Cerpen : Nurul Jannah*)
Ia tahu tak ada yang kembali, namun ia tetap menepati.
Ia sudah tahu orang itu tidak akan datang. Namun setiap sore, ia tetap datang. Membawa dua gelas teh hangat di tangannya, seolah waktu masih memihak pada sebuah janji yang tak pernah ditepati.
Ia tidak pernah terlambat.
Dan tidak pernah sekali pun ia absen.
Setiap sore, ketika cahaya matahari mulai turun dan bayangan pepohonan memanjang di tanah, nenek itu tiba di taman.
Langkahnya pelan.
Terukur.
Seolah ia tidak lagi berjalan mengejar waktu, melainkan berjalan di dalam kenangan yang tidak pernah selesai.
Ia duduk di bangku yang sama. Bangku kayu tua di sudut taman, catnya mulai mengelupas, warnanya pudar, retaknya diam-diam melebar, namun tetap bertahan. Seperti dirinya.
Satu gelas ia letakkan di sampingnya. Satu lagi ia genggam, erat, seolah hangatnya adalah satu-satunya yang masih tersisa dari masa lalu
Ia menatap jalan setapak di depan taman.
Lama. Selalu ke arah yang sama, arah seseorang yang tidak pernah benar-benar datang.
*
Orang-orang mulai mengenalnya. Bisik-bisik di belakangnya tumbuh seperti bayangan yang mengikutinya ke mana pun ia pergi.
“Masih juga datang…”
“Selalu duduk di situ sendirian…”
“Kasihan sekali, seperti sedang menunggu seseorang…”
Tidak ada yang benar-benar tahu kenapa si Nenek selalu datang di situ setiap sore. Mereka hanya memberi satu nama untuk sesuatu yang tidak mereka pahami: kasihan.
- Suatu sore, taman lebih ramai dari biasanya.
Anak-anak berlari. Orang tua duduk berkelompok.
Bangku-bangku hampir penuh.
Seorang petugas taman mendekat.
Langkahnya sopan, namun tetap membawa tugas.
“Maaf, Nek…” katanya pelan.
“Pengunjung sedang ramai. Yang di sebelah ini…kosong, boleh dipakai?”
Nenek itu menoleh. Wajahnya datar. Ia tidak langsung menjawab. Namun matanya menyiratkan ketidak-sukaan. Tangannya hanya menggeser sedikit gelas di sampingnya.
“Ini tidak kosong,” katanya dingin.
Petugas itu ragu.
“Eh… maksudnya?”
Nenek itu menatap bangku di sebelahnya, sembari menunjuk, “Ada yang duduk di situ.”
Si petugas taman terdiam. Ia tidak jadi mengambil tempat duduk di situ.
“Baik, Nek…” katanya pelan. Ia pun mundur. Pergi.
*
Keramaian perlahan mereda.
Seorang pemuda yang sejak tadi memperhatikan, akhirnya datang mendekat.
“Nek… itu teh buat siapa?”
Nenek itu tersenyum tipis. Senyum yang tidak lagi berharap jawaban, hanya menjaga sisa kenangan.
“Untuk seseorang yang pernah berjanji akan kembali.”
Pemuda itu diam.
“Sudah lama?”
“Cukup lama… sampai rindu tidak lagi terasa sebagai luka, melainkan menjadi bagian dari napas yang terus hidup.”
Angin berembus pelan.
“Dia ke mana?”
“Pergi,” jawab nenek itu.
“Membawa mimpinya… dan meninggalkan satu janji yang tidak pernah selesai.”
“Dan tidak kembali?”
Nenek itu menggeleng.
Sunyi.
Pemuda itu bertanya lagi, lebih hati-hati: “Kalau begitu… kenapa Nenek masih di sini?”
Nenek itu menatapnya.
Lama.
Lalu berkata pelan, namun menghantam lebih dalam dari apapun: “Karena aku tidak ingin menjadi orang pertama yang mengingkari.”
Langit mulai jingga.
Orang-orang pulang. Nenek itu tetap duduk.
Dengan dua gelas teh.
Yang satu ia minum perlahan, seakan sedang meneguk waktu yang terus berjalan. Yang satu… tetap utuh, seperti sedang menunggu seseorang yang berhenti di masa lalu.
Tehnya mulai dingin. Namun ia tidak pernah menggantinya. Karena yang ia jaga bukan hangatnya teh, melainkan hangatnya janji.
*
Hujan turun.
Tipis. Sunyi.
Pemuda itu berdiri.
“Nek, nanti sakit… mari berteduh.”
Nenek itu menggeleng pelan.
“Dulu dia bilang… dia suka hujan.”
Pemuda itu duduk kembali. Dan untuk pertama kalinya,
ia tidak merasa kasihan. Tetiba, ia merasa kecil. Sangat kecil.
Karena di hadapannya, ada cinta yang tidak meminta dipilih, tidak menuntut dibalas, namun tetap tinggal, meski ditinggalkan.
Nenek itu berdiri.
Mengambil kedua gelas itu. Menatap jalan setapak itu sekali lagi.
Lama.
Seolah masih memberi ruang, meski ia tahu, ruang itu sudah lama kosong. Ia tahu, tidak ada yang akan datang. Namun ia tetap berbisik pelan, “Besok, datang lagi ya”.
Lalu ia pergi.
Bangku itu kembali kosong.
Hanya tersisa dua lingkaran tipis
di permukaannya, bekas gelas yang diletakkan berulang-ulang, hari demi hari, tanpa pernah lelah.
Keesokan harinya, ia datang lagi. Dengan dua gelas teh hangat.
Dan tidak ada yang berubah.
Ia tahu orang itu tidak akan kembali. Ia tahu itu dengan sangat jelas.
Namun ia tetap datang. Bukan lagi untuk menunggu.
Melainkan untuk memastikan dan menjaga dirinya tetap menjadi seseorang yang setia pada janji.
Waktu terus berjalan.
Orang datang dan pergi.
Musim berganti.
Namun bangku itu tidak pernah benar-benar kosong.Karena yang tinggal di sana bukan lagi kehadiran. Melainkan kesetiaan. Dan kesetiaan, tidak selalu menunggu untuk dibalas.
Yang sebenarnya paling menyakitkan bukan ditinggalkan, Melainkan tetap setia, pada seseorang yang bahkan tidak lagi mengingat bahwa ia pernah berjanji.
Bogor, 10 April 2026❤️
Nurul Jannah adalah seorang dosen lingkungan di IPB University, lulusan doktor lingkungan dari Hiroshima University, penulis produktif, dan penggerak literasi*)
