Di sebuah ruang kelas di Hungaria, seorang gadis asal Padang berdiri mengenakan pakaian adat Minangkabau. Tatapan puluhan siswa Eropa tertuju kepadanya. Hari itu, Celly membawa sepotong Indonesia ke tengah benua Eropa.
Tanggal 4 Maret 2026 menjadi salah satu hari paling membanggakan bagi Callysta Nayla Putri, siswi SMAN 12 Padang yang mengikuti program pertukaran pelajar selama tiga bulan di Hungaria,
Pagi itu, Celly datang ke sebuah sekolah di Tatabánya dengan pakaian adat Bundo Kanduang lengkap dengan tingkuluak khas Minangkabau di kepalanya.
Bentuknya yang menyerupai tanduk kerbau langsung menarik perhatian para siswa.
Beberapa siswa tampak penasaran. Sebagian lainnya sibuk memperhatikan detail pakaian yang dikenakan Celly.
Lalu presentasi dimulai.
Dengan penuh percaya diri, Celly mulai memperkenalkan budaya Minangkabau. Tentang adat istiadat, bahasa daerah, makanan khas, hingga filosofi kehidupan masyarakat Minang yang masih dijaga sampai hari ini.
Celly menjelaskan bahwa perempuan dalam budaya Minangkabau memiliki posisi penting.
Ia juga menceritakan makna tingkuluak yang menjadi simbol kehormatan perempuan Minang.
Semakin lama, suasana kelas semakin hidup.
Banyak siswa mulai bertanya tentang Indonesia. Tentang rumah gadang. Tentang rendang. Tentang bagaimana masyarakat Minangkabau hidup dengan adat yang kuat.
Antusiasme itu ternyata begitu besar hingga presentasi tersebut harus diulang enam kali dalam sehari.
“Capek, tapi saya sangat senang,” kata Celly sambil tertawa.
Di hari-hari berikutnya, Celly mulai menikmati ritme kehidupan di Hungaria. Ia menonton pertandingan handball secara langsung untuk pertama kalinya bersama host dad dan host sister-nya.
Sorakan penonton, suasana arena, hingga kemenangan tim Tatabánya malam itu menjadi pengalaman baru yang membekas dalam ingatannya.
Tak lama setelah itu, pengalaman lain kembali datang.
Pada 8 Maret, keluarga angkatnya mengajak Celly pergi ke Austria untuk melihat salju di pegunungan.
Bagi gadis yang tumbuh di kota tropis seperti Padang, salju selama ini hanya hadir lewat layar ponsel dan media sosial.
Namun hari itu, hamparan putih benar-benar ada di depan matanya.
Celly bermain salju, berjalan di tengah udara dingin pegunungan, dan berkali-kali mengabadikan momen bersama host family-nya.
“Rasanya seperti mimpi,” ucapnya. (Bersambung)
