Oleh: Shintalya Azis*)
Rosidah membaca ulang dokumen di tangannya. Wajahnya menunduk, tetapi matanya sesekali melirik ke kanan dan ke kiri, memastikan tidak ada yang memperhatikannya.
Sikapnya justru menarik perhatianku.
“Ada apa gerangan dengan anak ini?” pikirku.
Tak lama kemudian, Rosidah menghampiriku. Sambil menyerahkan dokumen, ia berkata setengah berbisik, “Maaf, Bu. Ini laporan pertanggungjawaban pembelian alat olahraga kemarin.”
Aku menerima dokumen itu. Sekilas tidak ada yang aneh. Nilai laporan sesuai dengan dana yang telah ditransfer langsung ke rekening toko. Artinya, pengeluaran tampak sama persis dengan pengajuan. Semua terlihat jelas. Namun, mengapa ia tampak begitu gelisah?
“Apakah ini sudah lengkap?” tanyaku santai, meski dengan nada sedikit menyelidik.
Rosidah tampak ragu.
“Hmmm… anu, Bu. Sebenarnya kami mendapat diskon dari toko itu. Tapi tidak saya masukkan di laporan karena diberikan secara tunai.”
“Halo?” tanyaku kaget. “Jadi ada pengembalian dari toko?”
“Iya, Bu. Makanya saya bingung. Kita bayar lewat transfer, tetapi tiba-tiba ada pengembalian tunai karena mendapat diskon.”
Aku menarik napas pelan, lalu berkata tegas, “Kalau begitu, ubah laporan ini. Laporkan secara jujur. Cantumkan jumlah potongan diskon yang kita terima, lalu setor kembali ke perusahaan.”
Aku menatapnya sejenak sebelum melanjutkan, “Jangan sampai menjadi nila setitik yang merusak susu sebelanga. Kejujuran tidak boleh tumbang hanya karena sesuatu yang terlihat kecil.”
Rosidah mengangguk pelan. Wajahnya tampak lebih lega. Mungkin, hari itu ia belajar bahwa integritas sering kali diuji bukan dalam perkara besar, melainkan dari hal-hal kecil yang tampak sepele. (*)
#33DaysIntegrityChallange #AksiKita #LawanKorupsi #BiasakanYangBenar IG: @aclc.kpk
Penulis Gemar Menulis tentang Kehidupan, Budaya, dan Kisah-kisah Kecil yang Menginspirasi.*)
