Oleh: Nurul Jannah*)
Ada masa ketika kita merasa diri kita paling kuat.
Mampu membelah gunung. Membendung sungai. Menebang hutan dalam hitungan hari. Mengeruk isi bumi hingga jauh ke perut tanah.
Lalu perlahan kita mulai percaya, bahwa alam akan selalu sanggup menerima seluruh luka yang ditinggakan.
Padahal mungkin, bumi selama ini hanya diam dan bertahan lebih lama daripada yang mampu kita bayangkan.
Dan sering kali, kita baru benar-benar menoleh kepada lingkungan, ketika udara mulai terasa sesak, ketika sungai mulai berubah keruh, ketika banjir datang tanpa aba-aba, atau ketika anak-anak tumbuh tanpa pernah sungguh-sungguh mengenal langit yang bersih.
Kerusakan lingkungan jarang lahir dalam satu malam.
Ia datang perlahan. Nyaris tanpa suara.
Satu pohon ditebang.
Satu sungai dicemari.
Satu bukit diratakan.
Satu limbah dilepaskan tanpa peduli akibatnya.
Dan, satu keputusan dibuat dengan mengorbankan keselamatan alam demi keuntungan yang terasa lebih mendesak.
Lalu semuanya berjalan seperti biasa, sampai suatu hari kita tersadarkan bahwa yang hilang ternyata jauh lebih besar
daripada yang pernah dibayangkan.
Lingkungan sebenarnya selalu hadir sangat dekat dengan kehidupan kita.
Ia hadir dalam udara yang dihirup setiap pagi.
Dalam air yang diminum tanpa banyak dipikirkan.
Dalam tanah tempat makanan tumbuh.
Dalam hujan yang dahulu terasa menenangkan.
Dalam pohon-pohon tua yang tetap memberi teduh bahkan kepada mereka yang tidak pernah menjaganya.
Karena itu, ketika lingkungan terluka, yang sesungguhnya ikut retak bukan hanya alam.
Tetapi kehidupan kita sendiri.
Mungkin yang paling menyedihkan, kerusakan lingkungan sering datang bersamaan dengan pudarnya rasa peduli.
Mulai terbiasa melihat sungai dipenuhi sampah.
Mulai terbiasa menghirup udara yang tidak sehat.
Mulai terbiasa melihat hutan hilang berganti deretan beton.
Seolah semua itu bagian wajar dari kemajuan.
Padahal ada banyak hal di bumi ini yang ketika hilang, tidak selalu mampu kembali.
Ada mata air yang mengering selamanya.
Ada spesies yang punah tanpa sempat dikenali.
Ada hutan yang membutuhkan puluhan bahkan ratusan tahun untuk pulih.
Dan ada generasi yang mungkin tumbuh
tanpa pernah merasakan lingkungan sebaik yang pernah dimiliki orangtuanya dahulu.
Lingkungan tidak pernah meminta kehidupan berhenti berkembang,
Tidak juga meminta manusia kembali ke masa lalu.
Tetapi mungkin bumi hanya berharap, kita tetap memiliki batas.
Tetap memiliki hati.
Tetap mampu membedakan mana kebutuhan dan mana keserakahan.
Karena pembangunan yang baik bukan hanya tentang apa yang berhasil berdiri hari ini, tetapi juga tentang: apakah kehidupan masih dapat bertahan dengan layak setelah seluruh pembangunan itu selesai.
Masih ada orang-orang yang diam-diam menjaga bumi dengan caranya sendiri.
Menanam pohon tanpa banyak bicara.
Membersihkan sungai tanpa menunggu pujian.
Mengurangi kerusakan meski terasa kecil.
Mengajarkan anak-anak untuk mencintai alam sejak dini.
Mungkin nama mereka tidak pernah muncul di berita.
Namun dari tangan-tangan sederhana seperti itulah, harapan tentang lingkungan tetap hidup.
Karena menjaga bumi bukan tentang menjadi pahlawan besar.
Kadang cukup dengan tidak ikut menambah luka.
Dan mungkin, yang paling menggetarkan bukan ketika alam mulai berubah.
Melainkan ketika kita perlahan menyadari
bahwa selama ini bumi terus memberi kehidupan,
bahkan saat dirinya sendiri sedang terluka.
Suatu hari nanti, barangkali kita akan benar-benar memahami:
Uang tidak mampu menggantikan udara bersih.
Gedung tinggi tidak bisa menggantikan hutan yang hilang.
Teknologi tidak selalu sanggup menghidupan kembali sungai yang mati.
Dan, kemajuan tidak akan banyak berarti ketika kita kehilangan tempat yang layak untuk pulang.
Karena pada akhirnya, lingkungan bukan hanya tentang alam.
Ia adalah tentang kehidupan.
Tentang rumah.
Tentang masa depan.
Dan tentang apakah kita masih memiliki cukup cinta untuk menjaga bumi, yang selama ini diam-diam selalu menjaga kita.💕
Jakarta, 25 Mei 2026🧡
Nurul Jannah adalah seorang dosen lingkungan di IPB University, lulusan doktor lingkungan dari Hiroshima University, penulis produktif, dan penggerak literasi*)
