sebagai subjek utama pendidikan.

Guru, dosen, dan tenaga kependidikan harus terus beradaptasi dengan perkembangan teknologi agar mampu menjadi fasilitator pembelajaran yang relevan dengan kebutuhan zaman.

Pada akhirnya, literasi adalah kunci untuk membangun generasi yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga bijak dalam bersikap dan bertindak. Di era digital yang serba cepat dan dinamis, kemampuan literasi akan menentukan arah masa depan bangsa.

Maka, memperingati Hari Pendidikan Nasional sejatinya adalah memperbarui komitmen untuk menjadikan literasi sebagai fondasi utama dalam membangun Indonesia yang berdaya saing dan berkeadaban. []

Dosen Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial Ilmu Politik Universitas Ekasakti *)

Exit mobile version