“Jalan Pulang”

Cerpen : Nurul Jannah*)

Ia tidak pernah tersesat. Ia hanya terlalu lama merasa tidak perlu pulang.

Ridwan Lubis tahu persis jalan pulang ke rumahnya di Medan. Ia hanya tidak pernah benar-benar ingin mengingatnya.

Di Jakarta, ia bisa menjadi dirinya sendiri.

Tidak ada bayang-bayang. Tidak ada tuntutan. Tidak ada suara yang menentukan arah hidupnya.

Untuk pertama kalinya, ia merasa bebas.

Di rumah, dulu… semuanya sudah ditentukan.

Ayahnya memang tidak pernah kasar. Juga tidak pernah berteriak.

Namun setiap kalimatnya… tidak memberi ruang untuk ditolak.

“Kalau bukan kamu yang melanjutkan, siapa lagi?”

Ridwan tidak pernah menjawab dengan suara keras. Namun di dalam dirinya, ia menolak sepenuhnya.

Ia tidak ingin hidup sebagai kelanjutan dari orang tua. Apalagi hidup dalam bayang-bayang Ayahnya.

Maka ketika ia pergi, ia tidak benar-benar pamit. Ia hanya tidak ingin pulang kembali.

*

Ponselnya bergetar.

Nama itu muncul lagi.

Ayah.

Ridwan menatap layar itu.

Cukup lama. Lalu membiarkannya mati sendiri.

Ia tahu isi percakapan itu. Tidak pernah berubah.

“Sudah makan?”

“Hati-hati di jalan.”

“Mama tanya, kapan kamu pulang?”

Kalimat sederhana.

Tidak menuntut.
Tidak memaksa.

Namun justru itu yang membuatnya tidak ingin menjawab.

Karena ia tahu, sekali ia membuka, ia harus menghadapi satu hal yang ia hindari: panggilan pulang.

Dan ia tidak ingin mendengar kalimat itu lagi.

*

Sampai suatu malam,
ayahnya berkata lebih panjang dari biasanya.

“Ayah tidak pernah melarang kamu pergi, Wan.”

Ridwan diam.

“Tapi jangan sampai kamu lupa… bahwa ada tempat yang tetap menerima kamu tanpa harus jadi siapa-siapa.”

Ridwan berdiri. Mengambil kunci.

Dan malam itu, ia tidak hanya meninggalkan rumah. Ia meninggalkan seorang Ayah
yang sangat menyintainya dan selalu menunggu kepulangannya.

Sejak itu, pesan terus datang.

Hari demi hari. Tanpa jeda.

Ridwan membaca semuanya. Tanpa pernah menjawab. Karena ia memang memilih tidak menjawab.

Suatu pagi, Mamanya menelepon.

“Wan…”

Suara di seberang terdengar pelan.

“Ayah masuk rumah sakit.”

Ridwan diam.

“Aku lagi kerja, Ma.”

“Kalau bisa… pulang.”

Ridwan menutup matanya.
Sebentar saja.

“Nanti ya, Ma.”

Telepon ditutup.

Hari itu berjalan seperti biasa. Sampai malam datang.

Dan, membuat semuanya berubah.

“Wan… Ayah sudah tidak ada.”

Sunyi.

Ridwan tidak menangis. Ia hanya bisa terduduk. Lemah.

Untuk pertama kalinya, semua yang ia tunda, tidak bisa ia ulang.

Ia pulang.

Perjalanan pulang terasa panjang. Lebih panjang dari jarak yang seharusnya.

Rumah besar kebanggaan keluarga itu masih sama. Menjulang gagah di sana.

Namun tidak ada lagi yang menunggu di pintu.

Adik-adiknya menangis.
Mamanya terdiam.

Ridwan langsung masuk ke kamar ayahnya.

Semua terlihat rapi. Seperti ditinggalkan sebentar.

Di atas meja, ada satu kotak besi kecil.

Ridwan membukanya.

Di dalamnya, bukan uang, bukan pula dokumen, melainkan kumpulan kertas kecil.

Ia mengambil satu.

Tulisan tangan ayahnya.

“Hari ini Ridwan tidak membalas lagi.”

Ia membuka yang lain.

“Sudah tiga hari. Semoga dia sehat.”

Yang lain lagi.

“Hari ini mau telepon, tapi takut mengganggu.”

Tangan Ridwan mulai gemetar.

Ia membuka satu lagi. Yang paling terakhir.

Tulisan itu lebih panjang.

Lebih rapi.

Seperti ditulis dengan hati-hati.

“Kalau suatu hari kamu baca ini, Wan…”

Napas Ridwan tertahan.

“Bapak tidak akan pernah marah karena kamu tidak pulang.”

Matanya mulai panas.

“Bapak hanya takut… kamu merasa tidak punya tempat untuk kembali.”

Air mata pertama jatuh.

“Kalau kamu masih belum ingin pulang, tidak apa-apa.”

Tangannya semakin gemetar.

“Tapi kalau suatu hari kamu lelah…pulanglah.”

Mata Ridwan mulai panas. Ia tidak bisa lagi meneruskan membaca.

Ia terduduk.

Untuk pertama kalinya, ia tidak bisa menahan apa pun lagi.

Air matanya jatuh. Dan di antara tangis yang akhirnya pecah itu, ia mengerti satu hal yang paling menyakitkan: selama ini…ia tidak sedang melawan ayahnya. Ia sedang menolak dicintai dengan cara yang tidak ia pahami.

Ridwan mengambil ponselnya.

Mengetik dengan tangan gemetar: “Ayah… aku pulang.”

Pesan itu terkirim.

Namun tidak ada yang membaca. Tidak akan pernah ada.

*

Sejak hari itu, Ridwan benar-benar pulang. Ia tinggal di rumah itu.

Menjalankan bisnis yang dulu ia tolak. Menjadi apa yang dulu ia hindari.

Namun ada satu hal
yang tidak pernah kembali. Setiap malam, ia duduk di kursi ayahnya.

Membuka kembali kertas-kertas itu.

Satu per satu.

Dan setiap kali membaca,
ia selalu berhenti di kalimat yang sama: “Kalau suatu hari kamu lelah… pulanglah.”

Ridwan selalu menjawab dalam hati: “Aku sudah pulang, Ayah.”

Namun jawaban itu, datang sangat terlambat.

Karena pulang ternyata bukan soal kembali ke rumah. Pulang adalah tentang siapa yang masih ada saat kita akhirnya ingin kembali.

Dan Ridwan Lubis, pulang pada waktu yang tidak tepat. Ia pulang, ketika tidak ada lagi yang menyambutnya kembali.

Bogor, 12 April 2026❤️

Nurul Jannah adalah seorang dosen lingkungan di IPB University, lulusan doktor lingkungan dari Hiroshima University, penulis produktif, dan penggerak literasi*)

Exit mobile version