Oleh : H. Abdel Haq, SM-IQ, S.Ag, MA. *)
ALHAMDULILLAH wa syukrulillahi pada tahun ini, kita masih diberikan kesempatan oleh Allah Swt untuk merayakan Hari Raya Idul Adh-ha 1447 H. Setelah kemarin, 9 Zulhijjah sekitar 2 juta umat Islam seluruh dunia berkumpul, mereka wuquf di Arafah, yang merupakan titik klimaks, puncaknya rangkaian ibadah haji adalah kehadiran mereka di Arafah. Seba
gaimana sabda Rasulullah Muhammad SAW : ” Al-hajju ‘Arafatun ” artinya : ” Haji itu Arafah “. Barang siapa yang hadir di Arafah, maka sah dan sempurnalah ibadah hajinya. Bagi siapa yang tidak bisa hadir di Arafah, maka batallah hajinya, hendaklah mengulanginya pada tahun depan.
Allaahu Akbar, Allaahu, Allaahu Akbar wa lillaahilhamd !
Idul Adh-ha, kembali menyembelih, secara berulang setiap tahunnya. Idul Adh-ha disebut juga dengan Hari Raya Haji di mana umat Islam yang tengah berjuang menunaikan rangkaian ibadah haji, juga melakukan penyembelihan, yang termasuk bagian dari rangkaian ibadah haji.
Ibadah haji adalah ibadah mahdhah, yang termasuk rukun Islam, yang diwajibkan kepada mereka yang telah diberikan istitha’ah, kemampuan oleh Allah Swt untuk berhajji.
Kemampuan tersebut menyangkut : 1. Finansial, menyiapkan dana untuk Biaya Penyelenggaraan Ibadah Haji ( BPIH ), termasuk menyiapkan dana bagi tanggungan keluarga yang ditinggal tatkala berhajji. 2. Menguasai seluk beluk manasik haji, betul-betul paham, mengerti dan menghayati rangkaian pelaksanaan ibadah haji. 3. Memiliki kesehatan pisik, mental yang sehat, kuat dan semangat tinggi dalam menunaikan ibadah haji. 4. Terjaminnya keamanan dalam perjalanan pergi pulang dan di tanah suci itu sendiri.
Allaahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar wa lillaahilhamd !
Ibadah haji adalah puncak kerinduan seorang muslim yang beriman, yang mampu menyiapkan segala sesuatu yang menyangkut rukun dan syarat berhajji. Ibadah haji adalah menunaikan rukun Islam yang kelima. Bagi yang berhajji, adalah mereka yang telah memiliki aqidah tauhid yang mantap. Mereka betul-betul mengakui tidak ada Tuhan selain Allah, dan Muhammad SAW adalah utusan Allah.
Mereka memiliki kepercayaan, keyakinan yang kokoh, kuat, patuh dan taat kepada aturan Allah dan Rasul-Nya. Menjauhi dari segala bentuk perilaku kemusyrikan, tidak menyembah dan tidak pula minta bantuan, pertolongan, kecuali kepada Allah Swt.
” Laa Ilaaha illallahu Muhammadur Rasulullah “, Iyyaaka na’budu wa Iyyaaka kanasta’iin, Allaahush shamad “.
Allahu Akbar, Allaahu Akbar, Allahu Akbar wa lillaahilhamd !
Mereka yang berhajji itu, sepatutnya yang telah mendirikan shalat wajib dengan sempurna. Bagi laki-laki shalat fardhunya berjamaah di masjid dan mushalla. Mereka bukanlah sekedar shalat untuk menggugurkan kewajiban, tetapi mereka shalat dengan penuh keimanan, keikhlasan kesabaran dan khusyuk.
Sehingga ibadah shalat yang mereka kerjakan mampu mencegah dari segala bentuk perbuatan keji, kemaksiatan dan kemungkaran. ” Innash shalaata tanhaa ‘anil fahsyaa-i wal munkari “, yang artinya ” Sesungguhnya ibadah shalat mencegah kamu dari pekerjaan keji dan mungkar “.
Allaahu Akbar, Allaahu Akbar, Allaahu Akbar walillaahil hamd !
Bagi yang berhajji, Insya Allah dipastikan adalah mereka yang telah menunaikan zakatnya. Yaitu mengeluarkan sebagian harta mereka untuk kepentingan sosial, yang sesuai dengan asnaf yang delapan. Mereka telah merasakan dengan mengeluarkan sebahagian hartanya untuk zakat, juga infaq shadaqah lainnya. Membuat hatinya senang, bahagia dan nyaman, karena telah bisa membantu.
” Khuz min amwaalihim shadaqatan tuthahhiruhum wa tuzakkiihim bihaa, wa shalli ‘alaihim inna shalaataka sakanul lahum, wallaahu samii’un ‘aliimun “.
Artinya : ” Ambillah zakat dari harta mereka, guna membersihkan dan menyucikan mereka, dan berdo’alah untuk mereka. Sesungguhnya do’amu itu ( menumbuhkan ) ketenteraman jiwa bagi mereka. Allah Maha Mendengar, Maha Mengetahui “. ( Q.S.9.103 ).
Mereka akan merasa senang, bahagia dan menikmatinya apabila bisa membantu, peduli terhadap saudaranya dan orang lain yang membutuhkan. Kepedulian sosial mereka itu, tidak sia-sia di sisi Allah Swt.
” Wa maa anfaqtum min syai-in fa huwa yukhlifuhu, wa huwa khairur raaziqiina “.
Artinya : ” Apa apa saja yang kamu infakkan, Allah akan menggantinya dan Dialah pemberi rezeki terbaik”. (Q.S.34.39).
Allaahu Akbar, Allaahu Akbar, Allaahu Akbar wa lillaahilhamd !
Mereka yang berhajji tahun ini pun, adalah mereka yang telah berpuluh tahun melakukan ibadah puasa. Adapun tujuan dari berpuasa adalah pengendalian diri dari menurutkan hawa nafsu dan godaan setan durjana yang terkutuk. Dengan kemampuan dalam mengendalikan keinginan, kemauan hawa nafsu yang akan membawa shaa-imuun dan Shaa-imaat menjadi orang-orang yang bertakwa.
” Yaa ayyuhalladziina aamanuu kutiba ‘alaikumush shiyaamu kamaa kutiba ‘alal ladziina min qablikum la’allakum tattaquuna “.
Artinya : ” Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang yang ada sebelum kamu agar kamu bertakwa “. ( Q.S.2.183 ).
Allaahu Akbar, Allaahu Akbar, Allahu Akbar walillaahil hamd !
Kalau kita perhatikan dari kelima rukun Islam tersebut. Semuanya membutuhkan dana, uang untuk melakukan rangkaian ibadah. Hanya rukun Islam pertama saja yang tidak membutuhkan finansial, dana, keuangan untuk melakukannya.
Justeru itu umat Islam dituntut untuk menjadi orang yang takwa, orang kaya, orang berilmu, orang yang terampil, orang kuat, penguasa, orang sehat, orang yang semangat, orang yang bermartabat, punya harga diri dan berkualitas dunia akhirat.
Seperti disabdakan oleh Rasulullah Muhammad SAW :
” Al mukminul qawiyyu khairuw wa ahabbu ilallaahi minal mukminidh dha’iifi wa fiy kulli khairin “
Artinya : ” Seorang mukmin yang kuat lebih baik dan lebih disukai oleh Allah dari pada seorang mukmin yang lemah, dan pada setiapnya ada kebaikan “. ( H.R. Muslim ).
Berdasarkan hadis Rasulullah Muhammad SAW di atas, kalau ingin dicintai oleh Allah Swt umat Islam harus kuat pisik dan jiwanya, kuat keimanan ketakwaannya, kuat kesehatannya, kuat ekonominya, kuat ilmu pengetahuannya, kuat juga dalam berpolitik, sehingga tidak menjadi objek politik.
Umat Islam diharapkan sebagai penentu dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.
Allaahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar wa lillaahilhamd !
Nabi Ibrahim AS adalah seorang Nabi yang kuat aqidah tauhidnya, terkenal dengan keberaniannya, kejujurannya, keadilannya, ketaatannya, kepatuhannya, kesabarannya, keikhlasannya dan kecintaannya kepada Allah Swt. Seperti diabadikan Allah Swt dalam Al-Quran :
” Wadzkur filkitaabi Ibraahiima, innahuu kaana shiddiiqan nabiyyan. Idz qaala li abiihi Yaa abati lima ta’budu maa laa yasma’u wa laa yubshiru wa laa yughniy ‘ankaa syai-aa “. Yaa abati inniy qad jaa-a niy minal ‘ilmi maa lam yaktiika fattabi’niy ahdika shiraathan sawiyyan “.
Artinya : ” Dan ceritakanlah ( Muhammad ) kisah Ibrahim di dalam Kitab ( Al-Quran ), sesungguhnya dia seorang yang sangat mencintai kebenaran dan seorang nabi. ( Ingatlah ) ketika dia Ibrahim berkata kepada ayahnya, Wahai Ayahku! Mengapa engkau menyembah sesuatu yang tidak mendengar, tidak melihat dan tidak dapat menolongmu sedikit pun? Wahai Ayahku! Sungguh, telah sampai kepadaku sebagian ilmu yang tidak diberikan kepadamu, maka ikutilah aku, niscaya aku akan menunjuk- kan kepadamu jalan yang lurus “. ( Q.S.19.41-43 ).
Dalam ayat lain dijelaskan Allah Swt :
” Idz qaala li abiihi wa qaumihii maa dzaa ta’buduuna. A-ifkan aalihatan duunallaahi turiiduuna. Famaa zhannukum birabbil ‘aalamiina “.
Artinya : ” ( Ingatlah ) ketika dia berkata kepada ayahnya dan kaumnya, ” Apakah yang kamu sembah itu? Apakah kamu menghendaki kebohongan dengan sesembahan selain Allah? Maka bagaimana anggapan-mu terhadap Tuhan seluruh alam? “. ( Q.S. 37.85-87 ).
Setelah Nabi Ibrahim AS mengajak bangsa Babilonia yang penguasanya Raja Namruj. Seorang raja zalim, serakah, kejam kepada rakyatnya, yang tidak punya belas kasihan. Tidak mau melepaskan tampuk pimpinan kepada yang lain, ingin berkuasa seumur hidupnya.
Raja Namruj ini pembohong besar, suka membodohi rakyatnya, berlaku curang dan menyuruh rakyatnya menyembah berhala. Bahkan telah berani memproklamirkan diri sebagai tuhan penguasa alam.
Pada saat itulah Nabi Ibrahim AS dengan tekad kuat dan keberanian yang luar biasa, Nabi Ibrahim AS meruntuhkan hampir semua patung yang ada. Patung itu mereka jadikan berhala dan sembahan bagi rakyatnya.
Nabi Ibrahim AS menyisakan patung yang paling besar. Dengan alasan tatkala penyembah berhala itu, bertanya kepada Nabi Ibrahim AS siapa yang memporak porandakan patung, berhala sembahan kami? ” Nabi Ibrahim AS menjawab tanya-kanlah kepada patung besar itu kata Nabi Ibrahim AS “.
Berita pemusnahan patung itu sampai ke telinga Raja Namruj. Lalu Raja Namruj dengan sangat marah, memerintahkan para tentara dan rakyat Babilonia untuk menangkap dan membakar hidup-hidup Nabi Ibrahim AS. Jangan sampai Ibrahim dikasih ampun, tegas Raja Namruj.
Setelah unggunan api mereka siapkan, mereka menangkap Nabi Ibrahim AS seraya melemparkannya ke dalam api unggun yang tengah menyala dan ditambah lagi dengan minyak. Nabi Ibrahim AS sepertinya tidak gentar dan tidak takut, beliau santai saja. Hal ini disebabkan oleh kekuatan aqidah tauhid yang dimilikinya.
Bahwa perjuangan yang dilakukan oleh Nabi Ibrahim AS adalah dalam rangka untuk menyelamatkan umat manusia dari kemusyrikan, menyembah berhala dan mengkultuskan individu. Bahkan Raja Namruj memproklamirkan diri sebagai tuhan, menguasai seluruh wilayah Babilonia dan tidak mau turun tahta, ingin berkuasa selamanya. Tetapi apa dikata, keajaiban muncul tiba-tiba membuat Raja Namruj terkejut, Nabi Ibrahim AS selamat tanpa cedera.
Setelah api padam Nabi Ibrahim AS keluar dengan santai, dalam keadaan segar dan bugar tidak sehelai rambut pun yang terbakar, kulitnya tak terjamah oleh api yang membara.
Kiranya Allah Swt tidak membiarkan kekasihnya Nabi Ibrahim AS yang bergelar Khalilullah itu, disentuh oleh api yang membara. Api yang biasanya membakar, tidak mempan dan tidak berlaku untuk menghanguskan Nabi Ibrahim AS. Kisah ini dijelaskan Allah Swt dalam Al-Quran :
” Qulnaa yaa naaru bardaw wa salaaman ‘alaa Ibraahiima “.
Artinya : ” Kami ( Allah ) berfirman : ” Wahai api! Jadilah kamu dingin dan penyelamat bagi Ibrahim “. ( Q.S.21.68-69 ).
Allah Swt tidak akan menyia-nyiakan hamba-Nya yang taat patuh, jujur, berani, sabar, santun, suka kebenaran dan keadilan. Allah Swt memberikan mukjizat bagi Nabi Ibrahim AS api yang biasanya membakar, menjadi dingin dan menyejukkan, itulah yang dialami Nabi Ibrahim AS.
Allaahu Akbar, Allaahu Akbar, Allaahu Akbar wa lillaahilhamd !
Nabi Ibrahim AS tidak takut dengan penguasa zalim Raja Namruj. Nabi Ibrahim AS tetap mendakwahkan agama tauhid, agar umat manusia menyembah Allah Swt, bukan menyembah patung yang tidak bisa berbuat apa-apa. Kemudian Nabi Ibrahim AS meneruskan perjalanan hidupnya yang semakin menua bersama dua orang isteri tercintanya.
Dalam usia 80 tahun Nabi Ibrahim AS didampingi isterinya, Siti Sarah dan Siti Hajar belum juga mendapatkan keturunan seorang anak sibiran tulang untuk melanjutkan perjuangan agama tauhid, menegakkan kebenaran, keadilan dan mewujudkan masyarakat yang adil, makmur dan sejahtera lahir batin.
Nabi Ibrahim AS tidak pernah merasa lelah dalam berjuang, tidak pula putus asa, apalagi merasa bosan, karena do’a-do’anya untuk mendapatkan seorang anak belum dikabulkan Allah Swt.
Namun Nabi Ibrahim AS tetap berdo’a dan berdo’a setiap waktu, dengan penuh keikhlasan dan kesabaran yang tinggi.
” Rabbi habliy minash shaalihiina “
Artinya : ” Ya Tuhanku, anugerahkanlah kepadaku ( seorang anak ) yang termasuk anak yang saleh ” ( QS.37.100 ).
Berkat kesabaran, kegigihan dan penuh harap akan lahirnya seorang anak yang saleh. Alhamdulillah, Nabi Ibrahim AS mendapatkan kabar gembira dari dari Malaikat Jibril, bahwa akan lahir seorang anak yang penyantun.
” Fabasy-syarnaahu bighulaamin haliimin “
Artinya : ” Maka Kami beri kabar gembira kepadanya dengan ( kelahiran ) seorang anak yang sangat sabar ( Ismail ) “. ( Q.S. 37.101 ).
Allah Swt sangat sayang kepada hamba-Nya Nabi Ibrahim AS yang selalu berdo’a, mendambakan lahirnya seorang putera yang saleh. Akan tetapi Allah Swt Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang mengabulkan do’a, permintaan Nabi Ibrahim AS lebih baik dari yang diharapkan oleh hamba-Nya itu.
Allah Swt menganugerahi Nabi Ibrahim AS seorang anak yang halim, yang lebih baik dari anak saleh. Karena kata saleh itu termasuk umum, berarti baik. Sedangkan kata halim berarti : sabar, rendah hati, ramah tamah, cerdas, lincah dan santun.
Alhamdulillah wa syukrulillahi, Nabi Ibrahim AS sangat senang dan bahagia sekali, dengan telah hadirnya seorang anak laki-laki yang halim, sibiran tulang ubek jarieh palarai damam.
Puteranya Ismail mendapatkan perhatian penuh oleh Ayah dan Ibunya, diberikan asupan gizi yang sempurna, menu yang bervariasi diberikan oleh Ibunya Siti Hajar. Sang anak berkembang pesat jasmaninya, juga perumtumbuhan rohani, sikap dan karakter pun berjalan baik dan seimbang, sesuai dengan usianya. Bahkan, Nabi Ismail AS terlihat sudah dewasa karakter, kepribadiannya, dibandingkan usianya.
Allaahu Akbar Allaahu Akbar, Allaahu Akbar wa lillaahilhamd !
Tatkala usia Nabi Ismail AS berangkat remaja dan telah bisa membantu Ayahnya bekerja. Nabi Ibrahim AS bermimpi beberapa malam berturut-turut, dalam mimpinya, Nabi Ibrahim AS menyembelih putera semata mayangnya Ismail AS. Lama juga Nabi Ibrahim AS termenung, merenungkan dan memikirkan mimpi yang dialaminya secara seksama.
Sebenarnya Nabi Ibrahim AS sudah paham dan mengerti bahwa mimpinya seorang Nabi itu adalah ” Rukyatun shadiqatun ” yaitu ” mimpi yang benar “. Hal ini juga pernah dijelaskan oleh Rasulullah Muhammad SAW :
“Aan ‘Abbasin RA Qaala, Qaala Rasulullah SAW :
” Rukyal Anbiyaa-i fil manaami wahyi “
Artinya : ” Mimpi para Nabi dalam tidur itu adalah wahyu ” ( H.R. IbnuAbbas ).
Nabi Ibrahim AS adalah seorang Nabi yang sarat dengan pengalaman dalam hidup kehidupannya. Sejak kecil sudah terbiasa menghadapi ujian dan cobaan. Apakah cobaan itu yang menyangkut dengan Ayahnya Azar, seorang Tokoh Pematung, penyembah berhala yang sampai akhir hayatnya tidak sempat menerima dakwah Nabi Ibrahim AS untuk menganut aqidah tauhid, mengesakan Allah Swt.
Meskipun demikian Nabi Ibrahim AS tetap berbaikan dengan Ayahnya dan tetap santun. Bahkan Nabi Ibrahim AS berjanji untuk mendo’akan Ayahnya agar terlepas dari api neraka. Akan tetapi ajakan Nabi Ibrahim AS tidak digubris oleh Ayahnya. Sehingga, akhirnya Nabi Ibrahim AS menyadari tidak mungkin lagi mendo’akan orang yang musyrik dan kafir, meskipun Ayahnya sendiri.
Dalam memperjuangkan kebenaran, menegakkan agama tauhid, agar umat manusia menyembah Allah Swt yang menciptakan segala apa yang ada. Bahkan Nabi Ibrahim AS menghancurkan patung-patung yang ada di waktu itu. Sehingga membuat marah besar Raja Namruj beserta rakyatnya bangsa Babilonia. Nabi Ibrahim AS ditangkap dan dilemparkan ke dalam kobaran api yang menyala.
Setelah berhasil melalui ujian yang berat, yang taruhannya jiwa raga dan berpisah dengan Ayahnya sendiri. Kemudian datang lagi ujian yang sangat berat bagi keluarga Nabi Ibrahim AS. Nabi Ibrahim AS diperintahkan Allah Swt untuk menyembelih putera semata mayangnya, putera satu-satunya Nabi Ismail AS untuk mendapatkan seorang anak, alangkah lamanya menunggu di usia beliau yang sudah berusia lanjut 86 tahun.
Dalam usia sangat tua itulah Ibrahim AS dianugerahi Allah Swt anak kandung sibiran tulang untuk melanjutkan perjuangan agama tauhid, mengesakan Allah Swt dalam semua tindak tanduk dalam hidup dan kehidupan ini.
Allaahu Akbar, Allaahu Akbar, Allaahu Akbar wa lillaahilhamd !
Pada waktu inilah Nabi Ibrahim AS memperlihatkan kehebatannya, kesabaran dan keikhlasannya, terutama kecintaan-Nya kepada Allah Swt tengah diuji dengan kecintaannya terhadap anak tersayang Nabi Ismail AS yang ganteng, cerdas, rendah hati, ramah tamah, sangat sabar dan penyantun.
Nabi Ibrahim AS diperintahkan Allah Swt menyembelih putera semata mayang, yang diharapkan sebagai pelanjut perjuangan agama tauhid.
Sebagai seorang Ayah yang demokratis, yang suka bermusyawarah, tidak mau memutuskan suatu perkara, tanpa membawa serta anggota keluarga. Inilah perintah Allah Swt tersebut dalam Al-Quran :
” Falammaa balagha ma’ahus sa’ya qaala yaa bunayya inniy araa fil manaami anniy adzbahuka fanzhur maa dzaa taraa. Qaala Yaa aabatif’al maa tukmaru satajiduniy Insya Allahu minash shaabiriina “.
Artinya : ” Maka ketika anak itu sampai ( pada umur ) sanggup berusaha bersamanya, ( Ibrahim ) berkata, ” Wahai anakku! Sesungguhnya aku bermimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah bagaimana pendapatmu! “. Dia ( Ismail ) menjawab, ” Wahai ayahku! Lakukanlah apa yang diperintahkan ( Allah ) kepadamu; Insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang yang sabar “. ( Q.S.37.102 ).
Subhaanallaah … Allahu Akbar, luar biasa jawaban sianak. ” Wahai ayahku! Lakukanlah apa yang diperintahkan Allah kepadamu “. Mendengarkan jawaban yang tegas, lantang dari Nabi Ismail AS membuat para setan dan komunitasnya terperanjat.
Lalu para setan segera berkumpul membuat strategi yang jitu, bagaimana keluarga Nabi Ibrahim AS dipecah konsentrasinya, agar perintah Allah Swt kepada Nabi Ibrahim AS untuk menyembelih puteranya Nabi Ismail AS dapat digagalkan.
Para setan menemui Nabi Ibrahim AS, Wahai Ibrahim apakah kamu memang sudah gila benaran? Kenapa anak satu-satunya, anak kesayangan, sibiran tulang ubek jarieh palarai damam itu, akan kamu habisi nyawanya?
Nabi Ibrahim AS terkesima dan menyadari kedatangan para tokoh setan ini, lalu dilempari Nabi Ibrahim AS dengan batu kerikil sambil menyebut ” Bismillah Allaahu Akbar ” Mendengar kalimah thayyibah ini disampaikan Nabi Ibrahim AS, akhirnya para tokoh setan lari tunggang langgang.
Setelah gagal menggoda Nabi Ibrahim AS, kemudian tokoh-tokoh setan ini menemui Siti Hajar Ibunya Nabi Ismail AS. Wahai Siti Hajar! Apakah kamu juga ikut gila, kenapa seorang Ibu, membiarkan anak tersayang, anak satu-satunya kok dibiarkan dibunuh oleh Ayahnya sendiri?
Siti Hajar pun sudah siaga dengan kedatangan para tokoh setan. Dengan sigap dan tepat waktu, Siti Hajar menghajar para setan, dengan melemparinya dengan batu kerikil dengan ucapan Bismillah Allaahu Akbar!
Mendengar kalimah thayyibah Bismillah Allaahu Akbar, para tokoh setan itu lari terbirit-birit dan pergi menjauh, mereka takut sekali dengan kalimah thayyibah.
Allaahu Akbar, Allaahu Akbar, Allaahu Akbar wa lillaahilhamd !
Bagaimana pun kondisinya yang namanya setan dan iblis, tidak pernah putus asa untuk menggoda manusia, agar manusia tergelincir dari jalan Allah Swt. Bahkan setan dan iblis telah berjanji, bermohon langsung kepada Allah Swt agar kelompok setan dan iblis diberikan kesempatan untuk menggoda anak cucu Adam sampai hari kiamat.
Permohonan setan iblis ini pun dikabulkan Allah Swt, akan tetapi bagi hamba Allah yang beriman, istiqamah, penuh kesabaran dan ikhlas tidak akan bisa ditaklukkannya.
Tiada kata gagal bagi setan, langkah terakhir bagi para tokoh setan tertuju kepada Nabi Ismail AS, yang beberapa detik lagi akan disembelih oleh Ayahnya sendiri Nabi Ibrahim AS. Setan menyapa, Wahai Ismail! Anak ganteng, cerdas, hebat dan terampil! Kenapa engkau mau saja disembelih oleh Ayahmu yang telah gila dan pikun itu? Kenapa kamu tidak melawan, meronta-ronta, menangis, meringis histeris?
Nabi Ismail AS menyadari yang datang itu adalah setan iblis. Dengan secepat kilat Nabi Ismail AS lalu memukul mundur setan iblis dengan sekuat tenaganya, seraya mengucapkan Bismillah Allaahu Akbar!
Subhaanallaah, Allaahu Akbar, setan dan iblis tidak mampu mengendalikan dan menyesatkan keluarga Nabi Ibrahim AS, meskipun dengan berbagai macam cara. Kemudian Nabi Ibrahim AS telah bersiap-siap untuk melakukan eksekusi, dengan merebahkan pelipis puteranya dan Nabi Ismail AS pun sudah siap, dengan mata ditutup kain dan membuka bajunya untuk dijadikan kain kafan. Keduanya sudah pasrah, ikhlas melakukan perintah Allah.
Tatkala Nabi Ibrahim AS mencabut pisau dari sarungnya dan segera menghunuskan ke leher putera kesayangannya Nabi Ismail AS. Sekonyong-konyong tiba suara dari belakang, kiranya sumber suara adalah Malaikat Jibril. Hal ini diabadikan Allah Swt dalam Al-Quran :
” Falammaa aslamaa wa tallahuu liljabiini. Wa naadainaahu ay yaa Ibraahiimu qad shadaqtar rukyaa, innaa kadzaalika najzil muhsiniina. Inna haadzaa lahuwal balaa-ul mubiinu. Wa fadainaahu bidzibhin ‘azhiimin “.
Artinya : ” Maka ketika keduanya telah berserah diri dan dia ( Ibrahim ) membaringkan anaknya atas pelipisnya, ( untuk melaksanakan perintah Allah). Lalu Kami panggil dia, Wahai Ibrahim! Sungguh, engkau telah membenarkan mimpi itu. Sungguh, demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata. Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar “. ( Q.S.37.103-108 ).
Allaahu Akbar, Allaahu Akbar, Allaahu Akbar wa lillaahilhamd !
Nabi Ibrahim AS bersama isterinya Siti Hajar dan putera tercintanya Nabi Ismail AS telah lulus dengan nilai tertinggi setelah mengikuti ujian demi ujian yang sangat berat dengan penuh keimanan, kepatuhan, kesabaran dan keikhlasan.
Akhirnya Allah Swt mengganti sembelihan Ismail AS dengan sembelihan yang besar berupa seekor kambing, domba besar. Sejak peristiwa inilah awal mula disyariatkan oleh Allah Swt penyembelihan hewan ternak sebagai kurban pada hari ini dan dilanjutkan pada tgl 11, 12 dan 13 Zulhijjah setiap tahun sampai akhir zaman.
Allaahu Akbar, Allaahu Akbar, Allaahu Akbar wa lillaahilhamd !
Bagi kita yang tidak ikut berhajji pada tahun ini, Allah Swt memberikan kesempatan dan kemampuan untuk melakukan ibadah kurban, dengan menyembelih binatang ternak. Apakah itu Unta, kerbau, sapi atau kambing.
Sebagai ibadah sunat muakkad, yang sangat dianjurkan oleh Allah Swt dan Rasulullah Muhammad SAW. Sebagaimana firman Allah Swt dalam Al-Quran :
“Innaa a’thainaa kal kautsara, fashalli lirabbika wanhar innasyaa-niaka huwal abtaru “.
Artinya : ” Sungguh, Kami telah memberimu ( Muhammad ) nikmat yang banyak. Maka laksanakanlah shalat karena Tuhanmu dan berkurbanlah ( sebagai ibadah dan mendekatkan diri kepada Allah ). Sungguh, orang-orang yang membencimu dialah yang terputus ( dari rahmat Allah “. ( Q.S.108.1-3 ).
Sementara itu Rasulullah dengan tegas menyatakan ” Barang siapa yang punya kesempatan untuk berkurban, tetapi mereka tidak melakukannya, maka janganlah dihampiri tempat shalat kami “.
Adapun tujuan berkurban adalah untuk beribadah dan mendekatkan diri kepada Allah Swt dengan meningkatkan kepedulian sosial terhadap orang-orang yang ada di sekitar kita, saudara kandung, senasab, karib kerabat, tetangga, kolega yang dhu’afa wal masaakin dan lainnya.
Pada intinya hikmah pengurbanan yang dilakukan oleh keluarga Nabi Ibrahim AS bagaimana kita bisa lebih mencintai Allah Swt dari pada diri sendiri, keluarga, sanak saudara, teman, jabatan, harta dan kedudukan.
Apa pun yang kita lakukan, meskipun secara kasat mata terlihat amal kebaikan, yang bernilai ibadah. Akan tetapi kita sering tertipu, karena amal kebaikan itu bukanlah karena Allah Swt. Termasuklah ibadah kurban yang dilakukan pada tahun ini, jangan sampai sia-sia, tidak bernilai ibadah di sisi Allah. Karena daging dan darah yang tumpah itu tidak akan sampai kepada Allah Swt. Tetapi yang akan sampai kepada Allah itu adalah keikhlasan dan ketakwaanmu. Sebagaimana firman Allah Swt :
” Layyanaalallaaha luhuumuhaa wa laa dimaa-uhaa wa laakiy yanaaluhut taqwaa minkum “.
Artinya : ” Daging ( hewan kurban ) dan darahnya itu sekali-kali tidak akan sampai kepada Allah, tetapi yang sampai kepada-Nya adalah ketakwaan kamu “. ( Q.S.22.37 ).
Demikianlah khutbah Idul Adh-ha 1447 H semoga bermanfaat, aamiiin, wassalam
Penulis adalah Aktivis Dakwah, Pendidikan, Pemerhati Sosial dan terakhir Kakan Kemenag Dharmasraya. *)
